SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-3)

Produksi: Yayasan Al Farizi Nusantara

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 3:
Trisula Weda: Kompas Moral Di Tengah Disorientasi Zaman

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Mata saya masih kerap terbayang pada paradoks visual yang kita bahas di Episode 2 lalu. Sebuah kapal besar yang mendadak terdampar di tengah sawah. Anomali itu perlahan menjelma menjadi cermin yang mengusik ketenangan batin saya sendiri.

Hari-hari ini, rasanya kita sedang menumpang kapal peradaban yang serupa—sebuah kapal yang perlahan kehilangan kompas navigasinya. Ketika peta moral mendadak buram, keadilan terasa menipis, dan riuh dunia mengikis kepekaan paling mendasar, batin saya kerap bertanya: ke mana kita harus berpegang agar tidak ikut karam di tengah zaman yang bergerak acak ini?Pencarian itu membawa ingatan saya kembali pada sebentuk kearifan tua dari tanah Jawa: Trisula Weda. Terdengar mistis di telinga modern, namun jika direnungkan secara jernih, ia adalah tiga pilar yang teramat logis bagi kemudi hidup manusia: Lurus, Benar, dan Jujur.

Nilai-nilai luhur ini pula yang menghidupkan api spiritualitas seorang Hariono S. Notonegoro. Lewat laku hidupnya sebagai pecinta seni budaya, ia mendedikasikan diri untuk merumuskan kembali falsafah tersebut ke dalam sebuah gagasan besar yang ia sebut sebagai Sistem Solusi Nasional Trisula Weda—sebuah ikhtiar menawarkan kompas moral untuk menata kembali sendi-sendi bangsa.

Tentu, menguji tiga pilar itu di era sekarang bukan perkara mudah. Riuhnya urusan duniawi—mulai dari pemburuan harta, takhta, hingga pembenaran kelompok—sering kali menggeser pencarian akan kebenaran sejati. Kepalsuan yang dikemas rapi dengan taktik pembenaran perlahan dianggap lumrah, pembodohan mengalahkan akal waras, sementara mereka yang memilih jalan sunyi untuk tetap lurus, benar, dan jujur justru kerap dianggap asing, tersisih, atau bahkan menjadi bahan tertawaan.

Filosofi Trisula Weda ini akhirnya mengajak saya merenung kembali tentang sejauh mana kita mampu menyelaraskan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, demi membawa kemudi kapal besar ini ke jalur yang semestinya.

Menuju Estafet Peradaban Baru

Keresahan ini berkelindan dengan cara kita memandang masa depan kolektif sebagai bangsa. Dalam lintasan sejarah Nusantara, ramalan Notonagoro sering kali disempitkan sebatas tebak-tebakan nama penguasa atau siklus suksesi kepemimpinan nasional. Padahal, jika maknanya dibedah lebih dalam, esensi mitologi tersebut adalah tuntutan zaman yang berulang—sebuah harapan agar setiap estafet kepemimpinan mampu menjawab penderitaan rakyat melalui perbaikan nyata.

Kapal besar bernama Indonesia ini agaknya baru bisa berlayar menuju dermaga kejayaan jika fondasi negaranya digerakkan oleh laku nyata yang membumi. Keadilan sosial, misalnya, tidak boleh berhenti sebagai kalimat hafalan di Sila Kelima Pancasila, melainkan harus mewujud sebagai jangkar ekonomi yang meruntuhkan jurang tebal strata sosial.

Di titik ini, kerinduan terhadap semangat asli Pasal 33 UUD 1945 kembali mengusik batin—sebuah tatanan di mana kekayaan alam dikelola negara demi kemakmuran bersama, menjadikan lembaga negara sebagai penyangga hidup rakyat, bukan mitra bisnis yang mencari untung dari mereka. Namun, tantangan global saat ini tidak mudah. Ketika modernisasi menjahit individualisme menjadi pola hubungan sosial yang baru, rambu-rambu kebersamaan dan kegotongroyongan sering kali menabrak dinding tebal, membuat falsafah keadilan sosial rentan goyah oleh kedok ‘efisiensi berkeadilan’.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Padahal, kesejahteraan yang merata adalah buah dari distribusi kekayaan negara yang dilakukan secara transparan dan berkeadilan—mencakup pendidikan yang inklusif, layanan kesehatan yang memanusiakan, hingga pangan, sandang, papan yang terjangkau.

Obrolan Sore Bersama Seorang Ibu Rumah Tangga

Suatu sore, niat saya sebenarnya sederhana: hanya ingin menanyakan kabar sebuah keluarga yang cukup akrab dan perjalanan waktu akhirnya terajut sebagai saudara atau kerabat batin. Namun, obrolan santai di ruang tamu yang bersahaja itu mendadak berganti arah dan meninggalkan perenungan mendalam tentang bagaimana kemudi moral bekerja di tingkat paling bawah.

Sang Bunda bercerita tentang sebuah peristiwa tak terduga beberapa tahun lalu, saat beberapa orang menyatakan sebagai sebuah Tim Kenegaraan bertamu ke rumahnya. Kedatangan mereka membawa seberkas cetak biru yang dikenal sebagai naskah Dokumen Matahari Sistem—sebuah rancangan strategis yang diniatkan untuk membangun sekitar 7.000 desa di seluruh penjuru Indonesia.

Di sinilah jalinan takdir mempertemukan laku hidup personal dengan hajat hidup orang banyak. Bagi masyarakat Indonesia, hubungan antara laku tirakat spiritual seorang tokoh dan lahirnya dokumen solusi bangsa bukanlah hal asing. Sejarah mencatat banyak naskah besar lahir dari kejernihan olah batin. Sebagai contoh, Hariono S. Notonegoro melalui laku hidupnya mengonretkan Sistem Solusi Nasional Trisula Weda. Masih banyak pelaku tirakat lain yang berkarya sunyi di tengah keramaian untuk menghasilkan cetak biru yang lahir bukan dari ruang hampa ego kekuasaan, melainkan dari kedalaman rasa serta kepedulian pada amanat penderitaan rakyat.

Tanpa pikir panjang, dengan kepolosan seorang ibu, beliau langsung membubuhkan tanda tangan di halaman depan. Belakangan beliau baru mengetahui fakta unik di baliknya: dari delapan orang yang menandatanganinya, beliau adalah satu-satunya perempuan.

Sambil menerawang, beliau berucap lirih mengenang doa spontan yang dipanjatkannya saat itu:

“Ya Allah, aku ini cuma ibu rumah tangga yang tidak paham urusan negara. Kalau Engkau mengizinkan, semoga apa yang aku lakukan tadi bisa bermanfaat untuk bangsa ini.”

Mendengarnya, lahir sebuah kekaguman yang mendalam di batin saya. Bukan karena urusan birokrasi atau megahnya nama dokumen tersebut, melainkan karena ketulusannya yang murni. Kalimat lirih itu seketika memantik kesadaran saya yang sering kali berpikir terlalu rumit dan teoretis saat memikirkan arti sebuah kontribusi bagi bangsa.

Banyak anggapan bahwa peran domestik membatasi pengaruh seseorang. Namun, ibu paruh baya ini menunjukkan hal berbeda. Tanpa memamerkan kuasa, beliau menitipkan keikhlasan pada takdir yang kebetulan mengetuk pintu rumahnya, menjadikan rumah sebagai pusat doa, dan langkah kecilnya sebagai ibadah sunyi yang ikut menjaga navigasi batin bangsa ini.

Belajar dalam Sunyi: Ruang Rasa dan Insan Khalifah

Pertemuan sore itu membuka ruang diskusi yang mengalir lebih dalam, meruntuhkan sisa-sisa logika kaku di kepala saya. Dari tutur katanya yang tenang, saya melihat bagaimana konsep Cahaya Ilahi dalam spiritualitas Islam berpadu indah dengan kearifan lokal Nusantara.

Para ulama kerap memaknai ayat tentang Allah sebagai cahaya (petunjuk) seluruh langit dan bumi (QS. An-Nur: 35) sebagai Nur Muhammad—cahaya purba yang menerangi semesta sekaligus menjadi kompas moral. Dalam sebuah kosmologi tradisi Jawa dan Sunda, getaran yang sama mewujud pada konsep Sang Hyang Rasa, Sang Hyang Kersa, dan Sang Hyang Taya. Semuanya bermuara pada satu titik jernih: pancaran kasih sayang dan petunjuk Tuhan yang menuntun langkah manusia agar tidak salah arah, seperti kapal yang tersesat di tengah sawah.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

Masih saya ingat khatib di mimbar jumat yang saya hadiri mengemukakan : “Dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 35, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘…Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’

Dijelaskan lebih jauh, ayat ini menjelaskan hakikat Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nur), yaitu pertemuan spiritual yang indah antara cahaya fitrah manusia yang bersih dengan cahaya wahyu Al-Qur’an. Ketika cahaya fitrah yang merindukan kebenaran menyatu dengan petunjuk wahyu ilahi, iman di dalam dada seorang hamba akan memancar dengan sangat kuat, membimbingnya keluar dari segala kegelapan hidup.”

Pancaran cahaya ilahi nyata dalam tutur kata dan perilaku sehari-hari sang Bunda, yang getarannya ikut melingkupi suami dan kelima anaknya. Melihat kedamaian keluarga ini, saya teringat hikmah di balik siklus siang dan malam yang diciptakan agar manusia bisa merenung (QS. Al-Isra: 12). Perjuangan hidup yang dihadapi dengan kesabaran dan spiritualitas tinggi baik pada malam dan siang mencari karunia Tuhan pada akhirnya melahirkan ketenangan batin (inner peace) yang kokoh.

Jika ditarik ke skala kehidupan bernegara, konsep ini terasa kian mendesak. Hari-hari ini kita sering terjebak dalam kegaduhan kaku—sibuk mengklaim kesuksesan sepihak atau mencaci kegagalan tanpa jeda, hingga seolah lupa pada janji universal bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan yang menyiratkan setiap ada kesusahan pasti akan datang jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Di sinilah kearifan tentang Sang Hyang Rasa mengambil perannya melatih olah batin agar mampu menerima ketentuan-Nya dengan lapang. Dalam napas Islam, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan ihsan ini sejatinya melekat erat dengan ibadah ritual harian untuk membentuk manusia seutuhnya (insan khalifah)—sosok yang mampu ikut menuntun bangsanya keluar dari badai disorientasi.

Indonesia sebagai Mercusuar Dunia: Saat Spiritual Menjadi Solusi

Setelah makan malam, obrolan kami bergerak ke arah yang lebih tajam namun tetap hangat. “Pada hakikatnya, sadar kalau Tuhan itu ada adalah obat paling manjur untuk meruntuhkan ego kelompok dan menenangkan batin,” ucap beliau santai sembari menyuguhkan teh panas di beranda rumah.

Kalimat sederhana itu kembali mengetuk pikiran saya di tengah kecemasan melihat lanskap sosial-politik saat ini. Di era modern yang penuh disrupsi, spiritualitas jelas bukan lagi sekadar pelengkap ritual di rumah ibadah, melainkan fondasi moral esensial untuk menyelamatkan kita dari krisis kemanusiaan.

Dari obrolan santai itu, ada pelajaran berharga mengenai kerinduan bangsa ini akan sentuhan kepemimpinan yang sufistik—sebuah kepemimpinan yang membawa rasa kasih sayang (rahmah) yang merangkul semua golongan. “Semua itu bermuara dari laku tirakat. Menaruh kepentingan orang banyak di atas nafsu pribadi,” tambah beliau pelan.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

Secara ilmiah, refleksi tersebut sejalan dengan analisis kausalitas dan neurosains modern. Ketika moral profetik—sistem nilai yang mengutamakan akhlak mulia—dipraktikkan dari meja pejabat hingga ruang keluarga, terjadi stimulasi konstan pada korteks prefrontal ( _prefrontal cortex_ ), yaitu wilayah otak yang bertanggung jawab atas kendali diri, penalaran moral, dan pengambilan keputusan logis. Aktivitas saraf ini membentuk integritas kokoh yang menjadi benteng alami melawan korupsi.

“Pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri pasti akan melahirkan kebijakan yang adil dan memanusiakan manusia,” lanjutnya.

Saya mendapat pelajaran bernilai, ‘jika gaya hidup yang berlandaskan Trisula Weda ini mewujud, dunia tentu akan melihat Indonesia dengan cara yang berbeda. Kita tidak lagi dipandang sekadar sebagai negara yang kaya raya akan komoditas alam, melainkan diakui sebagai pusat peradaban yang beradab dan modern’, renungan saya dalam hati.

Sebagai rumah bagi populasi muslim terbesar, nilai spiritualitas yang membumi ini adalah wajah asli dari Islam Rahmatan lil Alamin—sebuah ajaran yang teduh, gemar merenung (tafakur), dan tahu batasan (zuhud). Indahnya nilai kasih sayang universal inilah yang sejak berabad-abad lalu merekatkan keberagaman di Nusantara, sekaligus menjadi jawaban telak melawan gaya hidup modern yang kian materialistis.

Saya mendadak teringat pesan dari seorang kawan lama di gawai saya: “Dengan keselarasan ini, Visi Indonesia Emas 2045 sebagai Mercusuar Peradaban Dunia bukan lagi mimpi di siang bolong.” Ia adalah hasil nyata dari bersatunya nilai agama, Pancasila, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Malam kian larut, dan obrolan kami berakhir pada satu kesimpulan yang mengendap kuat. Ketika kompas moral Trisula Weda—Lurus, Benar, dan Jujur—ini benar-benar kita gunakan untuk mengemudikan hidup dan negara, kapal besar bernama Indonesia tidak akan lagi terdampar tak berdaya di tengah sawah. Ia akan kembali berlayar gagah membelah samudera luas, menjadi kiblat bagi peradaban dunia yang makmur, damai, serta berdaulat penuh.

—–

Judul Episode 3 dibelah didapati :

QS. Surat Hud (11) ayat 36: berisi wahyu Allah kepada Nabi Nuh bahwa tidak ada lagi kaumnya yang akan beriman selain mereka yang sudah beriman sebelumnya.

Kandungan dan Tafsir:
– Akhir Dakwah: Ayat ini turun setelah Nabi Nuh berdakwah dalam waktu yang sangat lama, namun sebagian besar kaumnya tetap dalam kekafiran, mendustakan, dan mengejeknya.
– Ketenangan untuk Nabi Nuh: Allah menghibur Nabi Nuh agar tidak bersedih atau putus asa menghadapi penolakan dan perbuatan buruk kaumnya.
– Perintah Selanjutnya: Setelah ayat ini, pada ayat berikutnya (ayat 37), Allah mulai memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal (bahtera) sebagai persiapan menghadapi azab banjir besar.

Berita Terbaru

Mengapa Latihan Pramuka Siaga Harus Menyenangkan, tetapi Tetap Terarah?

Penulis: Ade Azmil Nasution Pelatih Pembina Pramuka Anak-anak memang perlu bergembira...

Pangdam I/BB Pimpin Langsung Upacara Penyambutan Kedatangan Satgas Yonif 123/Rajawali di Pelabuhan Belawan ‎

SUMUTNEWS.CO, Medan — Komandan Daerah Militer I/Bukit Barisan, Mayjen...

Staf Ahli Wali Kota Padangsidimpuan Dorong Lulusan STIKes SENTRAL Terus Tingkatkan Kompetensi

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-XXI STIKes...

Wabup Atika Salurkan Bantuan Langsung ke Korban Kebakaran Panyabungan Tonga

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal — Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menyalurkan...

Di Tengah Defisit APBN, 36 Penasihat Presiden Disorot, Warga Ajukan Uji Materiil ke MK

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Permohonan pengujian materiil terhadap Undang-Undang Nomor...

Berita Terkait