SUMUTNEWS.CO, Tangerang — Pemerintah mempertegas komitmen memperkuat kemandirian energi nasional melalui pengembangan pembangkit listrik berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Langkah ini diiringi peningkatan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 70 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menuju target Net Zero Emission (NZE) 2050–2060.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan kebijakan tersebut saat membuka perhelatan Electricity Connect 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026).
Acara tersebut dihadiri para pelaku usaha, investor, akademisi, dan pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan dari dalam maupun luar negeri.
Bahlil menegaskan bahwa arah kebijakan sektor energi ini berpedoman langsung pada instruksi Presiden Prabowo Subianto.
“Pengembangan pembangkit 100 GW dengan porsi EBT hingga 70 persen ini adalah komitmen nyata pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat pencapaian Net Zero Emission,” ujar Bahlil dalam pidato pembukaannya.
Untuk mewujudkan target tersebut, proyeksi kebutuhan investasi diperkirakan mencapai US$ 70–73 miliar.
Dana tersebut di antaranya diarahkan untuk pembangunan infrastruktur jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit di seluruh Indonesia.
Melihat besarnya skala proyek dan tantangan jaringan yang ada, Bahlil mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi demi menciptakan ekosistem energi bersih yang berkelanjutan.
“Proyek sebesar ini tidak bisa digarap sendiri oleh pemerintah. Kami mengajak seluruh investor dan pelaku industri untuk berkolaborasi membangun sistem energi nasional yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan,” kata Bahlil. (SN17)