Esai Reflektif Spiritual Bersambung
Episode 11:
Dari Kepemimpinan Lokal Menuju Tata Kelola Global: Indonesia Sebagai Pusat Etika Dunia
Oleh: S Purwadi Mangunsastro
Arjuna Mencari Cinta adalah novel monumental karya Yudhistira ANM Massardi yang terbit pada tahun 1977 di era Orde Baru. Saat diangkat ke layar lebar pada tahun 1979, filmnya terpaksa berganti judul menjadi Mencari Cinta akibat sensor ketat pemerintah. Saat itu, penguasa melarang penggunaan nama tokoh pewayangan jika dianggap merusak pakem budaya.
Cerita ini berfokus pada Arjuna (Jun), seorang remaja SMA yang tampan, cerdas, dan lahir dari keluarga kaya raya. Petualangan cinta Jun laksana tokoh Arjuna dalam pewayangan. Paras rupawan dan harta berlimpah membuatnya gemar mempermainkan hati perempuan. Namun, karma berbalik. Perilaku Jun membuat adiknya menjadi korban balas dendam oleh mantan kekasih dari gadis yang pernah ia sakiti. Di tengah kehampaan moral dan kepedihan itu, Jun akhirnya tersadar saat jatuh cinta sungguhan kepada sekretaris ayahnya—seorang perempuan yang ternyata juga merupakan kekasih simpanan ayahnya sendiri.
Dari Sastra ke Realitas: Paradoks “Arjuna” Nusantara dan Ilusi Globalisme
Kisah klasik ini menjadi alegori yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini, termasuk bagi generasi Gen Z dan Gen Alpha. Laksana sosok Jun, Indonesia adalah “Arjuna” modern yang diberkahi kekayaan alam melimpah (nikel, sawit, bauksit) dan bonus demografi yang cerdas. Sayangnya, di bawah arus globalisasi yang penuh hedonisme dan disrupsi digital, potensi besar ini kerap dipermainkan oleh para elite demi syahwat politik jangka pendek (short-term) dan kapitalisme global. Bangsa ini seolah larut mencari “cinta dunia” dalam keindahan semu liberalisme, kapitalisme, maupun sosialisme-komunisme, hingga lalai terhadap kekayaan spiritual serta keagungan yang dimiliki Nusantara.
Alhasil, kita menyaksikan peta kegelisahan mendalam yang melahirkan empat problem utama bangsa:
– Dekadensi Moral dan Kemunafikan Elite Politik: Pancasila mengalami reduksi menjadi sekadar slogan, hafalan, dan pajangan formalitas yang absen dari denyut nadi kebijakan politik nyata. Terjadi krisis kembar moralitas, yaitu suburnya korupsi di bawah cengkeraman oligarki, serta manifestasi kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial. Manusia rajin beribadah tetapi tetap korup, serta meributkan simbol luar agama tetapi melupakan esensi kemanusiaan.
– Disrupsi Teknologi yang Mendehumanisasi: Kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan sains modern bergerak liar tanpa arah spiritual. Tanpa kendali etika, teknologi berpotensi menciptakan robotisasi manusia yang menghilangkan empati, menjebak masyarakat dalam individualisme akut, konsumerisme, dan jurang digital.
– Ketimpangan Ekonomi dan Salah Urus SDA: Distribusi keadilan tersumbat karena kekayaan masif belum sepenuhnya dinikmati rakyat akibat hambatan modal dan cengkeraman segelintir golongan. Posisi tawar Indonesia di rantai pasok global pun melemah akibat ketergantungan pada modal asing dan utang yang menggunung.
– Siklus Kosmologis Kalatida-Kalabendu : Secara kosmologis, Nusantara terlalu lama terjebak dalam fase Kalatida (zaman kerusakan moral para elite) dan Kalabendu (zaman edan penuh penderitaan). Rakyat kecil dan masa depan bangsa akhirnya harus menanggung getah dari keserakahan terstruktur ini.
Menemukan “Cinta Sejati”: Manunggalnya Bangsa dan Agama
Di tengah kehampaan moralnya, Jun tersadar saat mencintai sekretaris ayahnya. Sosok ini berada di lingkaran kekuasaan (sang “Ayah” atau para _founding fathers_ ), namun kerap disalahgunakan sebagai “kekasih simpanan” demi kepentingan sepihak. Dalam ruang refleksi filosofis, sosok sekretaris tersebut adalah analogi dari entitas murni yang terjebak dalam penyalahgunaan kekuasaan, yang dalam konteks bernegara menuntut kembalinya visi besar “Manunggalnya Bangsa dan Agama”.
Kini, saatnya Indonesia merebut kembali esensi murni dari visi tersebut secara terhormat. Nilai keagamaan tidak boleh lagi dijadikan alat legitimasi kekuasaan, melainkan sebuah komitmen hidup yang sejati. Melalui sintesis ini, Indonesia meruntuhkan sekat dogmatis yang memisahkan kesalehan spiritual dengan tanggung jawab kebangsaan.
Dalam konteks spiritualitas global, Islam hadir sebagai jalan tengah yang seimbang (wasathiyah) lewat konsep _ummatan wasathan_ (QS. Al-Baqarah: 143). Secara geopolitik, nilai universal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai poros tengah yang menolak materialisme Komunisme sekaligus pasar bebas Kapitalisme ekstrem. Keseimbangan etik yang memadukan aspek spiritual dan material ini sangat selaras dengan karakter Nusantara yang menghargai laku tafakur dan pengendalian diri (zuhud).
Melangkah Menuju Kalasuba: Blueprint Peradaban Baru
Untuk bertransisi menuju _Kalasuba_ (era kebangkitan peradaban yang adil), Indonesia membutuhkan lompatan spiritual dan _blueprint_ rekonstruksi struktural. Fondasi ini dibangun di atas landasan moral profetik yang bermuara pada laku _tirakat_ atau _riyadhah_ —yakni penyucian jiwa yang memprioritaskan kemaslahatan umat di atas nafsu pribadi. Ketika etos kepemimpinan berbasis sufisme ini diinternalisasi, akan lahir pemimpin yang selesai dengan kepentingan pribadinya dan mampu menghadirkan etos kasih sayang (rahmah) yang inklusif.
Secara struktural, transisi besar ini dimanifestasikan melalui tiga pilar utama:
– Epistemologi Nusantara dan Tata Negara: Merekonstruksi reformasi tata negara dengan prinsip kepemimpinan lokal yang luhur, seperti keteladanan Notonagoro dan prinsip Tritangtu Di Buwana.
– Kedaulatan Ekonomi (Pancasilanomics): Membangun ketahanan ekonomi berbasis ekonomi hijau dan keadilan sosial yang menjadi antitesis terhadap gaya hidup materialistis modern.
– Kedaulatan Digital: Mengendalikan kemajuan teknologi melalui penguatan akhlak, serta membangun ekosistem digital mandiri melalui entitas institusional seperti Danantara dan ION— _Indonesia Open Network_ , infrastruktur publik digital untuk memfasilitasi transaksi UMKM lintas aplikasi
Oase bagi Dunia yang Limbung
Pancasila bukanlah warisan masa lalu yang mandek pada hafalan, melainkan kompas penunjuk arah masa depan. Di tengah peradaban dunia yang limbung akibat ketimpangan ekonomi dan merosotnya moralitas, integrasi antara nilai transendental agama, ideologi Pancasila, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika akan melahirkan tatanan baru yang memanusiakan manusia.
Dengan merawat ingatan kolektif, memadukan kedaulatan spiritual, dan menegakkan hukum, Visi Indonesia Emas 2045 sebagai Mercusuar Peradaban Dunia bukanlah utopia. Indonesia siap berdiri bukan lagi sebagai pengekor, melainkan sebagai penyeimbang, oase, sekaligus arsitek pusat etika dunia baru yang makmur, damai, dan berdaulat.
——
Judul Episode 11 dibelah didapati:
QS. Az-Zukhruf (43) ayat 31: berisi protes kaum musyrik Mekah yang mempertanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada orang kaya atau pembesar dari kota Mekah dan Taif, alih-alih kepada Nabi Muhammad SAW.
“wa qâlû lau lâ nuzzila hâdzal-qur’ânu ‘alâ rajulim minal-qaryataini ‘adhîm”. (QS 43: 31)
Mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada (salah satu) pembesar dari dua negeri ini (Makkah dan Taif)?”
Makna dan Penjelasan:
– Orang kafir Mekah menilai derajat manusia dari harta dan kekuasaan.
– Mereka menganggap Nabi Muhammad SAW tidak layak jadi nabi karena bukan orang kaya atau tokoh terpandang.
– Allah SWT membantah protes ini pada ayat berikutnya.
– Allah menegaskan bahwa kenabian adalah rahmat-Nya, dan Dialah yang menentukan siapa yang pantas menerimanya.