Episode 1: Bunga Wijaya Kusuma Mekar di Siang Hari
Oleh: S Purwadi Mangunsastro
Keharuman lembut kembang Wijaya Kusuma menebar dari sudut teras rumah mungil kami di kawasan Kuningan, Yogyakarta. Warnanya putih bersih, menjuntai indah dengan kelopak yang membuka sempurna. Kemarin, bunga ini masih berupa kuncup yang kaku. Keindahan pagi ini seolah menjadi hadiah yang pantas bagi seorang perempuan tua—ibu kos saya—yang dengan telaten merawatnya.
Saya mendadak teringat percakapan ibu itu dengan tetangga sebelah rumah. Beliau menjelaskan keunikan bunga tersebut dengan sangat lancar. Penjelasannya luas; mulai dari teknik budidaya, mitos pewayangan yang menyimbolkan ketenangan batin, hingga alasan ilmiah mengapa bunga ini dijuluki Queen of the Night . Sebagai pensiunan guru biologi, penjelasan teoretisnya bahkan sempat membuat seorang mahasiswa indekos lain yang kebetulan lewat terperangah.
Rasa penasaran sebagai seorang akademisi sempat membawa saya ke perpustakaan kampus beberapa hari berselang. Saya mencari jawaban gamblang di balik misteri botani ini. Jawabannya mutlak: ” Epiphyllum oxypetalum mekar di malam hari sebagai adaptasi evolusioner untuk bertahan hidup. Proses ini menarik perhatian penyerbuk nokturnal seperti kelelawar dan ngengat. Kelopak tipisnya sangat rentan layu dan dehidrasi jika terkena terik matahari siang. ”
Wayang Kulit Ukir, Kelir dan Teorema Blencong
Sains modern memiliki jawaban logisnya sendiri. Namun, bagi ingatan masa muda saya, keajaiban bunga itu selalu terasa jauh lebih mistis dan hidup. Ketakjuban pada bunga misterius ini seketika membuka gerbang masa lalu, melempar kesadaran saya jauh pada memori di kampung halaman puluhan tahun silam.
Memori itu membawa saya kembali ke tengah malam yang dingin di masa anak-anak. Di tengah keheningan desa, suara gamelan dari kejauhan mengalun mistis. Saat itu, saya yang masih duduk di kelas 4 SD nekat mengendap-endap keluar rumah hanya memakai sarung demi menonton Ki Dalang Anom Suroto di lapangan kecil dekat pasarean. Di sana, saya terperangah melihat blencong—lampu minyak berkaki tiga—memantulkan bayangan wayang pada kelir putih. Tokoh Buto Cakil tampak jumpalitan melawan Arjuna yang tenang.
“Iki lakone opo, Pakde?” bisik saya kepada penonton tua di samping.
“Wahyu Cakraningrat,” jawabnya di sela kepulan asap rokok kretek.
Saya beringsut menjauh untuk menghindari asap. Nama lakon itu mengingatkan saya pada komik sewaan karya R.A. Kosasih, maestro komik Indonesia yang sangat saya kagumi. Pandangan saya kembali tertuju pada posisi blencong di atas kepala Sang Dalang. Sorot lampunya menerpa gerakan kulit tatah secara ritmis seiring alunan gending, memproyeksikan segitiga cahaya yang menghidupkan karakter-karakter magis tersebut.
Pertunjukan wayang kulit ternyata tidak hanya memikat lewat estetika cerita. Ketika menginjak SMP dan mulai mengenal ilmu geometri ruang (stereometri), saya baru menyadari bahwa pergelaran itu adalah penerapan ilmu alam yang rumit dalam mengatur konstruksi posisi cahaya, jarak objek, dan bentangan layar.
Di kampung itu pula, urusan pangan dahulu kala diselesaikan lewat jalan spiritual yang sederhana. Menjelang panen, para petani tradisional sering menaruh sesajen di sudut sawah untuk Dewi Sri, sang Dewi Padi. Karena penasaran, saya pernah memberanikan diri bertanya kepada Bapak yang terkenal berpendirian tegas.
“Lha nopo Bapak kok mboten masang sajen koyo ngono uwong iku, Pak?”
Bapak bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangan dari traktornya. Beliau menegaskan bahwa hasil panen adalah urusan kerja keras, ilmu budidaya, riset tanah, serta berkat Tuhan—bukan sesajen. Sejak akhir tahun 1960-an, Bapak memang sudah menggunakan traktor, sebuah kebijakan yang sempat menggegerkan warga kampung yang kala itu masih mengandalkan sewa kerbau.
Rentetan pengalaman masa kecil yang penuh simbol dan makna ini rupanya membentuk pola sinkronisitas yang terus mengikuti saya hingga ke dalam kedewasaan dan dunia kerja yang penuh kesibukan birokrasi.
Bertahun-tahun kemudian, dari dunia bayang-bayang pewayangan dan kenangan pematang sawah, saya terlempar ke dalam realitas agenda negara yang padat. Sebuah memo penting mendarat di meja kerja: saya harus menghadiri Rapat Menteri Kabinet di Bukittinggi untuk membahas ketahanan pangan nasional. Rapat darurat yang hanya dihadiri 26 undangan setingkat menteri dan gubernur.
Di dalam kabin pesawat menuju Padang, seorang penumpang paruh baya menyapa saya. Obrolan hangat kami mengalir lancar, hingga entah bagaimana, berbelok membahas cerita pewayangan. Beliau mengisahkan Gatotkaca yang terbang membelah langit mencari Dewi Pergiwa dan Pergiwati yang diculik oleh Adipati Karna. Cerita belum tuntas, namun beliau pamit ke toilet karena AC pesawat yang dingin. Kami pun berpisah terburu-buru setelah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.
Sepuluh menit sebelum acara di Bukittinggi dimulai, saya sudah duduk di kursi undangan. Saya teringat pesan teman di pesawat tadi untuk menyampaikan salam kepada Wakil Menteri Pendidikan Nasional. Ketika saya menoleh ke samping, jantung saya sempat berdesir. Orang yang duduk tepat di sebelah saya adalah sang Wakil Kemendiknas sendiri, yang hadir menggantikan menterinya. Sekali lagi saya tercenung. Kebetulankah?
Namun, kehangatan sinkronisitas itu segera berganti dengan benturan keras antara angka APBN dan realitas perut bumi. Di ruang rapat utama yang dipimpin langsung oleh Presiden SBY, pertemuan tersebut menghasilkan Rencana Aksi Bukittinggi. Masalah yang kami hadapi sangat krusial: data subsidi pupuk kimia dalam APBN terus meroket selama lima tahun terakhir, tetapi produksi beras nasional justru stagnan bahkan cenderung turun. Modernisasi dan ketergantungan pada kimia justru menciptakan batu sandungan baru ketika pasokan pupuk sering hilang misterius di pasaran.
Peliknya teori swasembada pangan tingkat menteri itu terus membayangi saya, bahkan hingga berbulan-bulan setelah rapat itu usai.
Metafora Bunga Sakti Wijaya Kusuma
Hingga pada sebuah hari Minggu di rumah, saat saya sedang menatap serius dokumen Rencana Aksi Bukittinggi di layar laptop, ponsel di genggaman saya tiba-tiba bergetar. Seorang kerabat batin di Bogor menelepon setelah lama tak ada kabar. Di seberang sambungan, suara seorang perempuan baya terdengar begitu antusias mengabarkan sebuah keanehan semesta.
“Bunga Wijaya Kusuma yang bertahun-tahun lalu ditanam di rumah saya… mekar, Pak! Sebanyak 9 tangkai. Warnanya sama putih seperti yang di teras rumah kos Bapak dulu di Yogyakarta, tapi putik buahnya berwarna pink! Dan bunga ini mekar tepat di siang bolong, bersamaan dengan detik-detik saya menggelar acara selapanan anak bungsu saya.”
Bani Jawa dan Sunda mengenal selapanan sebagai tradisi memperingati usia bayi 35 hari untuk pemberian nama dan potong rambut. Dalam kejadian aneh itu, 9 tangkai bunga Wijaya Kusuma putih yang mekar di siang hari secara spontan difungsikan sebagai air siraman untuk memerciki tubuh sang jabang bayi.
Saya termangu di kursi kerja. Secara botani, ini adalah sebuah kemustahilan. Selama ribuan tahun, mekanisme adaptasi evolutif tumbuhan ini menguncinya untuk hanya merespons kegelapan malam. Bagaimana mungkin kelopak tipis itu bertahan di bawah terik matahari siang tanpa dehidrasi? Apakah ada spesies baru akibat mutasi genetik, atau justru ada pergeseran ekstrem pada atmosfer dan magnetik bumi kita? Pencarian cepat di internet melalui laptop pun tidak membuahkan hasil memuaskan.
Secara etimologi Sanskerta, Wijaya berarti kemenangan dan Kusuma berarti bunga. Dalam mitologi Jawa, mekarnya bunga ini diyakini sebagai pertanda turunnya wahyu kejayaan. Bagi saya, ini melampaui anomali botani biasa. Ia adalah ayat kauniyah—tanda semesta—bahwa hukum sains tunduk pada satu kendali absolut: Kun Fayakun.
Ingatan saya lantas melayang pada kisah wayang kulit di masa kecil, ketika Sang Dalang menyebut Wijaya Kusuma sebagai pusaka sakti Prabu Kresna yang mampu menghidupkan orang mati yang belum ajalnya. Kalimat itu seolah beresonansi dengan rentetan kisah mistis lain yang dituturkan oleh kerabat batin saya di telepon. Beliau melanjutkan kisahnya tentang pertemuan dengan seorang pengembara tua renta di sebuah jalan hutan perbukitan. Pengembara itu bergumam lirih, “Semua telah mati hati nuraninya. Hanya aku yang hidup.” Sebuah pesan yang menyiratkan potret manusia modern saat ini: banyak yang secara fisik hidup, namun jiwanya telah mati.
Menata Negara
Perbincangan di telepon mengalir kian dalam saat perempuan itu mulai mengisahkan pengalaman lainnya. Kali ini, latar berpindah ke sebuah tempat di daerah Gunung Sindur, tepat di mana sebuah plang bertuliskan “Batu Tulis” terpajang sepi. Di sana, seorang Aki memanggilnya dan memintanya mampir. Ia melangkah masuk ke dalam sebuah rumah mungil namun resik, dengan kuntum-kuntum mawar hitam yang menghias sudut halaman rumah. Di rumah itulah, seorang lelaki tua yang ia panggil Aki menyambutnya dan menghidangkan dua gelas air putih.
Keajaiban terjadi tanpa aba-aba. Begitu jemari kerabat saya tersebut menyentuh dinding gelas kaca, air bening di dalamnya mendadak memancarkan sorot merah menyala terang. Menyaksikan pendar magis tersebut, sang Aki tidak terkejut. Beliau justru tersenyum, lalu dengan takzim mendendangkan sebuah kidung Sunda kuno yang liriknya menggetarkan ruangan: “Biarlah cangkangnya di orang lain, tapi isinya di anak bayi ini.”
Di seberang telepon, suara perempuan itu mendadak merendah, bergetar penuh takjub. “Ah, mungkinkah kidung Aki ini bertaut erat dengan anak bayi kami yang baru saja diselapani dan dimandikan dengan sembilan tangkai Bunga Wijaya Kusuma itu, Pak? Padahal saya tidak pernah bercerita kepada Aki itu kalau saya baru melahirkan.”
Sesaat, keheningan merayap. Kalimat pengembara tua di bukit itu mendadak terngiang kembali di telinga saya secara simultan: “Mereka sudah mati semua—hanya aku yang hidup.” Ada benang merah ghaib yang seolah sedang menautkan takdir kehidupan yang sejati.
Di balik rumitnya kalkulasi investasi manajemen pertanian, peliknya data APBN, dan jaringan komunikasi antarpejabat yang sedang saya pelajari di layar laptop ini, saya akhirnya sadar. Ada tangan tak terlihat (The Unseen Hand) yang sedang dan akan terus menggeser poros dunia dengan presisi yang mutlak. Kesadaran baru inilah yang melunakkan rasio saya, mempersiapkan jiwa untuk menerima keajaiban—atau mungkin prahara kehidupan—yang akan saya saksikan pada fragmen perjalanan selanjutnya di tanah Nusantara.
—–
Judul episode 1 dibelah didapati :
Surat Al-Isra (17) ayat 16 berbunyi: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya. Maka, sepantasnya berlakulah ketentuan (azab) bagi-Nya, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16).
Kandungan dan Makna:
Perintah Ketaatan kepada Elite:
– Allah menegur para pemimpin atau orang kaya (hidup mewah) agar berbuat taat.
– Tindakan Durhaka: Mereka justru memilih jalan kefasikan, keserakahan, dan kezaliman.
– Azab yang Pasti: Ketika kemungkaran merata dan tidak ada perbaikan, kehancuran total menimpa suatu kaum sebagai ketetapan Allah.