Oleh: Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *
Pernahkah kita menyadari bahwa ancaman terbesar bagi batin itu bukanlah tumpukan dosa yang melahirkan rasa penyesalan? Sering kali, musuh terbesarnya justru adalah kekeliruan-kekeliruan kecil yang berhasil di jinakkan untuk dipeliahara di dalam isi kepala. Inilah inti dari dialog tengah malam dua hari yang lalu, antara saya dengan seseorang yang akrab saya panggil Bapak atau Udak, panggilan hormat untuk menyamakan posisinya serupa dengan adik dari Ayah -disalah satu sudut terpencil kota Panyabungan. Saya kerap mendatangi kediamannya biarpun hanya untuk menanyakan kabarnya dan mendengarkan nasehatnya.
Dalam sosiologi dan psikologi modern, ada istilah yang disebut moral superiority—sebuah kondisi di mana kita merasa level moral kita lebih mulia hanya karena jenis kesalahan yang berbeda, atau kebetulan lebih rapi tersembunyi dari orang lain. Kita menikmati area abu-abu yang cocok dengan gaya hidup kita sendiri, sembari mendadak jadi hakim yang kejam bagi laku hidup sesama.
Secara psikologis, manusia memang arsitek yang sangat ulung dalam urusan membuat pembenaran. Saat berbuat salah dan merasa tidak nyaman—atau mengalami disonansi kognitif—kita dengan cepat meredamnya lewat rasionalisasi yang halus. Menunda shalat atau ibadah lainnya dikompromikan sebagai “konsekuensi profesionalisme karena lelah kerja”. Di sisi lain, membunuh karakter orang lewat gosip dikemas manis sebagai “diskusi keakraban”. Tragisnya, kita sangat menikmatinya dan bahkan ikut menormalisasinya. Kita menciptakan standar ganda yang egois: melunakkan hukum bagi diri sendiri, namun berubah menjadi “algojo” yang kaku saat melihat orang lain tergelincir dalam dosa yang lebih kasat mata.
Hari ini, bias ego ini menemukan panggung terbaiknya di layar ponsel. Kolom komentar media sosial telah bermutasi menjadi ruang pengadilan publik yang murah sekaligus instan. Lewat fenomena cancel culture, jari jempol dengan begitu ringan merumuskan vonis moral terhadap orang asing di balik layar. Aktivitas doomscrolling pun bergeser maknanya; tidak lagi sekadar mencari informasi, melainkan berburu validasi semu bahwa hidup kita jauh lebih lurus dari orang yang sedang viral. Dosa digital ini terasa sangat candu justru karena ia tidak berdarah. Ia bekerja bak anestesi yang perlahan mematikan fungsi reflektif hati.
Sebenarnya, jika mau jujur dengan ego sendiri, menghakimi orang lain adalah cara termurah untuk merasa menjadi orang baik. Dalam psikologi, mekanisme pertahanan ego ini disebut proyeksi. Menyoroti noda di baju orang lain adalah cara bawah sadar agar tidak perlu repot-repot memeriksa ruang gelap di dalam hati kita sendiri. Dengan mendegradasi moralitas orang lain, posisi kita secara ajaib merasa “aman” dan terangkat naik. Kita sibuk mengalihkan isu dari cermin diri sendiri.
Di sinilah sindiran klasik masyarakat kita menemukan momentum puncaknya: semut di seberang lautan kelihatan, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Layar ponsel pintar bertindak bagai lensa makro yang mampu mendeteksi partikel kesalahan terkecil orang lain di kejauhan. Membedah motifnya, kita telanjangi kekurangannya, seolah-olah kita memegang otoritas absolut tentang kebenaran. Sementara itu, “gajah” berupa kemunafikan sistemis, keangkuhan spiritual, dan dosa kenyamanan yang bersarang tepat di depan pupil mata sendiri, mendadak tak kasat mata. Kita mengalami kebutaan moral fungsional karena terlalu sibuk menjadi detektif bagi kehidupan orang lain.
Padahal, semua ini tak lebih dari sekadar metafora cermin yang pecah. Banyak orang tampak saleh di ruang publik bukan karena mereka benar-benar bersih dari noda, melainkan karena Tuhan sedang berbaik hati menutup rapat aib mereka. Sebaliknya, mereka yang tampak rentan dan penuh cela sering kali hanya sedang bersikap jujur terhadap luka, kelemahan, dan proses belajar mereka. Tugas eksistensial sebagai manusia bukanlah mengukur jarak spiritualitas orang lain dengan Tuhan, melainkan sibuk memunguti pecahan cermin ego kita sendiri untuk diperbaiki.
Kesadaran inilah yang digarisbawahi secara presisi dalam teks suci Al-Qur’an, tepatnya pada Surah An-Najm ayat 32. Di sana diingatkan agar manusia tidak terbiasa mengklaim kesucian dirinya sendiri, sebab hanya Tuhan yang paling mengetahui kadar ketakwaan yang sejati di dalam dada. Pesan teologis ini merupakan dekonstruksi radikal terhadap apa yang kita kenal sebagai spiritual pride. Merasa diri paling suci adalah bentuk arogansi paling halus karena ia merusak fondasi kehambaan, membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan ampunan dan rahmat-Nya.
Bahkan jika kita membuka lembaran klasik kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menitipkan sebuah kritik yang sangat menohok. Beliau mengingatkan bahwa orang yang terjebak dalam delusi kesucian diri sebenarnya sedang memelihara dosa kesombongan yang jauh lebih destruktif. Pada titik tertentu, posisi mental yang merasa benar ini bisa jadi lebih berbahaya ketimbang seorang pendosa yang terjaga di sepertiga malam, meratap dan menangisi kerapuhannya. Mengapa? Karena pendosa yang sadar masih memiliki pintu kerendahan hati untuk kembali pulang, sedangkan mereka yang merasa suci sudah mengunci rapat pintu kesadarannya sendiri.
Esensi dari spiritualitas bukanlah tentang menjadi makhluk steril tanpa noda. Hal itu mustahil dan mengingkari fitrah kemanusiaan. Sebagaimana pesan humanis yang pernah disampaikan dalam hadis Nabi Muhammad bahwa setiap anak Adam pada dasarnya adalah subjek yang akrab dengan kekeliruan. Namun, manusia terbaik bukanlah yang bersih tanpa cacat, melainkan mereka yang memiliki kelapangan jiwa untuk tahu diri dan mau berbalik arah (at-tawwabun). Tuhan tidak menuntut kita menjadi entitas yang sempurna, melainkan hamba yang tahu diri saat terjatuh.
Mari ubah cara pandang mulai hari ini. Kita semua hanyalah sekumpulan musafir dengan kecepatan melangkah yang berbeda. Ada yang berlari, ada yang tertatih, dan ada yang baru saja bangkit setelah tersungkur berkali-kali. Jangan pernah mengevaluasi akhir hidup seseorang hanya berdasarkan potret fragmen hari ini. Turunkan lensa penghakiman dari hidup sesama, redam agresivitas jempol di ruang digital, dan seka racun yang kerap keluar dari bibir dalam obrolan harian.
Sebelum mulut kembali bergerak menyebarkan aib sesama, atau jempol ini mengetik vonis kejam di layar kaca, ingatlah satu kenyataan pahit: di hadapan-Nya, kita semua hanyalah barisan pendosa. Perbedaan antara kita dengan orang yang kita hakimi sebenarnya sangat tipis. Bisa jadi mungkin setipis kulit bawang. Tidak lebih suci, tidak lebih bersih, dan tidak lebih mulia dari mereka. Kita hanya sedang beruntung, karena sampai detik ini Tuhan masih bermurah hati menyimpan rapat-rapat semua aib dan kebusukan kita dari mata dunia. Jadi, untuk apa menyombongkan kesucian yang palsu?
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.