SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Produksi: Yayasan Al Farizi Nusantara

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 2:

Kapal Besar Terdampar Di Tengah Sawah: Membelah Batas Nalar

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Sebuah kabar menakjubkan bernada penuh syukur terdengar dari seberang telepon pagi itu. “Alhamdulillahirabbil’alamin, kami sudah sampai di Cikampek,” ujar seorang kerabat batin saya—sosok perempuan yang kedalaman ruhaninya kerap menjadi cermin spiritual bagi saya.

“Di sepertiga malam tadi kami istirahat dan menginap di pom bensin, dan habis subuh ini langsung bergerak pulang. Ajaibnya, bensin yang kami isi 300 ribu rupiah waktu berangkat dari Bogor masih utuh! Padahal ini sudah hari ketiga perjalanan kami membelah gunung dari Bogor menuju Bandung, lanjut ke Ciamis, Pangandaran, dan sekarang arah kembali pulang,” lanjutnya.

Masya Allah, lidah saya seketika kelu mendengar penuturan perempuan tersebut. Saya hanya bisa mengucap Allahu akbar. Secara logika, perjalanan sepanjang sedikitnya 750 kilometer tidak mungkin hanya menghabiskan kurang dari 30 liter bahan bakar. Harusnya bensin sudah tandas sebelum menyentuh Pangandaran, tetapi faktanya indikator bahan bakar kendaraan yang ia tumpangi masih menunjukkan posisi penuh.

Kristalisasi Air Karamah Wijaya Kusuma

Peristiwa luar biasa ini menjadi tamparan spiritual bagi saya—sebuah pengingat bahwa kekuasaan Tuhan begitu nyata dalam melipatgandakan rezeki di luar batas nalar manusia melalui wasilah hamba-Nya yang bersih hati. Keajaiban tangki bensin yang seolah menjelma menjadi mata air tanpa dasar itu spontan memicu ingatan saya pada keajaiban terdahulu yang juga melekat pada dirinya.

Mendengar hal itu, saya segera menyahuti teleponnya untuk bertanya, “Apakah bunga wijaya kusuma yang beberapa tahun lalu sempat memicu keajaiban itu mekar kembali?”

“Belum mekar kembali. Peristiwa itu hanya terjadi sekali, beberapa tahun yang lalu. Tapi saya masih menyimpan batu pink yang terbentuk dari tetesan lendir yang mengucur dari mahkota bunga dan putik buah saat mekar waktu itu. Lendirnya mengkristal menjadi batu pink,” jawab beliau lembut.

Kristal batu pink dari lelehan lendir bunga wijaya kusuma yang berwarna putih? Misteri baru ini semakin menambah kekaguman saya pada khasanah karamah yang melingkupi keseharian perempuan ini. Adakah Allah SWT sengaja menorehkan keajaiban nyata tersebut sebagai bukti kekuasaan-Nya melalui peninggalan monumental yang tak lekang dimakan waktu pada diri sang kerabat batin?

Bagi saya, rentetan fenomena ini bukanlah kejadian acak yang berdiri sendiri. Mulai dari tangki bensin yang tak kunjung surut hingga kristalisasi lendir bunga wijaya kusuma, semuanya merupakan satu bentangan benang merah konseptual: sebuah teka-teki kosmis yang sengaja dihadirkan-Nya untuk meruntuhkan keangkuhan rasionalitas kita. Tuhan sedang memperlihatkan bahwa materi fisik tunduk pada kesucian spiritual. Kesadaran inilah yang kemudian menuntun memori saya melompat jauh ke momen perjalanan kami bersamanya beberapa tahun lalu, saat kami disuguhi pemandangan yang tak kalah merontokkan logika.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

Saat Lautan Tunduk pada Pecutan Takdir

Saat itu, di tengah hamparan hijau persawahan daerah Curugmanis, Serang, sebuah siluet besar berdiri kaku menantang langit. Bukan traktor, melainkan sebuah kapal besar yang terdampar kokoh di atas lumpur sawah.

Konon menurut cerita tetua lokal, kapal ini milik kompeni Belanda yang memburu seorang pejuang sakti mandraguna, Ki Angga Derpa, pada tahun 1600-an Masehi. Setelah kompeni pergi karena gagal menangkap Ki Angga Derpa, dalam kemarahannya kapal ini berulang kali dipecut oleh sang pejuang hingga menggoyahkan alam laut dan meluapkan ombak. Kapal itu pun terdorong jauh ke daratan Curugmanis, Serang, hingga akhirnya membusuk (bosok) dan teronggok di tengah persawahan. Lokasi tersebut tidak jauh dari kampung halaman kerabat batin saya ini, yaitu Desa Nyapah, Kecamatan Walantaka, Serang, Banten.

Logika saya kembali berputar hebat saat mengenang momen tersebut. Bagaimana bisa sebuah armada lautan berpindah sejauh lebih dari sepuluh kilometer dari garis pantai terdekat? Tempat yang harusnya riuh oleh kecipak ikan dan asinnya ombak, kini justru sunyi di antara sapuan angin yang menggoyang pucuk-pucuk padi.

Bagi orang awam, ini mungkin sekadar anomali visual atau mitos masa lalu. Namun, setelah menyaksikan keajaiban bensin dan bunga wijaya kusuma yang dialaminya, keberadaan kapal di tengah sawah itu terasa seperti elemen lanjutan dari teka-teki spiritual yang sama. Kapal Bosok hadir sebagai simbol penegas bahwa takdir mampu melipat batasan nalar manusia menjadi butiran debu tak berdaya.

Keterikatan mistis antara daratan dan lautan ini pun tidak berhenti di Serang. Pikiran saya menerawang lebih jauh, menyadari bagaimana sosok perempuan ini terus dituntun melintasi ruang dan waktu untuk menyaksikan tanda-tanda zaman yang tersebar di alam semesta. Jika di Serang benda laut ditarik ke daratan persawahan, maka di Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, realitas gaib samudra justru disingkapkan langsung di depan matanya.

Sujud Pasrah di Hadapan Istana Emas

Bagai mimpi di siang bolong, beliau pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah fenomena ganjil di ufuk samudra Pelabuhan Ratu: kemunculan sebuah istana yang berkilau keemasan. Demi memastikan dirinya tidak sedang mengigau, perempuan itu mencubit tangannya sendiri. Rasa sakit yang menjalar menegaskan bahwa pandangannya nyata.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

Dalam ketakjuban itu, beliau berdoa dari kedalaman kalbunya, “Ya Allah, jika Engkau ingin menunjukkan kebesaran-Mu, tunjukkanlah kuasa-Mu atas istana itu.” Seketika, istana emas tersebut berangsur-angsur mumbul dan terangkat dari dasar lautan. Menyaksikan keajaiban yang menggetarkan jiwa tersebut, beliau dilingkupi rasa syok dan bersujud pasrah, “Ya Allah, cukuplah aku melihat kuasa-Mu, tidak ada apa pun yang menyamai-Mu.” Seiring doa itu terucap, istana emas itu pun lenyap kembali ke dalam pelukan samudra.

Semua rentetan keajaiban yang dialami dan disaksikan oleh sosok perempuan ini—mulai dari bensin yang tak habis, batu bunga wijaya kusuma, Kapal Bosok, hingga penampakan istana laut—akhirnya menerbangkan memori saya pada masa kanak-kanak. Saya teringat kisah yang disampaikan oleh guru ngaji di langgar tentang Bahtera Nabi Nuh A.S. Kisah agung yang diabadikan secara rinci dalam Al-Qur’an (QS. Hud: 36-48 dan QS. Al-Mu’minun: 23-30). Nabi Nuh membangun bahtera di atas daratan kering, diejek oleh logika dangkal kaumnya, namun terbukti menjadi satu-satunya peta keselamatan.

Maka tidak mengherankan jika memori tentang kapal besar yang terdampar di tengah sawah itu kembali mengetuk pintu kesadaran saya. Keberadaan Kapal Bosok di tengah hamparan padi sesungguhnya merupakan alegori nyata dari Bahtera Nabi Nuh dalam kitab suci. Jika dahulu kaum Nabi Nuh mencemooh pembuatan kapal di atas daratan kering, kini zaman menyaksikan sebuah kapal laut justru abadi di atas lumpur pesawahan. Menariknya, oleh masyarakat setempat, sisa-sisa kapal yang membusuk tersebut kini telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi sebuah masjid tempat bersujud. Upaya restorasi ini dilakukan dengan sangat anggun, tetap menjaga siluet asli lambung kapal agar jejak sejarahnya tidak sirna. Perubahan wujud dari alat perang kolonial menjadi rumah ibadah berwujud kapal ini seakan menegaskan pesan spiritual terdalam: bahwa pada akhirnya, “kapal” yang terdampar di daratan ini adalah simbol tempat penyelamatan iman, sebuah bahtera batin bagi umat manusia yang bersedia sujud dalam menyongsong badai zaman.

Di sinilah letak rahasia besarnya. Rentetan fenomena supranatural ini bukanlah pertunjukan kesaktian tanpa makna, melainkan sebuah jembatan makro-kosmos. Dalam laku spiritualnya, perempuan ini mengajarkan bahwa untuk menyongsong tatanan agung zaman keemasan yang makmur (Kala Suba), peradaban manusia harus melewati fase penataan tatanan negara dan dunia (Notonagoro). Namun, Notonagoro tidak akan pernah terwujud tanpa adanya ma’rifah al-nafs, yaitu tindakan radikal menata kalbu manusia itu sendiri. Melalui pemahaman inilah, seluruh keajaiban fisik yang ia alami bertransformasi menjadi isyarat di balik kabut zaman, memandu kita menembus zaman kegelapan (Kalatida dan Kalabendu) menuju cahaya masa depan.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

Saat kami berdiskusi di beranda rumahnya, ia beberapa kali menghela napas melihat carut-marut Indonesia. Ia prihatin pada realitas sosial, politik, dan ekonomi yang kehilangan arah akibat liberalisme, kapitalisme, praktik riba, hingga hukum yang tebang pilih. Namun, alih-alih mengumpat, dari bibir perempuan ibu rumah tangga sederhana ini mengalir untaian kearifan yang merasionalkan tasawuf. Ia mengingatkan saya pada pemikiran Buya Hamka tentang ma’rifah al-nafs (pengenalan diri) sebagai benteng modernitas.

“Kita manusia ini mengemban amanah sebagai khalifah,” ujarnya suatu sore dengan suara bergetar namun teduh. “Menata diri sebagai khalifah itu bukan sibuk merebut sistem politik, melainkan menata kalbu sendiri agar bersih dari sifat agresif. Jika kalbu tertata melalui tirakat, puasa, dan ibadah, maka jasad akan mengikutinya.”

Perempuan ini adalah perwujudan nyata dari kearifan lokal yang hidup. Dalam dirinya, saya melihat bagaimana filosofi Sunda Wiwitan tentang Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh menyatu sempurna dengan konsep kosmologi Islam. Ia mempraktikkan apa yang disebut masyarakat Sulawesi sebagai _Ntopoasa_ —menjaga persatuan, bersatu dalam rasa kebersamaan, gotong royong, dan kesucian batin demi memancarkan cahaya Tuhan Yang Maha Esa. Karakter dan khasanah karamah yang dimilikinya semakin matang dan mengkristal di tengah kepungan krisis moral bangsa. Ia adalah oase batin, sosok perempuan pemandu spiritual tersembunyi yang memegang tiga mata tombak kehidupan sebagai pusaka konseptual untuk melintasi gerbang zaman menuju tegaknya keadilan sejati.

—–

Judul episode 2 dibelah didapati :

Judul episode 2:

QS. Surat As-Sajdah (32) ayat 18: menjelaskan bahwa orang yang beriman tidak sama dengan orang yang fasik atau durhaka.

Makna singkat:
– Perbedaan Hakiki: Allah menegaskan bahwa kedudukan, sifat, dan balasan bagi orang beriman (mukmin) sangat berbeda dengan orang fasik atau ingkar.
– Balasan di Akhirat: Orang beriman akan mendapatkan balasan surga dan kebahagiaan, sedangkan orang fasik mendapat balasan neraka.

Berita Terbaru

Iran Tuding AS dan Israel Jadi Biang Kerok Ketidakamanan di Selat Hormuz

​SumutNews.co, Teheran — Pemerintah Iran secara terbuka menuding Amerika...

Kerusahan Hebat di Prancis: Jam Malam Berlaku, Evaluasi Keamanan Macron, Ribuan Ditangkap, hingga Merembet ke Eropa

Sumutnews.co Paris — Pemerintah Prancis memberlakukan jam malam parsial...

Empat Jam Macet Total di Aek Sulum Sipirok, Dua Truk Dilaporkan Terguling, Polisi Lalu Lintas Disorot

SUMUTNEWS.CO, SIPIROK– Kemacetan panjang dilaporkan terjadi di kawasan Aek...

Diduga BBM Ilegal, Mobil Tanpa Plat Muatan 2 Ton Terbakar di Manunggang, Sopir Langsung Kabur!

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Warga di sepanjang Jalan Trans Sumatera, Manunggang...

Bukan Sekadar Penjara, Lapas Padangsidimpuan Buka Kelas Baca Tulis untuk Warga Binaan

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Padangsidimpuan...

Berita Terkait