PARADA HARAHAP (1899-1959) Dari Pargarutan Menjadi King of The Java Pers dan Anggota BPUPKI

Foto Parada Harahap

Penulis: Dr Zainal E. Hasibuan
Akademisi UIN Syahada Padangsidimpuan

Pendahuluan

Dari Pargarutan Dolok di atas Pasar Pargarutan ia ditempa — anak Mangaraja Sutan Gunung Muda yang lahir 15 Desember 1899 bukan dengan pedang, melainkan dengan kertas; diusir dari kebun Asahan karena membongkar poenale sanctie, 12 kali dipenjara, lalu menjadi King of the Java Press dengan Alpena dan Bintang Timoer bersama asistennya W.R. Supratman, satu-satunya suara Pargarutan di BPUPKI yang pada 13 Juli 1945 mengusulkan Garuda Pancasila agar bangsa yang berpulau-pulau ini tidak pecah, hingga akhirnya wafat 11 Mei 1959 tepat setelah mengajar di PTIKP yang ia dirikan — dimakamkan di Jakarta, tetapi suaranya tetap bergema dari bukit Pargarutan: Suara dari Kertas, Oom Baron Matturepeck.

Di rumah itulah 15 Desember 1899 lahir Parada Harahap. Lahir di Pargarutan. Ia sekolah di Standaard School tamat 1914. Sejak kecil ia gemar membaca koran yang dikirim abangnya Paniangan Harahap.

Umur 17 tahun ia merantau jadi juru tulis leerling schryver di perkebunan karet Rubber Cultuur Mij Amsterdam di Sungai Karang, Asahan. Karena kecerdasan dan ingatannya yang kuat, ia menggantikan juru buku Jerman. Di kebun itu ia melihat kekejaman poenale sanctie terhadap kuli kontrak.

Tahun 1917-1918 ia menulis dan membongkar kekejaman itu di Benih Merdeka dan Pewarta Deli. Akibatnya ia diusir dari kebun.

Ia pulang ke Padangsidimpuan dan memimpin Sinar Merdeka (1919) dan majalah Poestaha. Selama dua tahun ia 12 kali terkena delik pers dan keluar masuk penjara.

Tahun 1922 ia hijrah ke Betawi. Jadi reporter Sin Po, lalu redaktur Neratja. Ia memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck, artinya Suara dari Kertas.

Tahun 1925 ia mendirikan kantor berita pribumi pertama: Alpena – Algemeene Pers Nieuws Agency. Pengelolanya hanya tiga orang: Parada Harahap direktur, Mas Kadar sekretaris, dan Wage Rudolf Supratman asisten.

Tahun 1926 ia mendirikan Bintang Timoer di Weltevreden. Koran itu mencapai oplah 12 ribu eksemplar, terbesar saat itu. Ia juga menerbitkan Bintang Hindia, Sinar Pasundan, Tjaja Timoer. Karena itu ia dijuluki King of the Java Press.

Pada masa pendudukan Jepang ia memimpin Sinar Baroe

Tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI. Pada rapat 13 Juli 1945 ia mengusulkan agar selain bendera Merah Putih, lambang negara juga perlu ditentukan. Usul itu diterima semua anggota. Dari usul itu dibentuk Panitia Indonesia Raya pimpinan Ki Hadjar Dewantara yang melahirkan Garuda Pancasila. Alasannya: Indonesia heterogen, mudah pecah, butuh pemersatu.

Pasca merdeka, tahun 1950 ia ditunjuk sebagai Pembina Pers di Parlemen RIS dan membentuk Press Room pertama di DPR.

Ia menulis buku: Roos van Batavia (1924), Journalistiek (1924), Riwajat Dr. A. Rivai (1939), Pers dan journalistiek (1941), Vietnam Merdeka (1948), Kedudukan Pers Dalam Masyarakat (1951), Toradja (1952), Indonesia Sekarang (1952).

Kecintaannya pada pendidikan membuatnya mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta tahun 1951 di Gedung Adhuc Stat, Cikini, dengan 400 mahasiswa. Akademi itu tutup tahun 1955.

Ia tidak menyerah. 26 April 1956 ia mendirikan Jajasan Ibnu Chaldun dengan Akta Notaris Raden Master Soewandi No.74. Dari yayasan itu lahir PTIKP – Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik, dibuka 11 Juni 1956 di Gedung Pemuda. Ia menjadi Dekan PTIKP.

11 Mei 1959, tepat setelah mengajar di PTIKP, Parada Harahap wafat di Jakarta. Dimakamkan di Jakarta. PTIKP kemudian menjadi Universitas Ibnu Chaldun Jakarta (UIC) sampai sekarang.

Semoga Allah SWT merahmati Parada Harahap dari Pargarutan Dolok, lahir 15 Desember 1899, wafat 11 Mei 1959 di Jakarta, yang hidupnya ia wakafkan sebagai Suara dari Kertas untuk membela yang lemah dan mempersatukan bangsa dengan Garuda — dari Pargarutan ia berangkat, kepada Tuhan ia pulang, namun jasanya tetap tinggal. Terimakasih.

Wallohu A’lam Bishshowab.

Komentar

Pos terkait