Oleh : Moechtar Nasution
Direktur Forum Lintas Studi Tulila*
Kita adalah generasi yang mengidap penyakit akut bernama “kehausan eksistensial”. Sadar atau tidak, kita kerap menjadi pelacur harga diri yang rela menukar kedamaian batin demi sejumput pengakuan dari sesama manusia. Di panggung kehidupan modern, setiap orang berlomba mengenakan topeng paling berkilau—entah itu topeng kekayaan, kecerdasan, kecantikan, kepintaran atau kesucian semu hanya untuk sebuah kata yakni “validasi”. Kita begitu ketakutan untuk menjadi biasa-biasa saja, hingga tanpa sadar ini akan bermuara pada upaya untuk mengubur kemanusiaan kita sendiri demi sebuah panggung pencitraan yang sebenarnya akan runtuh esok hari. Jiwa kita kerontang, lelah, dan tersesat dalam labirin kompetisi tanpa akhir yang sengaja diciptakan sendiri.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan ini, sebenarnya selalu ada tipe manusia yang berbeda. Mereka berjalan di bumi tanpa gelar panjang yang mentereng, tanpa pujian yang riuh, bahkan kerap dianggap “biasa saja” dalam standar sosial. Tetapi merekalah sebenarnya manusia-manusia yang jiwanya telah selesai “bertengkar” dengan dunia. Mereka tidak lagi sibuk membuktikan diri kepada siapa pun, karena hatinya sudah menemukan tempat pulang yang sudah tidak bising lagi.
Kemurnian yang begitu memesona ini tidak pernah lahir dari ruang hampa yang steril. Ia tidak tumbuh dari hamparan karpet merah atau kehidupan yang dimanjakan oleh kemudahan. Sebaliknya, jika kita bersedia menyingkap jubah kesederhanaan mereka, kita akan mendapati sebuah kisah kemanusiaan yang ditulis dengan darah, air mata, dan keheningan yang sangat panjang.
Manusia ini adalah penyintas dari badai kehidupan yang paling brutal dan kejam. Ada suatu masa dalam garis waktu mereka, di mana hantaman, ujian, dan cobaan datang bertubi-tubi tanpa ampun, meremukkan harapan hingga membuatnya linglung, tersesat, dan tak berdaya, dan nyaris kehilangan segalanya. Krisis demi krisis yang dilakoninya bukan saja membuatnya ambruk, namun hampir gila. Pada titik nadir yang teramat kelam itu, dan pada titik nol hidupnya, menjemput kematian pun sebenarnya sudah diikhlaskannya karena rasa sakit telah melampaui batas yang bisa ditampung oleh tubuh ringkih seorang manusia. Mereka pasrah, bukan karena berani, melainkan karena telah kehabisan energi untuk sekadar mengeluh.
Pada fase itu, kering sudah air matanya sehingga tidak mampu menetes lagi. Lidahnya kelu hingga tak sanggup lagi mengeluarkan satu patah kata pun untuk mengadu. Bahkan, di sepertiga malam yang paling sunyi, tangan ringkihnya sudah terasa teramat berat hanya untuk menengadah guna merajut doa. Ia tidak lagi mampu memeras kata-kata puitis di hadapan Sang Pencipta. Ia hanya bisa terduduk lemah di atas sajadah usang miliknya, dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang remuk redam.
Di dalam keheningan yang mencekam itu, ia memeluk sebuah keyakinan yang teramat radikal: bahwa Allah SWT tidak membutuhkan rangkaian kalimat panjang, karena Dia tetap akan mendengar jeritan batin yang paling sunyi sekalipun. Sebab jauh di dalam palung jiwanya yang hancur, sebuah janji agung menggema liris; Sungguh, Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatimu, dan Kami lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.
Hubungan yang teramat intim ini membuat kata-kata menjadi tidak penting lagi. Di hadapan zat yang Maha Tahu dan Maha Kuasa itu, diamnya yang hancur adalah doa yang paling benderang. Melalui keintiman sunyi itu pula, perlahan-lahan datang sebuah penawar yang menenangkan detak dadanya, sebuah penegasan yang meluruhkan lelah bahwa sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Takdir pun akhirnya menolak untuk memadamkan lilin kecil kehidupan mereka. Seiring waktu yang merangkak pelan, mereka mendapati diri mereka masih bernapas, masih harus menatap matahari terbit. Mereka bertahan hidup, kendatipun harus berjalan dengan luka yang masih menganga, dengan ingatan tubuh yang lebam membiru, dan patahan-patahan hati yang tersisa di atas sajadah itu.
Ajaibnya, di sinilah keindahan itu bermula. Alih-alih mengutuk kegelapan atau berubah menjadi monster yang penuh dendam karena tubuhnya penuh luka akibat sayatan dan lecutan, tokh mereka memilih tetap setia bersama jalan yang sunyi, jalan yang hanya diterangi penerangan hati dan mereka mendekap erat luka itu dengan keteguhan jiwa. Dari sisa-sisa reruntuhan diri yang hancur, mereka menenun kembali kemanusiaannya menjadi sebuah keteguhan yang kita sebut sebagai kesabaran. Baginya, sabar bukan lagi sekadar menahan amarah, melainkan sebuah seni merawat kemanusiaannya sendiri. Ia adalah keputusan agung untuk tidak ikut menjadi jahat hanya karena dunia telah berlaku kejam kepadanya. Ketika ia memiliki seribu alasan untuk membalas luka dengan luka, ia justru memilih untuk tersenyum dan melangkah maju. Manusia yang tenang ini sebetulnya adalah para ksatria yang telah memenangkan peperangan terbesar di kolong langit: peperangan menaklukkan egonya sendiri.
Dari kesadaran terdalam bahwa hidup ini teramat fana, keteguhan itu kemudian menuntun mereka pada sebuah kesederhanaan yang anggun. Seseorang yang pernah kehilangan segalanya tidak akan lagi diperbudak oleh haus akan pengakuan manusia. Ia hidup tanpa beban untuk menjadi orang lain atau memakai topeng kepalsuan demi sejumput pujian yang akan menguap besok pagi. Hatinya sudah terlalu kaya dan penuh, sehingga barang-barang mewah atau panggung pencitraan tak lagi mampu menggoda kedamaian batinnya. Kita bisa melihat pancaran ini pada keteduhan wajah seorang ibu tua di sudut pasar tradisional yang tetap tersenyum tulus melayani pembeli meski tubuhnya ringkih, atau pada seorang pekerja paruh waktu yang pulang dengan langkah ringan tanpa beban ingin terlihat hebat di mata tetangga atau ASN golongan rendah yang hanya mampu berjalan kaki dari rumahnya yang sederhana menuju kantornya. Bagi mereka, harga diri tidak pernah diukur dari apa yang dipamerkan, melainkan dari kedamaian batin yang dirasakan saat lampu sorot dunia dipadamkan.
Luka-luka lebam yang membiru di masa lalu itu pun pada akhirnya menjelma menjadi mata air kemurahan hati yang tak bertepi. Hanya orang yang pernah merasakan dinginnya diabaikan yang tahu betapa berharganya sebuah selimut kehangatan. Mereka memberi bukan karena berlebih, melainkan karena mereka tahu persis rasanya kekurangan. Kemurahan hati mereka mengalir melampaui materi; ia hadir dalam bentuk tatapan mata yang teduh, waktu yang diluangkan untuk mendengar, atau sebait doa sunyi yang dikirimkan di sepertiga malam untuk jiwa-jiwa yang sedang patah—sebuah doa tanpa kata yang lahir dari ingatan tentang sajadah usang mereka sendiri. Kebaikan kecil yang mereka tebarkan tanpa pamrih sering kali menjadi sekoci penyelamat bagi orang lain yang sedang tenggelam dalam keputusasaan yang panjang.
Seluruh keindahan batin tersebut pada akhirnya mengkristal dan memancarkan aromanya dalam wujud akhlak yang mulia. Ilmu mungkin bisa membuat seseorang dikagumi dari jauh, tetapi hanya akhlak yang membuat manusia dicintai dari dekat. Ketulusan mereka membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa aman dan dihargai sebagai manusia. Wajah menawan akan berkerut dimakan usia, kekuasaan akan runtuh berganti tuan, namun kelembutan cara mereka memperlakukan sesama akan tetap tinggal, abadi dan tak akan pernah menua di dalam ingatan kelindan waktu.
Dunia hari ini seolah telah mati rasa, mual oleh manusia-manusia cerdas yang lisannya gemar menghujamkan belati, dan lelah melihat mereka yang berlumur materi namun tak punya ruang untuk berbagi hati. Bumi kita tidak sedang kekurangan orang pintar dan orang alim, namun bumi sedang sekarat karena krisis kemanusiaan, di mana banyak orang pintar dan alim yang sama sekali tidak bisa menjadi panutan dan pemberi contoh keteladanan, tidak mampu dan tidak mau memanusiakan sesama. Maka, atas nama kedamaian yang mendamba pulang, berhentilah bersandiwara dengan jubah-jubah kepalsuan yang melelahkan itu.
Tataplah lurus ke dalam palung batinmu yang paling sunyi: apakah rentetan luka dan lebam membiru yang pernah meremukkanmu telah berhasil ditenun menjadi selimut hangat bagi sesama, atau justru mengubahmu menjadi monster dingin yang tega menginjak hati lain demi serpihan tepuk tangan semu? Jangan, pesta pernikahan anak raja saja hanya tujuh hari tujuh malam dan akan kembali lagi seperti biasa.
Esai ini saya dedikasikan kepada semua orang yang berhati kesatria walaupun pedang tajamnya sudah tidak ada, dan untuk orang yang berjiwa mulia kendatipun beras didapurnya sudah habis hanya untuk memberi makan pengemis yang datang mengetuk pintu rumahnya.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.