SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-7)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 7:
Prahara Sundaland: Air dan Diaspora (Tamasya Ke Sundaland 2)

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Sesampai di kamar penginapan daerah Gondangdia, Jakarta Pusat, embusan sejuk AC langsung menyambut tubuhku. Keheningan kamar ini menjadi kelanjutan yang karib dari pengembaraan batin sebelumnya. Jika pada episode keenam kemarin kesadaranku baru saja mengetuk gerbang imajiner Sundaland, maka di kamar inilah ruang pameran mistis itu benar-benar terbuka lebar.

Benak saya mendadak terlempar pada momen beberapa tahun lalu di Bogor, saat saya teringat kembali seorang saudara batin yang biasa dipanggil Bunda menceritakan mimpi aneh dalam sejarah keluarganya. Ia menuturkan bagaimana sebuah percakapan pagi di meja makan sempat mengagetkan mereka sebagai kakak beradik:

“Teteh, tadi malam aku bermimpi rumah kita ini menjorok ke laut,” ucapan si adik seketika memecah suasana sarapan kala itu. Seluruh anggota keluarga langsung riuh oleh tawa, tidak terkecuali Ibu dan Abahnya. Kakak tertua mereka menyahut sambil menyendok makanannya, “Jangan mengada-ada. Kamu itu terlalu banyak mengkhayal.” Namun, reaksi berbeda justru bergejolak di dalam dada Bunda,” lanjutnya menceritakan kepada saya. “Aku tercenung dalam tanya yang menyeruak: Bagaimana mungkin pada malam yang sama, kami memimpikan hal yang serupa?”, sambung Bunda. Rasa penasaran yang membuncah membuatnya tidak tenang. Begitu selesai makan, segera diajaknya si adikan masuk ke kamar: “Tadi malam Teteh juga memimpikan hal yang sama,” bisiknya lirih. Seketika, jantung keduanya seakan berhenti berdetak.
Keterkejutan itu membawa pikiran mereka, kakak beradik, menerawang jauh ke masa silam, melintasi kisah-kisah tua yang kerap menghantui masa kecilnya.

Salah satunya adalah misteri Kapal Bosok di Curugmanis yang terletak tidak jauh dari rumah mereka—sebuah legenda kapal terdampar di hamparan persawahan yang konon terjadi ratusan tahun lalu. Ingatan Bunda juga melayang pada cerita Abahnya tentang “pohon – api” di ladang mereka. “Apa sesungguhnya yang terjadi di tanah ini pada masa lalu?”, ungkap Bunda lirih mengakhiri pembicaraan.

Tak ingin kehilangan momentum transisi spiritual ini, segera kuambil iPad dari dalam tas. Jemariku bergerak cepat mengetikkan kepingan memori mimpi yang juga mencatat semua lintasan mimpi di benak saya saat penerbangan menuju Jakarta tadi. Ketika memori itu dituangkan dalam kata-kata, bayangan mistis tersebut kembali hadir dengan sangat nyata.

Melanjutkan babak tamasya metafisik dari episode lalu, ketukan jemari menuntun kesadaran saya masuk lebih dalam ke ruang pameran diorama imajiner, melintasi gerbang waktu menuju zona-zona purba yang lebih mencekam.

Atlantis yang Tenggelam dan Detak Jantung Geologi

Langkah penglihatan diorama itu tiba di zona pertama: Geografi Purba. Di sinilah visualisasi akhir Zaman Es atau Maksimum Glasial Terakhir terpampang dengan dramatis. Diorama pertama yang hadir dalam ingatan adalah hamparan lembah subur Sundaland yang menghijau luas. Dari perbukitan rimbun di depan mata, pemandangan itu terus menjauh, membentuk gelombang bukit yang mengikuti cekungan raksasa mirip mangkuk sedalam seratusan meter, kemudian mendatar melebar seakan tanpa batas. Saya merasa seperti berdiri di sebuah menara tinggi, melihat tanah yang makin menjorok ke titik lembah datar yang dalam, lalu melihat hamparan luas tak berujung yang dihiasi kelokan sungai purba.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-6)

Tiba-tiba, visual kedamaian itu pecah oleh suara gemuruh air yang dahsyat. Bunyi itu berkelindan dengan teriakan histeris manusia dan raungan binatang dalam sebuah kepanikan massal yang mencekam. Momen ketika es kutub mencair secara masif membuat air laut menderu, menenggelamkan daratan hijau yang luas itu dan perlahan dan berngsur-angsur dalam kurun waktu yang panjang membelahnya menjadi wilayah yang kita sebut hari ini sebagai Laut Jawa, Selat Malaka, dan Laut China Selatan. Orang-orang di lembah kering itu meringsek ke tempat yang lebih tinggi, berusaha menyelamatkan diri dari hantaman air bah yang datang tiba-tiba, membangun komunitas baru peradaban, lalu kembali berulang dikejar kenaikan air laut yang meninggi menenggelamkan pemukiman.

Di tengah kekacauan batin atas visual tersebut, saya melihat sosok Dewi Pergiwa berdiri dengan wajah teduh di sudut ruangan, ditemani Pergiwati yang berjaga dengan setia di belakangnya, seolah menjadi saksi abadi dari siklus zaman.

Melalui layar iPad, saya melakukan konfirmasi untuk menelusuri benang merah antara mimpi kosmik yang terbentang dalam diorama ini dengan data geologi modern. Semua petunjuk mistis ini mengerucut pada satu fakta ilmiah: berakhirnya Maksimum Glasial Terakhir sekitar 11.600 tahun lalu. Kala itu, kenaikan permukaan laut global yang masif—atau yang dikenal sebagai Meltwater Pulse—menenggelamkan dataran luas benua hingga sedalam 120 meter. Lembah sungai raksasa tempat manusia purba bernaung lenyap seketika.

Di sinilah nilai kesadaran ekologis itu teruji. Visual ini bukan sekadar bencana purba, melainkan catatan berharga tentang bagaimana leluhur kita menghadapi kiamat iklim pertama mereka. Melalui trauma sejarah yang direkam dalam bentuk mitos—seperti dongeng Abah tentang “pohon – api” dan legenda Kapal Bosok di daerah Serang, Banten—kita diajarkan bahwa bumi memiliki siklusnya sendiri, dan manusia harus selaras dengannya untuk dapat bertahan hidup.

Jejak Langkah Austronesia: Migrasi dan Sang Penyintas

Langkah saya bergeser ke sudut diorama berikutnya, sebuah zona yang memperlihatkan babak baru setelah bencana: diaspora manusia purba.

Di sini, saya menyaksikan visualisasi nyata dari teori Out of Sundaland. Ketika air bah menenggelamkan surga tropis tersebut, manusia di lembah yang merupakan prototipe bangsa Austronesia ini tidak memilih menyerah. Di depan mata saya, diorama menampilkan kesibukan yang mengharukan: mereka mulai mengemas perahu-perahu mereka.

Dalam pelarian besar itu, mereka mendayung menjauh, menyebar ke daratan yang lebih tinggi hingga menjadi pulau-pulau yang kini terpisah satu dengan lainnya. Saya diperlihatkan peta migrasi ke mana saja mereka pergi—mulai dari masuk ke pedalaman Nusantara, menyeberang ke Kepulauan Madagaskar, hingga mengarungi samudra menuju Pasifik. Mereka tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga membawa serta bahasa, budaya, dan memori abadi tentang banjir besar tersebut ke seluruh penjuru dunia.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-3)

Narasi di zona ini sepenuhnya menyoroti nilai adaptasi lingkungan. Rekaman visual ini menjadi bukti kehebatan ketangguhan mental luar biasa dari leluhur kita. Mereka tidak pasrah digulung bencana, melainkan menempa diri menghadapi perubahan alam yang ekstrem, bangkit, dan bertransformasi menjadi pelaut-pelaut ulung yang tangguh di atas samudra dunia.

Pencarian akan akar sejarah ini lalu mengingatkan saya pada sebuah pertemuan penting di tahun 2013 yang membuka tabir misteri ini lebih lebar. Saat itu, saya berkesempatan mengenal HM Lintang Waluyo, mantan Kasdam Jaya. Pertemuan pertama di rumah beliau, dari balik gebyog ukiran Jepara tersebut, sempat membuat kami tertegun ketika beliau berbisik lirih: “Ya ini orangnya, dia harus menulis testimoni di buku sebelum masuk cetakan edisi Satria Piningit, Januari 2014.”

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau sedang merampungkan buku berjudul Wasiat Dari Tanah Surga Yang Hilang dan saya diminta untuk menulis pesan dan kesan atas penerbitan buku tersebut. Buku tersebut ditulis dengan rujukan utama dari Prof. DR. Iwan Said Dharma Wisesa, seorang ilmuwan Indonesia luar biasa yang menyandang enam gelar Doktor dari universitas ternama dunia (Cambridge, Al Azhar, Yerusalem Palestine, Hindustan New Delhi India, hingga Harvard USA). Profesor Iwan sependapat dengan Prof. Santos, penulis buku The Lost Atlantis, tentang keberadaan surga yang hilang di Nusantara.

Melalui bimbingan spiritual dan lahiriah dari para sesepuh, antara lain Eyang KGPH Syech Marawangi Angin yang di tahun 2013 sudah berusia 125 tahun lebih dan mengawasi penyimpanan 178 naskah kuno, HM Lintang Waluyo dengan berani menggarisbawahi bahwa Nabi Syits—putra kelima Nabi Adam—dan seluruh keturunannya pernah hidup dan membangun dinasti khalifah di Benua Nusantara ini.

Hubungan Nusantara dengan peradaban legendaris ini makin kuat saat visual diorama menyajikan tulisan filsuf Plato yang merujuk pada penuturan pendeta Agama Mesir kuno. Kitab kuno mereka mencatat bahwa leluhur mereka berasal dari Benua Nusantara. Dari sinilah muncul hipotesis mencengangkan bahwa The Lost Atlantis sebenarnya adalah pusat peradaban dunia di masa lalu yang terletak di Sundaland. Diorama menunjukkan kedahsyatan peradaban tersebut: negeri yang berlimpah buah-buahan, sistem irigasi modern, keunggulan maritim, mobilitas penduduk dengan transportasi udara yang berjalan di atas angin layaknya burung, hingga sistem senjata berkekuatan dahsyat seperti nuklir.

Keyakinan ini makin diperkuat oleh temuan Profesor Iwan di Belanda terkait naskah kuno karya Begawan Palasara yang diterjemahkan oleh Sri Aji Jayabaya, yakni Kitab Jitab Sara Jit Saka, yang kini menjadi bacaan wajib para kandidat doktor sejarah peradaban dunia di sana. Sungguh sebuah ironi yang mendalam; di saat ilmuwan dunia tekun mempelajari peradaban purbakala kita, sebagian ilmuwan bangsa sendiri justru dirundung ketidaktahuan dan mencibir silsilah leluhur mereka sendiri. Meremehkan masa lalu hanya akan membuat kita menjadi bangsa yang amnesia sejarah.

Spiritualitas Purba: Suara Angin dan Ritual Gunung

Mendadak, suasana diorama berganti secara dramatis, membawa saya melangkah masuk ke zona rekonstruksi kepercayaan masa lalu. Suasana menjadi temaram, menyajikan suara deru angin yang menggelegar dan ritual sekelompok orang di atas gunung. Alunan kidung yang menyentuh kalbu membuat bulu kuduk merinding.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Ini adalah pengalaman sensorik di mana saya menyaksikan langsung ritual di jaman Purba pemujaan dan penghormatan kepada Sang Pemilik Alam, di puncak-puncak punden berundak. Visual megalitik ini mengingatkan pada situs purba seperti Gunung Padang, yang kerap dikaitkan erat dengan narasi peradaban Sundaland di daerah Cianjur Jawa Barat. Sedangkan di Jawa Tengah terpancang tegak Candi Murco yang oleh para lelaku refleksi tak kasat mata dan mengutamakan laku spiritual sebagai candi untuk pusat kenduri bersama pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang letaknya tepat di tengah-tengah Pulau Jawa. Candi tersebut digambarkan menjulang setinggi langit dan kini kita saksikan sebagai Gunung Sindoro di daerah Wonosobo.

Zona ini mengupas tuntas nilai ketuhanan dan religiusitas. Melalui kepulan asap ritual dan rapalan doa purba, kita menyaksikan bagaimana manusia Sundaland memahami kekuatan di luar diri mereka. Mereka tidak sekadar takut pada alam, tetapi menghormatinya sebagai entitas yang sakral. Benih spiritualitas, harmoni, dan ketundukan kepada Yang Maha Kuasa inilah yang melintasi ribuan tahun untuk mengkristal menjadi fondasi karakter religius bangsa Indonesia modern.

Dari sinilah pertanyaan besar itu lahir: akankah eksplorasi eskatologi Notonagoro kelak memposisikan bencana tenggelamnya Sundaland sebagai Goro-Goro kosmik yang menandai akhir zaman?

Di balik dinginnya AC Jakarta hari ini, aku menyadari bahwa ketangguhan leluhur Nusantara saat menghadapi kiamat iklim tidak hanya menyisakan perahu dan jalur migrasi. Mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih abadi: sebuah sistem keyakinan luhur yang intim dengan alam, sekaligus kecerdasan teknologi yang mendahului zamannya. Kini, angin purba dari puncak punden berundak mulai berembus, bersahut-sahut dengan percikan api dari tungku metalurgi masa silam.

Perjalanan mencari jati diri bangsa dalam peta besar Notonagoro belum usai. Sosok pemimpinnya digambarkan sebagai figur spiritual-teknokratis yang lahir dari kolektivitas bangsa—bangsa yang telah pulih dari amnesia sejarah dan krisis moral. Kisah bimbingan spiritual dari para sesepuh serta rahasia sains Nusantara yang terkubur akan kita gali lebih dalam. Pencarian jawaban atas kecerdasan sains dan spiritualitas itu baru saja dimulai.

—–

Judul Episode 7 dibelah didapati:

QS. Surat An-Nahl (16) ayat 14: berisi tentang kekuasaan Allah yang menundukkan lautan agar manusia dapat memakan daging ikan yang segar, mengeluarkan perhiasan, melihat kapal berlayar, mencari karunia-Nya, serta agar manusia bersyukur.

Kandungan singkat:
Ayat ini menegaskan nikmat Allah atas penundukan laut, yang mencakup penyediaan sumber pangan (ikan segar), perhiasan (mutiara), serta sarana transportasi dan perdagangan. Umat manusia diperintahkan untuk mencari rezeki dan bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut.

Berita Terbaru

Indonesia, Turki, Qatar, dan Pakistan Sepakati Pakta Kerja Sama Pertahanan

Sumutnews, Jakarta — Pemerintah Republik Indonesia resmi memperkuat poros...

Perkuat Ketahanan Pangan, Pemko Padangsidimpuan Gelar Pasar Murah di Alaman Bolak

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan - Pemerintah Kota Padangsidimpuan menggelar Gerakan Pangan Murah...

Longsor Ulang di Jalan Sipirok–Tarutung, Satgas PRR Turun Langsung, Perbaikan Dikebut Jelang Nataru

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan — Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel)...

Pemuda Palestina Bertaruh Nyawa Selamatkan Jurnalis Foto AS dari Amukan Pemukim Ilegal Israel

Sumutnews.co, Ramallah — Sekelompok pemuda Palestina mempertaruhkan nyawa demi...

El-Sisi Tegaskan Dukungan Militer Mesir untuk Arab Saudi Tak Termasuk Serangan ke Yaman

SumutNews.co, Kairo - Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menegaskan...

Berita Terkait