SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS 5)

Produksi: Yayasan Al Farizi Nusantara

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 5:
H i d a n g a n

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Jika pada episode sebelumnya kita telah memosisikan diri sebagai “Sang Pecalang”—sang penjaga sunyi yang peka membaca gerak kosmos dan menjaga kesucian wilayah dari pencemaran moral—maka kini radar kepekaan itu harus kita bawa ke atas meja perjamuan. Menjadi pecalang spiritual berarti tidak boleh mati rasa. Kita harus mampu mencicipi, mengendus, dan menguliti setiap sajian zaman yang dihidangkan di hadapan bangsa ini.

Saat menyantap makanan yang super lezat, lidah kita biasanya fokus pada rasa. Karena asyik mengunyah, kita sering lupa proses panjang dan peluh sang koki di dapur. Namun, cerita berubah 180 derajat saat makanan yang tersaji ternyata hambar atau keasinan. Rasa kecewa langsung muncul, lalu tanpa pikir panjang, kita membuangnya ke tempat sampah.

Menariknya, momen “gagal rasa” ini bisa menjadi alarm rohani yang pas bagi “Sang Pecalang” batin kita. Kekecewaan atas hidangan tidak sempurna itu mengajak kita melihat menu yang jauh lebih besar: kehidupan kita sendiri. Hidangan utama ini disajikan langsung oleh Tuhan, lengkap dengan porsi batas usia, racikan takdir, dan hari pertanggungjawaban yang diukur secara cermat. Tidak ada yang kurang maupun lebih.

Sayangnya, di tengah ramainya restoran kehidupan modern ini, banyak dari kita yang terjangkit penyakit kelalaian. Kita terlalu sibuk “mengambil foto” makanan sampai lupa menikmatinya, alias mengabaikan kode-kode dari Sang Pemilik Semesta. Padahal, tanda-tanda bahwa perjamuan dunia ini sudah memasuki menu penutup sudah nyata di depan mata.

Isyarat Profetik di Atas Piring Global

Coba tengok isi “piring” global kita hari ini. Suasananya sedang retak dan membara. Mulai dari krisis Timur Tengah yang tak kunjung padam, bayang-bayang jet tempur yang mengincar instalasi vital, hingga obrolan ngeri soal perang nuklir yang mengancam eksistensi bumi.

Belum lagi “bumbu-bumbu” pahit lain seperti krisis iklim yang bikin cuaca makin tak menentu, jurang kesenjangan ekonomi yang makin lebar, hingga wabah kesepian modern yang merusak kesehatan mental anak muda. Bagi hati yang jernih—hati seorang pecalang jiwa—semua kegentingan ini bukan sekadar berita politik atau tren sosial biasa. Ini adalah isyarat profetik bahwa kenyamanan materi yang sedang kita lahap hari ini sebenarnya sangat rapuh.

Mengarungi sejarah dunia ini pun bukan seperti jalan-jalan tanpa peta. Salah besar jika kita menganggap potongan sejarah—sejak zaman purba, perang dunia, hingga ketegangan geopolitik hari ini—hanya deretan kebetulan yang tanpa makna. Di balik ambisi kekuasaan dan baku hantam fisik para pemimpin dunia, esai Al Maidah (Perjamuan Terakhir) mengingatkan kita pada satu hal: ada benturan spiritualitas yang sedang terjadi, sebuah pergeseran dari dominasi materi menuju kebangkitan kesadaran ketuhanan.

Lihat saja bagaimana para pemegang otoritas global tampak cemas melihat konfrontasi kemanusiaan di Gaza. Kecemasan itu seolah menyimpan ketakutan mendalam terhadap tegaknya sistem nilai yang bersumber dari wahyu Ilahi. Ada kekhawatiran jika penduduk dunia sadar bahwa kebenaran sejati itu bersifat universal—kebenaran yang dibawa oleh seluruh nabi terdahulu, termasuk Yesus (Isa putra Maryam).

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS 4)

Ketakutan institusional tersebut rupanya klop dengan nubuat akhir zaman. Ketika manusia sibuk menyulut api kehancuran kosmis—yang dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 25 digambarkan sebagai hari ketika langit pecah mengeluarkan kabut putih—sebuah pertanyaan teologis yang bikin merinding pun muncul: sudahkah nubuat kedatangan kembali Nabi Isa AS mendekati waktunya?

Bagi orang beriman, hadirnya beliau kembali bukan sekadar dongeng, melainkan penegasan mutlak. Beliau akan meluruskan sejarah “Perjamuan Terakhir” yang selama ini dibengkokkan oleh peradaban yang gila materi. Peristiwa itu akan mengubah memori masa lalu menjadi sebuah “Perjamuan Akhir Zaman”, membuka semua topeng dan tabir kebenaran langsung di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil.

Mihrab Keluarga dan Ruwat Moral Akhir Zaman

Di tengah kecemasan kosmis dan kepungan materialisme zaman kekinian, ingatan kita dituntun pada suluh wahyu yang membentang sepanjang 200 ayat dalam Surah Ali ‘Imran. Surah Madaniyah ini bukan sekadar rekaman sejarah, melainkan resep spiritual bagi umat yang sedang berkejaran dengan waktu akhir zaman. Nama surah ini diabadikan dari sebuah keluarga pilihan: keluarga ‘Imran, ayah dari Maryam, yang menjadi rahim suci bagi kelahiran Nabi Isa AS.

Narasi luhur ini dimulai dari sebuah nazar di sudut Baitul Maqdis oleh Hana binti Yaqudz, istri ‘Imran. Ia menyerahkan anak dalam kandungannya secara totalitas untuk menjadi hamba yang ikhlas berkhidmat pada agama Allah. Dari rahim kesucian moral dan keteguhan iman itulah Maryam lahir, tumbuh dalam penjagaan ketat adab, hingga melahirkan mukjizat besar dalam sejarah keimanan: Nabi Isa AS. Kisah mereka adalah proklamasi nyata bahwa pertahanan terbaik melawan badai zaman—sekaligus kelanjutan dari misi ruwat moral yang kita gaungkan di tanah pecalang sebelumnya—tidak dimulai dari panggung politik global, melainkan dari meja makan dan mihrab-mihrab keluarga yang bertakwa.

Keteladanan historis ini sekaligus menjadi jawaban atas rintihan kegelisahan terjauh Rasulullah SAW sebelum wafat. Ketika beliau menggumamkan seruan, ” _Ummati, ummati, ummati…_ “, gema kekhawatiran itu melintasi waktu, menembus abad kita hari ini. Sebuah abad di mana umat Islam secara kuantitas melimpah ruah, namun keberadaannya laksana buih di lautan—banyak namun tak bertenaga, terseret arus, dan kehilangan ghirah perjuangan untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Menjadi Buih

Mengapa kita menjadi buih? Jawabannya ada pada racun sekularisme dan _hubuddunya_ (gila dunia) yang hari ini disajikan secara masif ke tengah-tengah kita. Kehidupan akhir zaman telah dilanda gaya hidup hedonisme, sekularisme, dan individualisme ekstrem. Ini adalah proyek sistematis dari kaum globalis-kapitalis, berpadu dengan gerakan liberalisme terselubung ala jejaring Freemasonry dan Illuminati, serta berkolaborasi dengan kekuatan komunisme global. Mereka bersekongkol untuk menguasai episentrum dunia, dan syahdan, Indonesia kini telah dijadikan salah satu sasaran utama aneksasi tersebut.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-3)

Bumi Nusantara hari ini telah menjelma menjadi medan perang Kurusetra kontemporer. Sebuah perang asimetris di mana kaum kafir, bersekutu erat dengan kaum munafik dan fasik domestik, sengaja melakukan operasi perusakan moral ke seluruh sendi kehidupan rakyat, umat, dan bangsa. Tatanan mapan yang berlandaskan falsafah konstitusional Pancasila dan UUD 1945 asli (versi 18 Agustus 1945) didekonstruksi secara brutal selama satu dasawarsa terakhir. Aturan dasar tata kelola negara terus ditabrak tanpa standar moral dan etik demi melanggengkan kekuasaan yang koruptif dan penuh tipu daya.

Implikasinya mengerikan: virus degradasi moral ini menggerogoti aparat penegak hukum, meruntuhkan pilar _good governance,_ dan menyempurnakan kehancuran fondasi moral bangsa melalui UUD 2002 produk amendemen yang manipulatif. Kita hari ini menghadapi situasi genting akhlak, sebuah kondisi darurat nasional di mana figur keteladanan pemimpin formal telah sirna dan digantikan oleh syahwat politik yang rakus.

Di sinilah tugas “Pecalang Bangsa” berpadu dengan relevansi mutlak pemikiran Surah Ali ‘Imran. Ketika negara kehilangan kompas moralnya, maka benteng pertahanan terakhir umat ada pada institusi keluarga. Keharmonisan, kesederhanaan, dan ketakwaan di dalam rumah tangga bukan lagi sekadar urusan domestik, melainkan fondasi esensial untuk melahirkan ketenangan (sakinah) dan keberkahan sosial. Keluarga ‘Imran dan Maryam membuktikan bahwa di tengah lingkungan yang korup dan penuh godaan materi, kesucian adab tetap bisa dijaga jika pucuk keluarga konsisten membimbing dan menanamkan nilai wahyu.

Di era modern yang didominasi oleh gempuran teknologi, kecanduan gawai (gadget), dan pemujaan terhadap uang, kita ditantang untuk melakukan Character Building berbasis keluarga. Gerakan ini harus diorganisasi sebagai bagian dari strategi Soft Revolution —sebuah revolusi sunyi namun tajam untuk merestorasi moral, adab, dan akhlak bangsa Indonesia yang telah hancur.

*Menabur Benih Hidangan di Akhir Zaman: Merajut Keteladanan Ali ‘Imran di Medan Kurusetra Nusantara*

Ketika kegelapan merangkak naik dan akal budi manusia tunduk pada kuasa harta, kita sedang menyaksikan rupa nyata dari “dajjal modern” yang tak kasat mata. Di ambang batas 81 tahun perjalanan bangsa yang diwarnai pencarian melelahkan, sebuah ‘hidangan’ ruhani kini disajikan. Hidangan ini hadir bukan untuk mengenyangkan raga, melainkan untuk membangunkan jiwa yang tertidur lelap, menjemput cahaya kebajikan dari timur dan barat, serta merajakan kembali kemanusiaan melalui kemurnian nurani. Kita sedang bergerak melintasi zaman, bermigrasi dari era kekacauan (Kalatida_ dan _Kalabendu) menuju zaman kebahagiaan (Kala Suba).

Tentu saja, perjuangan mengembalikan jati diri bangsa di medan _Kurusetra_ Nusantara ini tidak akan mudah. Kita tidak hanya akan menemui hambatan teknis, melainkan juga cibiran, fitnah, bahkan penghadangan sistematis dari para penikmat sistem yang rusak. Namun, sebagai pejuang kebenaran, setiap upaya perbaikan ini harus dijiwai dengan niat suci jihad fisabilillah untuk menata kembali tatanan masyarakat dan menyelamatkan Indonesia yang kita cintai. Kita dituntut untuk merajut keteguhan seperti keluarga Ali ‘Imran dalam menghadapi badai ujian tersebut.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Pada akhirnya, kesadaran untuk bergerak adalah bukti bahwa radar hati kita masih berfungsi dengan baik. Ingatlah, sekenyang apa pun kita menikmati dunia, setiap dari kita akan menerima “tagihan” perbuatan dan kembali menghadap Sang Penguasa Tertinggi alam semesta. Di hadapan-Nya, hari pertanggungjawaban akan digelar untuk menilai bagaimana kita menghargai setiap menu kehidupan yang telah disajikan.

Oleh karena itu, jangan biarkan penyakit lalai membuat kita mati rasa dan merusak esensi kehidupan ini. Mampukah kita menghabiskan jamuan usia ini dengan bersih dan mulia sebelum takdir kematian datang mengetuk meja kita? Jawabannya kembali pada kemurahan Tuhan, yang tidak pernah bosan membentangkan petunjuk arah bagi setiap hamba yang tulus mencari-Nya. Fajar tidak pernah lupa jalan pulang, dan perubahan besar itu harus kita mulai dari sekarang.

Sudahkah berada di puncak dunia gelap?

Ketika fitnah merebak,
Tipu daya mengganas
Pembenaran jadi pemenang,
Uang dirajakan?

Kalatida – Kalabendu,
Engkaulah wujud dajjal tak kasat mata

Wahai perempuan langit yang menyatu dengan bumi

Jalan itu ditunggu pembukaannya
Tak perlu menjadi raja untuk membukakan_ _kerajaan diri mereka
Agar bijak merajakan rakyat di zaman Kala Suba

Nyimas Ratu Banten

Dari Barat berpandang ke ufuk Timur
Mentari memendar cahaya sesaat, hanya_ _untuk sesaat_

Bukankah Al-Isra tersurat tegas
Menjadi penyembuh yang sakit
Menjadi rahmat bagi orang beriman
Oleh benderang langit siang.

Menyambut “anak cahaya” yang hadir dalam bentuk ilmu, kekuatan, dan peran spiritual, menegakkan kebenaran.

—-

Judul episode 5 dibelah didapati:

Qs. Surah Al-An’am (6) Ayat ke-2: menjelaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan manusia serta menetapkan batas waktu kehidupan.

Poin Penting Ayat:

Asal-Usul Manusia: Ayat ini menegaskan bahwa manusia pertama (Nabi Adam) diciptakan secara fisik dari tanah.

Dua Jenis Batas Waktu:
– Ajal Pertama: Batas umur setiap individu manusia di dunia hingga datangnya kematian.
– Ajal Kedua (Ajal Musamma): Batas waktu umur dunia secara keseluruhan atau terjadinya hari kiamat yang waktunya mutlak rahasia Allah.

Teguran terhadap Keraguan:
– Bagian akhir ayat menegaskan keheranan atas kaum kafir atau manusia yang masih meragukan kekuasaan Allah tentang hari kebangkitan, padahal mereka tahu Allah yang menciptakan mereka pertama kali.

Berita Terbaru

Perkuat Sinergi dan Hukum, Pelindo Regional 1 Sambangi Kejati Sumut

SUMUTNEWS.CO, MEDAN – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo...

Iran Tolak Serahkan Cadangan Uranium ke Luar Negeri, Iran Ajukan 7 Syarat Mutlak ke AS

SumutNews.co, Teheran — Dalam pertemuan tingkat tinggi di Teheran...

Trump Desak Zelensky Buat Kesepakatan dengan Rusia: Rakyat Ukraina Tak Sanggup Lagi

​SumutNews.co, Washington -Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Presiden...

Kemarin, Inggris Perluas Dukungan Militer ke Arab Saudi, Kerahkan Jet Tempur Hadapi Houthi

SumutNews.co, London – Pemerintah Inggris mengumumkan perluasan dukungan militernya...

Restorasi Karakter Peradaban Indonesia: Menjaga Kemurnian Bangsa Melalui Rasionalisme Emansipatif dan Jangkar Etis Nusantara

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Pendahuluan:...

Berita Terkait