Oleh : Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *
Bayangkan sebuah tulisan sebagai air yang mengalir; ia tidak pernah berisik memuji jernihnya sendiri, tetapi orang-orang tahu ke mana harus datang untuk melepas dahaga. Di era digital saat ini, ketika panggung modern memaksa semua orang berlomba-lomba berteriak demi sebuah pengakuan, pilihan seorang penulis untuk tetap membumi justru menjadi daya tarik yang menyegarkan. Teks yang berkualitas tinggi tidak membutuhkan klakson publisitas yang bising dan rIbut dari penciptanya; teks itu sendiri yang akan berbicara, membelah jalurnya sendiri, dan menemukan pembacanya secara organik. Biarkan saja mengalir apa adanya. Toh, tulisan yang sudah disiapkan dengan matang memiliki kakinya sendiri untuk melangkah ke tempat yang tepat.
Lagipula, ada kenyataan jenaka sekaligus mutlak dalam dunia literasi: membaca adalah masalah selera batin yang tidak bisa ditawar. Kita tidak perlu repot-repot merayu atau mengajak orang lain membaca dengan paksaan. Sebab, jika seseorang memang tertarik dengan isi kepalamu, dia akan dengan sukarela melahap habis tulisan itu sampai ke titik terakhir. Sebaliknya, jika seseorang sedari awal memang tidak mau membaca, mau dibilang apa coba? Jangankan sekadar disodori tautan di kolom komentar atau dipajang diberbagai WAG, bahkan sekalipun orang itu diancam dengan senjata api di depan kepalanya, jika hatinya menolak, kata-kata itu hanya akan menjadi barisan huruf mati yang garing di matanya. Memaksa pembaca hanya akan mencederai kemurnian gagasan yang sudah kamu rakit dengan susah payah.
Menundukkan kepala di tengah riuhnya industri kreatif hari ini tentu bukan perkara mudah—saya rasa, di titik inilah ego kita bener-bener diuji habis-habisan. Penulis modern kerap dihadapkan pada benturan realitas yang cukup melelahkan karena, yah, di satu sisi ada tuntutan personal branding yang kuat, ditambah paksaan untuk ramah pada algoritma yang candu akan angka-angka validasi. Tapi penulis yang bijak? Mereka bakal menolak diperbudak oleh jumlah likes, views, atau pujian instan yang fana. Ingat kata Roland Barthes soal hukum alam dalam literasi: “begitu tulisan lahir maka penulisnya telah mati”. Kuasa tafsir sepenuhnya berpindah ke tangan pembaca. Jadi, membanggakan tulisan sendiri itu rasanya kok sia-sia banget, ya? Teks yang egois dan merasa paling benar justru akan terasa kaku, dingin, serta menutup ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas dan berdialog di dalamnya.
Persis seperti arus sungai yang terus bergerak mencari muara, proses kreatif adalah perjalanan transendental yang tidak pernah menemui ujung. Hari ini mereka membaca lebih banyak, besok mereka meriset lebih dalam, dan lusa mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Rasa tidak pernah puas dan keengganan untuk mendewakan karya sendiri inilah yang menjaga motor kreativitas tetap menyala—sebuah kegelisahan sehat yang langsung padam begitu racun kesombongan masuk ke kepala. Ketika ego disingkirkan, fokus penuh seorang penulis akan kembali pada esensi terdalam: merajut kata demi kata dengan jujur demi kenyamanan audiensnya. Pada akhirnya, kebanggaan terbesar seorang penulis tidak akan pernah terletak pada seberapa keras mereka memuji diri sendiri di depan publik, melainkan pada seberapa dalam tulisan mereka mampu menetap, meresap, dan mengalir di kepala serta hati orang-orang yang menikmatinya.
Menolak untuk membanggakan karya juga merupakan cara terbaik untuk merawat kewarasan di tengah riuhnya budaya tandingan yang serba pamer. Ketika seorang penulis terlalu larut dalam euforia pujian atas satu judul tulisan yang ia anggap sangat genius, ia sedang membangun tembok tinggi yang menghalangi dirinya dari kritik. Kritik, sepedas apa pun, adalah vitamin yang dibutuhkan agar susunan kalimat di masa depan menjadi lebih bertenaga. Penulis yang jemawa cenderung defensif, padahal karya yang hebat sering kali lahir dari proses bongkar pasang pasca-evaluasi yang menyakitkan.
Lihatlah sungai yang tersumbat oleh tumpukan batu keangkuhan akan berhenti mengalir dan perlahan menjadi keruh. Sebaliknya, sungai yang membiarkan dirinya mengalir bebas, melewati kelokan tajam dan bebatuan terjal berupa kritik, akan selalu menemukan cara untuk tetap jernih dan menyegarkan siapa saja yang singgah di tepiannya.
Dunia kepenulisan modern tidak kekurangan orang cerdas yang pandai merangkai diksi indah, tetapi dunia ini sangat haus akan ketulusan yang murni. Menulis dengan hati yang tenang, tanpa tendensi untuk dinilai paling hebat, membuat untaian kalimat terasa lebih organik dan jujur. Pembaca hari ini sudah sangat cerdas; mereka bisa merasakan mana tulisan yang dibuat untuk sekadar memuaskan ego si penulis, dan mana tulisan yang lahir dari empati mendalam untuk merangkul perasaan mereka. Ketika sebuah karya mampu menggerakkan jiwa tanpa perlu ditopang oleh kesombongan penciptanya, di situlah derajat tertinggi kepenulisan tercapai.
Tulisan yang tulus adalah sebuah monumen tanpa nama yang megah. Penulis yang memilih luruh dan takzim di hadapan kebenaran kata-katanya tidak akan pernah mengemis pada keabadian. Sebab mereka tahu, bukan pundak mereka yang menopang sejarah, melainkan kejujuran gagasan mereka yang akan terus hidup, berbisik lirih dalam sunyi, dan memandu akal budi manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.