SUMUTNEWS.CO, Bogor — Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sepuluh mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di kediaman pribadinya di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu (8/11/2026).
Pertemuan tertutup berskala besar ini memantik perhatian publik bukan hanya karena kehadiran para jenderal purnawirawan kepolisian lintas masa, melainkan juga kehadiran langsung Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di sisi Presiden.
Duduk semeja di bukit Hambalang, Prabowo didampingi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M. Herindra, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Tandyo Budi Revita, serta Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
Di seberang mereka, duduk sepuluh purnawirawan jenderal bintang empat yang memimpin Korps Bhayangkara dari era reformasi hingga 2019: Rusdiharjo, Roesmanhadi, Surojo Bimantoro, Da’i Bachtiar, Sutanto, Bambang Hendarso Danuri, Timur Pradopo, Sutarman, Badrodin Haiti, dan Tito Karnavian yang kini menjabat Menteri Dalam Negeri.
Dimensi Konsolidasi Militer dan Kepolisian
Kehadiran serempak figur-figur kunci pertahanan dan keamanan aktif dalam forum purnawirawan kepolisian tersebut dibaca para pengamat sebagai sinyal konsolidasi kekuasaan yang terencana, antara lain:
Penyatuan Frekuensi TNI-Polri di Level Strategis: Tampak aktifnya Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mempertegas bahwa agenda Hambalang melampaui urusan teknis kepolisian.
Kehadiran dua petinggi militer tersebut memperlihatkan pesan tegas dari Prabowo bahwa stabilitas keamanan dalam negeri dan pertahanan nasional berada dalam satu garis koordinasi komando terpadu.
Bantalan Politik bagi Pucuk Pimpinan Baru: Di tengah dinamika institusi kepolisian, duduknya Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bersama Panglima TNI, Menhan, serta para senior Polri dipandang sebagai upaya membangun legitimasi komando yang kokoh.
Hal ini dinilai krusial guna memastikan loyalitas hierarki aparatur tetap tegak dan steril dari gesekan internal.
Doktrin Keamanan Terintegrasi: Keberadaan Sjafrie Sjamsoeddin di meja perundingan mencerminkan pendekatan khas Prabowo yang memandang keamanan domestik tak terpisahkan dari ketahanan nasional secara makro.
Forum ini mengindikasikan adanya orkestrasi pencegahan dini atas potensi turbulensi politik-hukum ke depan.
Menelisik Kursi Mantan Kapolri yang Kosong
Di balik deretan jenderal senior yang hadir bersama pimpinan TNI dan Menhan, absennya nama-nama eks-pucuk pimpinan Korps Bhayangkara era 2019–2024, seperti Jenderal (Purn.) Idham Azis dan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowotetap menjadi sorotan tajam berbagai analisis media.
Ketidakhadiran figur-figur dari periode terdekat tersebut memicu spekulasi mengenai arah restrukturisasi pengaruh dan faksi di tubuh aparat penegak hukum di bawah kendali pemerintahan saat ini.
Meski Istana dan Mabes Polri menyatakan forum ini sekadar silaturahmi kebangsaan, kehadiran pimpinan matra militer bersama para sesepuh Bhayangkara di Padepokan Garuda Yaksa memperlihatkan garis batas yang jelas: kontrol stabilitas keamanan negara sedang diperketat langsung dari poros Hambalang. (SN08)