SumutNews.co, Jakarta — Kelompok milisi Houthi melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Bandara Internasional Aden, Yaman, pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi pertempuran di wilayah barat Yaman yang memaksa lebih dari 200 ribu warga mengungsi.
Dua Rudal Hantam Area Landasan Pacu
Kementerian Perhubungan Yaman mengonfirmasi dua rudal balistik jatuh di dekat landasan pacu (tarmac), hanya beberapa menit sebelum pesawat Yemenia Airways dijadwalkan mendarat. Selain rudal, beberapa drone milik Houthi terdeteksi melintas di atas kawasan udara Aden.
Otoritas penerbangan segera mengalihkan pesawat rute Kairo–Aden menuju Jeddah, Arab Saudi. Dua armada pesawat yang terparkir di bandara turut dipindahkan ke lokasi aman demi mengantisipasi serangan susulan.
“Ini adalah serangan terang-terangan terhadap fasilitas sipil vital yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para pelancong dan staf,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Perhubungan Yaman, dikutip dari Arab News.
Wakil Menteri Luar Negeri Yaman, Mustafa Noaman, mengecam keras aksi tersebut. Ia menilai Houthi sengaja menyasar salah satu akses transportasi tersisa bagi warga yang membutuhkan bantuan medis maupun pelajar.
Operasi Balasan ‘Dawn of Yemen’
Serangan ke bandara bertepatan dengan sengitnya pertempuran di dekat Selat Bab Al-Mandab dan pinggiran Kota Taiz. Pemerintah Yaman melancarkan counteroffensive berskala besar bertajuk Dawn of Yemen (Fajar Yaman).
Pasukan milisi pro-pemerintah, Giants Brigades, mengklaim telah merebut dan mengamankan jalan utama yang menghubungkan Distrik Thubab dengan Mokha. Di sisi lain, unit Nation’s Shield Forces berhasil menguasai puncak strategis di Jabal Habashi guna mengamankan jalur pesisir Laut Merah.
Krisis Kemanusiaan dan Pengepungan Taiz
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan jumlah pengungsi akibat gelombang kekerasan sejak Agustus 2026 kini telah menembus 201.217 jiwa. Wilayah Taiz menjadi kawasan terdampak paling parah, menyumbang 57 persen dari total pengungsi.
Akses jalan terakhir yang menghubungkan Taiz dengan wilayah kekuasaan pemerintah terputus akibat pertempuran sengit. Kondisi pengepungan ini memicu lonjakan harga bahan pokok serta kelangkaan bahan bakar di tingkat masyarakat.
Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, menegaskan bahwa warga sipil berada dalam kondisi kian terdesak. “Masyarakat berlari menyelamatkan diri dan tidak menemukan tempat yang aman,” ujarnya. (SN17)