SUMUTNEWS.CO, Jakarta – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan para pemimpin dari 12 negara Arab dan Islam yang berlangsung pada Selasa, 22 September 2026, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, membuahkan sejumlah poin krusial terkait keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) serta Mesir, Irak, Yordania, Lebanon, Suriah, dan Turki. Delegasi Arab Saudi diwakili oleh Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan.
Berikut adalah laporan lengkap hasil pertemuan tersebut:
- Desakan Solusi Politik Antara AS dan Iran
Negara-negara Teluk menegaskan bahwa konflik bersenjata yang tereskalasi sejak akhir Februari 2026 bukanlah perang yang mereka inginkan.
Dampak aksi balasan Iran serta ancaman terhadap jalur pelayaran vital mendorong para pemimpin kawasan untuk mendesak lahirnya penyelesaian politik yang mengikat antara Washington dan Teheran.
- Kombinasi Tekanan Ekonomi dan Diplomasi Senyap
Dalam forum tersebut, Trump memuji kemitraan negara-negara Arab dan berjanji mengupayakan kawasan Timur Tengah yang lebih aman.
Di sisi lain, Trump memaparkan klaim keberhasilan Operation Economic Outcast yang melumpuhkan keuangan Teheran.
Menurut data analisis Kpler, pemuatan minyak mentah Iran anjlok drastis menjadi sekitar 260 ribu barel per hari dari sebelumnya 1,7 juta barel per hari.
Kendati Trump sempat mengeluarkan gertakan keras dalam pidatonya di PBB, jalur negosiasi dilaporkan tetap berjalan.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menggelar pembicaraan dengan pihak perantara Iran pada hari yang sama.
- Keamanan Selat Hormuz Jadi ‘Garis Merah’
Gangguan pada Selat Hormuz dan Bab Al-Mandab menjadi perhatian paling krusial bagi negara-negara Teluk karena dampaknya yang langsung merusak sistem ekonomi dan rantai pasok energi global.
Penegasan bahwa pemulihan kondisi navigasi di Selat Hormuz seperti sebelum eskalasi 28 Februari 2026 merupakan “garis merah” bagi negara-negara GCC.
Hal ini sejalan dengan pernyataan bersama menteri luar negeri negara G7 dan Uni Eropa yang mengutuk serangan kelompok Houthi serta mendesak Iran menghentikan pasokan senjata kepada kelompok tersebut.
- Kelanjutan Kerangka Kerja Sama Gaza
Selain isu Iran dan navigasi laut, Trump menyoroti pentingnya melanjutkan kerja sama diplomasi terkait Gaza. Setelah pembentukan Dewan Perdamaian ( _Board of Peace)_ pada sidang PBB tahun sebelumnya, fokus utama kini bergeser pada implementasi, rekonstruksi kawasan, serta tata kelola pemerintahan Palestina.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengonfirmasi bahwa seluruh utusan dalam pertemuan tersebut sepakat untuk terus memperkuat jalur politik dan diplomatik guna meredakan ketegangan serta mencegah perluasan konflik di kawasan. (SN17)