Sumutnews.co, Rawalpindi — Militer Pakistan menyatakan bersikap “optimistis secara hati-hati” terhadap proses mediasi yang tengah diupayakannya antara Iran dan Amerika Serikat guna meredakan perang yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara militer Pakistan pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Hubungan Masyarakat Antar-Lembaga (ISPR) Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry mengungkapkan sinyal positif itu dalam wawancara perdananya sejak delegasi tingkat tinggi bertolak ke Teheran awal pekan ini.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir, yang menjadi mediator utama, telah melawat ke Teheran dua kali sepanjang Oktober 2026. Kunjungan teranyar berlangsung pada Senin bersama Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin.
“Mengapa Field Marshal berkunjung dua kali jika bukan karena adanya hal yang positif? Jadi ya, tentu saja,” ujar Chaudhry di Markas Besar Angkatan Bersenjata Pakistan di Rawalpindi, Jumat, 30 Oktober 2026.
“Kata yang selalu kami gunakan adalah optimistis secara hati-hati.”
Kendati demikian, Chaudhry menggarisbawahi masih adanya pihak-pihak perusak dan penentang (spoilers and detractors) kuat yang menganggap eskalasi konflik menguntungkan kepentingan mereka. Ia menolak membeberkan substansi pembahasan maupun konfirmasi perihal keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam mendukung lawatan tersebut.
Kunjungan gabungan tersebut menyusul pakta pertahanan bersama yang diteken Pakistan, Arab Saudi, dan Turki pada 7 Agustus 2026.
Kesepakatan bertajuk Makkah Joint Defense Agreement itu menetapkan klausul bahwa agresi terhadap salah satu negara penandatangan akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Menanggapi pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei bahwa stabilitas regional harus dikelola tanpa intervensi asing, Chaudhry menegaskan isi pakta pertahanan Makkah tidak menutup pintu bagi negara lain, termasuk Iran.
“Siapa pun yang memiliki kesamaan visi mengenai pencegahan kolektif (collective deterrence) dan perdamaian regional, mengapa tidak? Semua pihak disambut baik,” kata Chaudhry, seraya menambahkan keputusan akhir berada di tangan para pemimpin politik ketiga negara pelopor.
Mengenai potensi pengiriman pasukan tambahan Pakistan ke Arab Saudi di bawah naungan perjanjian militer tersebut, Chaudhry menyatakan keputusan akan bergantung pada perkembangan situasi dan arahan politik kedua negara.
Ia menegaskan komitmen penuh Islamabad untuk melindungi kedaulatan wilayah Arab Saudi serta dua kota suci Makkah dan Madinah, seraya menegaskan batasan keterlibatan militer Pakistan.
“Kami bukan bagian dari konflik Yaman, yang merupakan perang internal antarfaksi di Yaman,” ujarnya. (SN17)