SUMUTNEWS.CO, MEDAN – Aktivitas industri pertambangan selalu dikaitkan dengan eksploitasi sumber daya alam. Alat berat dioperasikan untuk mengeruk hasil bumi yang berdampak buruk terhadap alam. Ternyata di balik itu semua ada BUMN Holding Industri Pertambangan yang tidak melakukan penambangan secara langsung justru memiliki kepedulian tinggi terhadap alam.
Memelihara alam merupakan bagian penting dalam mengelola bisnis, jadi kepedulian terhadap alam tidak lagi diukur dari siapa yang paling banyak menghasilkan dampak. Prinsip itu yang dipegang PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), sebagai kontribusi menjaga alam demi keberlangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati dan generasi mendatang.
Sejak tahun 2023 lebih dari 1.700 pohon yang dibudidaya PT Inalum melalui program keanekaragaman hayati di Taman Kehati (Taman Keanekaragaman Hayati) Paritohan, Kabupaten Toba. Kepedulian tentang pelestarian alam juga dilakukan demi menjaga keindahan danau melalui program konservasi yang fokus pada air dan hutan di kawasan Daerah Tangkap Air (TDA) Danau Toba.
Ada empat fokus Utama dari program TDA Danau Toba yakni konservasi air, konservasi lahan, konservasi hutan dan penguatan kapasitas masyarakat. Pada 2025 lalu PT Inalum sudah melakukan konservasi di daerah sekitar Danau Toba seperti membangun 10 ribu biopori, 500 unit sumur resapan, 15 unit sumur injeksi, sekolah peduli lingkungan, penanaman 420 ribu pohon, pembangunan 3 unit kebun bibit rakyat berkapasitas 50 ribu per tahun, pencegahan karhutla.
“Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan, Inalum berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan,” kata Ka-Grup Layanan Strategis Inalum, Daniel Hutahuruk melalui keterangannya.

Pemetaan spesies yang masuk daftar merah International Union for Conservation fo Nature (IUCN) juga dilakukan PT Inalum. Identifikasi dilakukan untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat. Perlindungan dan rehabilitasi juga dilakukan di Pesisir Pantai Sejarah, Pantai Perjuangan, Kabupaten Batu Bara.
Eksosistem di kawasan pesisir juga turut dijaga PT Inalum melalui program Pohon Asuh. Di mana perusahaan mendorong pertumbuhan mangrove dan memperluas partisipasi sebagai pemangku kepentingan melalui skema adopsi.
Sepanjang 2015 PT Inalum bersama masyarakat di kawasan pesisir Batu Bara menanam lebih dari 15 ribu bibit mangrove. Harapannya kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi lingkungan meningkat dan berkelanjutan.
“Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan,” lanjut Daniel.
Program konservasi ekosistem maritim juga dilakukan di kawasan Pesisir Batu Bara dengan membuat program edukasi publik burung migran air yang setiap tahun singgah di Desa Lalang dan Desa Prupuk. Kawasan yang berdekatan dengan Smelter Kuala Tanjung setiap tahun disinggahi 30 jenis burung migran yang sedang melakukan migrasi dari belahan bumi Utara ke Selatan.
“Konservasi merupakan bagian penting dari komitmen Inalum dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan,” kata Direktur Strategic Support & Human Capital, Benny Wiwoho.
Demi merawat siklus tahunan tersebut Program Ekowisata Bird Wathcing kepada masyarakat sekaligus melakukan sosialisasi Peraturan Desa tentang Perlindungan Burung Air Bermigrasi kepada publik dibuat PT Inalum. Burung air sendiri terancam punah, penyebabnya migrasi dengan garis pantai mencapai 55,9 km.
“Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ungkapnya.(SN01)






Komentar