Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *
Kekuasaan itu memang mirip toples gula yang ditaruh terbuka di atas meja makan. Mau sekeras apa pun seekor semut menjaga harga diri, atau sesumbar bersumpah setia untuk tetap bertahan di tanah gersang yang sepi, bau manis glukosa dari singgasana pada akhirnya selalu menang. Semut-semut itu, cepat atau lambat, akan merayap mendekat dan mengerumuninya juga.
Premis klasik itulah yang beberapa hari lalu dipertontonkan secara langsung di bawah lampu kristal Istana Negara. Siapa sih yang menyangka kalau plot twist politik paling epik tahun ini justru datang dari seorang Rocky Gerung?
Figur yang selama ini kita kenal sebagai panglima “akal sehat” yang hobinya menguliti kedunguan Istana dari luar pagar itu mendadak ganti seragam. Jumat kemarin, ia resmi memakai setelan jas rapi lengkap dengan dasi dan peci hitam saat dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Lini masa media sosial tentu saja langsung jebol oleh riuh rendah netizen. Slogan legendaris milik Tan Malaka yang biasanya diagungkan para aktivis di jalanan, “Terbentur, terbentur, terbentuk,” mendadak dipelesetkan menjadi sebuah satir yang renyah sekaligus menampar wajah realitas kita hari ini: “Kritik, kritik, dilantik.”
Menabrak Tembok Kekuasaan
Dulu, proses “terbentur” bagi seorang Rocky adalah laku intelektual yang terlihat sangat gagah. Beliau dengan konsisten menabrakkan argumen, ketajaman logika, dan dialektika filsafatnya ke dinding tebal kekuasaan. Dari benturan konisten di luar pagar sistem itulah, ia akhirnya “terbentuk” menjadi ikon oposisi yang paling disegani publik.
Tapi hari ini? Akhir dari ribuan kritik tajam itu ternyata bukan jeruji besi atau pengasingan sunyi ala pejuang zaman kolonial. Ujungnya cuma selembar SK Wantimpres dan jaminan karpet merah. Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, ia tidak lagi terbentuk sebagai penyeimbang independen, melainkan dilantik menjadi bagian dari birokrasi negara.
Plesetan “kritik, kritik, dilantik” akhirnya menjelma jadi kesimpulan yang sinis dari masyarakat luas. Di panggung politik modern kita sekarang, kritik keras itu kadang cuma berfungsi sebagai “portofolio karier terbaik” agar dilirik, dinilai punya daya tawar tinggi, dan akhirnya ditarik bergabung oleh penguasa. Gula kekuasaan itu memanggil, dan kritikus pun merayap mendekat.
Sandal Gunung vs Pantofel
Perubahan peta hidup ini makin terasa janggal kalau kita melihat kontras estetikanya. Kita semua sudah hafal kalau Rocky sangat identik dengan gaya hidup anak gunung: kaos oblong longgar, celana kargo serbaguna, dan sandal gunung andalan yang selalu ia pakai saat bicara membius ribuan orang di podium rakyat. Gaya itu adalah simbol perlawanan terhadap formalitas kaum elite yang kaku.
Kini, pemandangan ikonik itu runtuh seketika. Di dalam Istana Negara, pakaian kebiasaannya berganti total menjadi sepatu pantofel hitam mengkilap dan jas formal. Perubahan visual dari sandal gunung ke pantofel ini adalah simbol paling konkret dari takluknya ego seorang rebel (pemberontak) di hadapan toples gula kekuasaan.
Bukan cuma soal baju, tapi juga soal prinsip sakralitas prosesi pelantikan. Seorang pemikir filsafat yang biasanya menghabiskan waktu di meja diskusi untuk mendekonstruksi doktrin formal dan meragukan formalitas dogmatis, sekarang harus berdiri tegak di bawah sumpah kitab suci demi sebuah jabatan resmi. Sang skeptis akhirnya tunduk pada sumpah birokrasi yang taat asas.
Siklus Rasa: Garang, Garing, Girang
Pergeseran posisi yang sangat radikal ini melahirkan siklus psikologi politik baru yang sangat menggelitik untuk ditertawakan.Kemarin Garang: Ini adalah era emas Rocky saat bebas menyabet setiap kebijakan pemerintah dengan stempel “dungu”. Posisi di luar ring membuatnya terlihat seperti singa podium yang tak tertandingi di seantero negeri.
Hari Ini Garing: Pasca-pelantikan, tameng retorika baru langsung dikeluarkan untuk meredam kekecewaan para pendukung. Sambil memakai dasi di Istana, ia berdalih bahwa langkahnya ini adalah sebuah “radical break”—upaya mengubah sistem dari dalam. Sayangnya, bagi publik yang terbiasa mendengar aumannya yang lepas tanpa saringan, argumen pembelaan ini terdengar sangat garing dan mlempem—mirip kerupuk yang sudah terlalu lama masuk angin.
Besok Girang: Tinggal menunggu waktu saja sampai ia menikmati fasilitas negara, duduk di ruang kerja ber-AC yang nyaman, mendapatkan hak keuangan bulanan sebesar Rp 76,5 juta, dan membisikkan nasihat filosofis langsung ke telinga Presiden. Akhir cerita yang bikin dia (mungkin) girang, sekaligus membuktikan bahwa manisnya gula jabatan memang sesulit itu untuk ditolak.
Jebakan Batman Kata “Dungu”
Masuknya Rocky ke Istana jelas membawa bumerang bagi reputasi akademisnya sendiri. Bertahun-tahun senjata utamanya adalah melabeli kebijakan penguasa dengan kata “dungu”. Mulai hari ini, setiap kebijakan pemerintah yang dianggap keliru oleh publik akan langsung menodai mukanya sendiri. Publik akan balik menyindir: “Apakah sang penasihatnya sekarang juga ikut tertular kedunguan sistem, atau nasihat akal sehatnya yang dicuekin di meja makan Istana?”
Lebih dari sekadar ironi pribadi, fenomena ini melahirkan “kesepian baru” di ruang publik kita. Rocky Gerung adalah brand dari oposisi itu sendiri. Ketika sang maskot masuk Istana, ruang publik kehilangan salah satu jangkar kritik paling nyaring. Panggung oposisi nasional pun makin bersih karena hampir semua kritikus vokal akhirnya berhasil dijinakkan masuk ke dalam struktur kekuasaan. Ini adalah lonceng kematian bagi romantisme kritik independen di Indonesia.
Akhir Romantisme Oposisi
Pada akhirnya, realitas politik kembali membuktikan satu hal: kekuasaan punya daya pikat yang luar biasa. Sejauh-jauhnya seorang filsuf bertualang di menara gading gagasan, ujung-ujungnya ia tetap manusia biasa yang butuh panggung konkret untuk mengeksekusi idenya—atau sekadar pembuktian diri. Dan ketika toples gula itu dibuka lebar oleh sang penguasa, sekeras apa pun argumen masa lalu, kaki-kaki itu akan melangkah masuk juga.
Jadi, kalau hari ini anda melihat perkembangannya dan merasa dunia politik kita “sudah tidak asyik lagi”, anda tidak sendirian. Kita baru saja menyaksikan bahwa pengkritik yang paling vokal sekalipun pada akhirnya bisa berjalan anggun di atas karpet merah Istana.
Selamat datang di dalam sistem, Bung Rocky! Kita lihat saja nanti, apakah argumen anda ke depan nanti akan tetap radikal sebagaimana biasanya, atau perlahan-lahan mencair larut bersama manisnya gula protokol negara.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.