SumutNews.co, Teheran — Pemerintah Iran secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang utama di balik meningkatnya instabilitas di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Tudingan tersebut dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah lawatan resmi Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov ke Teheran, Senin, 19 Oktober 2026.
”Perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis, dikombinasikan dengan blokade ekonomi, merupakan sumber utama ketidakamanan di kawasan kami,” ujar Araghchi dalam konferensi pers bersama Lavrov di Teheran.
Kunjungan Lavrov ke Iran menandai lawatan perdananya ke Teheran sejak eskalasi konflik di Timur Tengah meletus pada Februari lalu. Di tengah perundingan Teheran, Washington yang jalan di tempat, Moskow berupaya mengambil peran penengah demi meredam potensi konflik berskala lebih masif.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, agenda utama Lavrov difokuskan pada upaya mencari jalan keluar dari krisis internasional akut akibat agresi militer ilegal terhadap Iran. Selain berdiskusi dengan Araghchi, diplomat kawakan Rusia itu dijadwalkan menemui Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menindaklanjuti kesiapan Presiden Vladimir Putin untuk memfasilitasi mediasi bilateral.
Meski gencatan senjata sempat disepakati pada April lalu serta disusul nota kesepahaman terbatas antara AS dan Iran pada Juni, gesekan militer di sekitar Selat Hormuz belum mereda.
Jalur perairan sempit tersebut memegang peranan krusial bagi perekonomian global karena menjadi rute lintas seperlima suplai hidrokarbon dunia.
Teheran terus memperketat pengawasan dan menindak kapal-kapal yang berlayar tanpa otorisasinya, sementara Washington meresponsnya dengan menerapkan blokade laut tandingan di pelabuhan-pelabuhan utama Iran. (SN17)