SYEKH H. MAHMUD FAUZI AN-NAQSYABANDI (1947-2017): Pelanjut Thariqah Syekh Abdul Manan di Padangsidimpuan

Dr. Zainal Efendi Hasibuan (Akademisi UIN Syahada Padangsidimpuan)

Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi memiliki nama kecil Sofyan Sauri. Ia berasal dari keluarga sederhana dan bukan dari keturunan keluarga ahli agama. Bahkan, tidak ada satu pun saudaranya yang menjadi ulama. Beliau sangat menyukai gulai ikan, sehingga hobinya adalah membuat kolam ikan yang dalam bahasa setempat disebut tobat.

Ayah beliau ahli dalam kesenian dikir, sebuah kesenian yang sangat terkenal pada masanya. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan pada acara pesta pernikahan, sehingga ayah beliau sering dipanggil untuk membawakannya.

Latar Belakang Keluarga

Beliau dilahirkan di Desa Pijorkoling pada tanggal 3 Februari 1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka. Ayahnya bernama Lobe Ahmad Gozali Siregar dan ibunya bernama Emma.

Dari pernikahan pertama ayahnya, lahir dua orang putra. Putra pertama adalah Abdus Syukur yang telah berpulang ke rahmatullah dan dimakamkan di Pijorkoling, tanah kelahirannya. Putra kedua adalah Sofyan Sauri yang kini kita kenal dengan nama Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi.

Setelah ibunda Syekh H. Mahmud Fauzi wafat, ayahnya menikah kembali. Dari pernikahan kedua tersebut, beliau memiliki dua orang adik, yaitu Sulpak dan Masrah. Kedua adiknya tersebut masih hidup dan kini tinggal di Desa Sigalangan yang tidak jauh dari Desa Pijorkoling.

Ibunda Syekh H. Mahmud Fauzi dimakamkan di Desa Huta Lombang, desa tempat tinggal beliau bersama istri dan anak-anaknya. Sementara ayahnya dimakamkan di Desa Dalan Lidang karena pada saat itu beliau dibawa berobat ke sana, kemudian wafat dan dimakamkan di sana.

Dalam keseharian, Syekh H. Mahmud kerap berpenampilan seperti orang Arab, yaitu memakai jubah dan jas serta sorban. Beliau tidak terlalu menyukai pakaian koko dan jenis pakaian lainnya.

Riwayat Pendidikan

Syekh H. Mahmud Fauzi menempuh pendidikan dasar di SD Pijorkoling, tempat kelahirannya. Setelah lulus, beliau melanjutkan pendidikan menengah dan jenjang Aliyah di Pondok Pesantren Basilam Baru.

Setelah lulus dari Basilam Baru, beliau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Beliau memanfaatkan ilmu yang diperoleh dari pesantren untuk menegakkan agama Allah dengan cara berdakwah di desanya. Kadang-kadang beliau juga diundang untuk mengisi pengajian di daerah lain, seperti Sipirok, Tano Udon, dan wilayah lain di Tapanuli Selatan.

Syekh H. Mahmud Fauzi juga bergabung dalam organisasi bernama PPTI (Partai Persatuan Tharikat Islam) pada tanggal 31 Juli 1950.

Melalui organisasi PPTI tersebut, beliau memperdalam ilmu thariqah. Ilmu yang paling dikenal dari Syekh Mahmud Fauzi adalah ilmu Thariqah. Dalam berdakwah, beliau dibimbing langsung oleh gurunya, Syekh Abdul Manan, yang juga merupakan guru beliau semasa di pondok pesantren. Syekh Abdul Manan adalah sosok yang mendorong dan memotivasi Syekh H. Mahmud Fauzi untuk semangat menyiarkan agama Islam. Syekh Abdul Manan sendiri merupakan murid dari Syekh Abdul Wahab Rokan.

Syekh H. Mahmud Fauzi banyak menuntut ilmu dari Syekh Abdul Manan. Gurunya tersebutlah yang sering membawa beliau untuk berdakwah ke berbagai daerah di Tapanuli Selatan.

Parsulukan Darus Sofiyah

Karena keahlian dan ketekunannya dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam, serta ilmu Thariqah yang sudah mantap, beliau berinisiatif membuka tempat persulukan untuk para lansia yang diberi nama Parsulukan Darus Sofiyah. Arti dari nama tersebut adalah tempat yang suci, karena tempat persulukan itu bertujuan untuk menyucikan jiwa dan raga dengan senantiasa berzikir kepada Allah dan meninggalkan segala hal yang berhubungan dengan kesenangan duniawi.

Parsulukan ini didirikan pada tahun 1990-an. Pada masa awal, jumlah jamaahnya mencapai lebih dari 100 orang. Dana pembangunan persulukan ini berasal dari infak pemerintah dan masyarakat setempat.

Atas kesuksesannya dalam berdakwah dan membangun tempat persulukan, gurunya, Syekh Abdul Manan, menganugerahkan gelar Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi kepadanya. Sejak saat itu, nama Sofyan Sauri berubah menjadi Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi.

Berdasarkan wawancara dengan istri kedua beliau, Parsulukan Darus Sofiyah merupakan tempat persulukan pertama yang dibangun di Huta Lombang, dan Syekh H. Mahmud Fauzi adalah orang pertama yang memiliki tempat persulukan di sana. Parsulukan ini memiliki 25 pondok, satu masjid, dan dua bale-bale untuk aktivitas persulukan.

Dari persulukan yang dibangunnya, beliau mendapatkan hadiah dari pemerintah berupa pemberangkatan haji ke Baitullah di Kota Makkah. Beliau juga memiliki seorang sahabat dekat yang berasal dari Pekanbaru, yang memberinya hadiah untuk melaksanakan ibadah umrah bersama.

Selain itu, beliau juga mendirikan pondok pesantren di Sipirok yang diberi nama Darus Sofiyah. Kepala sekolahnya adalah putra beliau yang keempat, sedangkan ketua yayasannya adalah Syekh H. Mahmud sendiri. Setelah beliau wafat, jabatan ketua yayasan diserahkan kepada putra kelimanya, Abdullah Efendi Siregar.

Kehidupan Keluarga

Pada saat mendirikan persulukan, Syekh H. Mahmud Fauzi telah menikah dengan seorang wanita lulusan pondok pesantren ternama, yaitu Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, yang bernama Khairani. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh orang anak, terdiri dari tiga laki-laki dan empat perempuan, yaitu:
1. Azizah Fitri Siregar, pendidikan terakhir SMA.
2. Rabiatul Adawiyah Siregar, pendidikan terakhir SMA.
3. Nur Hamida Siregar, pendidikan terakhir SMA. 4. Muhammad Amin Siregar (sahabat penulis), pendidikan terakhir S2 UIN Syahada Padangsidimpuan.
5. Abdullah Efendi Siregar (sahabat penulis), pernah menempuh pendidikan di Makkah, kemudian bekerja sebagai pemandu jemaah haji dan umrah.
6. Nur Ainun (adik kelas penulis di Pesantren Jabalul Madaniyah Sijungkang), pendidikan terakhir STAIN Padangsidimpuan.
7. Edi Ahmad Siregar, pendidikan terakhir sekolah menengah, kemudian memilih bekerja dengan kakaknya di Jakarta.

Setelah memiliki tujuh orang anak, istri pertama beliau, Ibu Khairani, wafat pada bulan Ramadan karena batuk darah. Secara non-medis diduga terkena racun, sedangkan secara medis penyakitnya adalah kanker paru-paru.

Setelah ditinggal istri tercinta, Syekh H. Mahmud Fauzi berusaha mencari pendamping baru dengan melamar seorang gadis yang masih memiliki hubungan persaudaraan dengannya. Akhirnya, beliau melabuhkan hatinya kepada Ibu Seriati Harahap.

Ibu Seriati Harahap bukan berasal dari latar belakang agama yang kuat. Beliau merupakan lulusan SMA Abdi Negara di Kota Padangsidimpuan dan sehari-hari bekerja menjual pakaian di pekan-pekan sekitar Kota Padangsidimpuan. Pada saat menikah, selisih usia mereka 13 tahun. Mahar yang diberikan berupa sejumlah uang. Beliau tidak mau memberikan mahar berupa seperangkat alat salat karena menganggap amanah dan tanggung jawabnya sangat besar.

Menurut Ibu Seriati Harahap, Syekh H. Mahmud adalah sosok yang tidak banyak bicara. Beliau lebih suka berdiam diri dengan menunduk dan berzikir di masjid daripada berbincang-bincang di tempat keramaian, seperti saat melayat. Beliau adalah orang yang pendiam dan tidak suka dipuji, bahkan tidak suka memperlihatkan ilmunya.

Ibu Seriati bercerita bahwa Syekh H. Mahmud mampu membuat orang yang mencuri tidak tahu arah pulang, di mana orang tersebut merasa di hadapannya adalah lautan yang tidak berujung. Namun, Syekh H. Mahmud tidak mau menggunakan ilmunya tersebut karena merasa kasihan dan tidak ingin membuat orang tersebut malu karena berjalan memutar-mutar.

Beliau juga sangat gemar membuat kolam ikan atau tobat. Jika pergi ke sawah, beliau mencangkul untuk membuat tobat sebagai tempat beternak ikan. Untuk pekerjaan sawahnya, beliau menyuruh orang lain dan memberinya upah, dengan niat agar orang lain juga mendapat rezeki melalui dirinya. Selain ikan, beliau juga menyukai kacang tanah rebus dan jagung, tetapi tidak menyukai buah-buahan.

Selain aktif dalam kegiatan keagamaan, Syekh H. Mahmud juga melebarkan sayap kepemimpinannya ke dunia politik. Beliau pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan di daerah Panyabungan, sehingga semakin dikagumi karena tidak hanya ahli di bidang agama, tetapi juga berkontribusi di bidang politik. Namun, Ibu Seriati Harahap tidak ingat lagi nama partai politik yang bekerja sama dengan beliau.

Ibu Seriati mengatakan bahwa mereka sering melaksanakan salat duha dan tahajud bersama. Beliau menganggap bahwa menikah dengan Syekh H. Mahmud adalah doa yang dipanjatkannya kepada Allah yang menjadi kenyataan, meski harus menunggu waktu yang cukup lama.

Dari pernikahan dengan Ibu Seriati Harahap, Syekh H. Mahmud tidak dikaruniai anak karena Ibu Seriati mengalami keguguran hingga tiga kali. Namun, mereka tidak merasa kecewa. Seperti ucapan Ibu Seriati, “Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa dan mungkin si cabang bayi tidak ingin hidup susah bersama kami.”

Syekh H. Mahmud memiliki 21 orang cucu, yang paling kecil berusia 9 bulan dan yang paling besar sudah ada yang bekerja.

Wafat

Menjelang wafatnya, Syekh H. Mahmud sudah memiliki firasat bahwa waktunya tidak lama lagi. Beliau sempat bercanda dengan istrinya, Ibu Seriati Harahap, dengan bertanya, “Bagaimana jika aku meninggalkanmu?” Ibu Seriati menjawab, “Janganlah! Kau di sini saja.” Saat itu, Ibu Seriati juga sudah memiliki firasat bahwa ajal Syekh Mahmud sudah dekat.

Syekh H. Mahmud juga sering memperhatikan Ibu Seriati dari kejauhan. Jika Ibu Seriati menoleh, beliau seakan memalingkan wajahnya.

Kemudian, Syekh H. Mahmud menyuruh menantunya untuk menelepon semua anaknya yang berada di luar Padangsidimpuan agar segera datang ke rumahnya di Huta Lombang No. 91. Saat hendak meninggal dunia, beliau masih bisa berjalan meskipun harus dipapah oleh sang istri menuju ruang tamu.

Setelah dihubungi, anak-anak beliau langsung datang. Pada saat itu, beliau memang sudah sakit-sakitan karena faktor usia, dengan penyakit yang diketahui adalah penyakit gula.

Syekh H. Mahmud wafat dalam posisi duduk di ruang tengah. Beliau duduk berhadapan dengan Ibu Seriati Harahap sambil berzikir, sedangkan anak dan menantunya duduk di samping kiri dan kanannya. Ibu Seriati masih melihat dengan jelas bahwa beliau masih berzikir hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada sore hari, tanggal 14 Ramadan tahun 2017.

Pesan terakhir yang ditinggalkan Syekh H. Mahmud kepada istrinya adalah sebuah zikir yang beliau sarankan agar jangan pernah dilupakan, karena zikir tersebut dapat memudahkan seseorang saat menghadapi sakaratul maut.

Beliau dimakamkan di depan rumahnya yang beralamat di Huta Lombang, tempat di mana ia mendirikan Parsulukan Darus Sofiyah. Di sana terdapat bale-bale tempat persulukan yang terdiri dari dua lantai. Di lantai pertama, jasad Syekh Mahmud Fauzi disemayamkan bersebelahan dengan istri pertamanya dan di sampingnya juga terdapat makam ibunda tercintanya. Tempat ini memang telah diatur sebagai tempat pemakaman keluarga besar Syekh Mahmud Fauzi. Makam beliau dan istrinya belum diberi batu nisan karena, sebagaimana dikatakan oleh istri keduanya, tempat pemakaman tersebut masih akan direnovasi.

Penutup

Demikianlah sekilas perjalanan hidup Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi, seorang ulama sederhana yang istiqamah dalam zikir, dakwah, dan thariqah. Dari Desa Pijorkoling hingga Huta Lombang, beliau telah menorehkan jejak pengabdian yang tidak hanya membangun bangunan fisik berupa Parsulukan Darus Sofiyah, tetapi juga membangun jiwa-jiwa manusia untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

Keteladanan beliau dalam kesederhanaan, keikhlasan, pendiamnya dari pujian, serta kecintaannya pada kesucian hati patut menjadi pelajaran bagi kita semua. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah pada gelar dan harta, melainkan pada seberapa dekat hati kita dengan Sang Pencipta.

Kini, beliau telah berpulang ke haribaan Allah SWT pada hari yang mulia, di bulan yang mulia, dalam keadaan berzikir. Sungguh akhir yang husnul khatimah yang didambakan setiap mukmin.

Mari kita doakan bersama:
Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu.
Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, sejahterakanlah beliau, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah tempat kembalinya, dan lapangkanlah tempat masuknya.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi para shalihin, para syuhada, dan para auliya. Semoga ilmu, zikir, dan persulukan yang telah beliau rintis menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Semoga generasi penerus, keluarga, murid-murid, dan kita semua dapat melanjutkan perjuangan beliau dalam menjaga Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah dan menyebarkan cahaya Islam dengan penuh hikmah dan keikhlasan.

Al-Fatihah untuk Syekh H. Mahmud Fauzi Al-Khalidi An-Naqsyabandi.

Wallahu a’lam bishawab.

Populer Minggu ini

PSMS Medan Bidik Kemenangan Perdana, Persiku Kudus Jajal Stadion Utama Sumatera Utara

Medan, SUMUTNEWS.CO– PSMS Medan membidik kemenangan perdana saat menjamu...

HUT PAN 28 Tahun, Prabowo Sentil Pakar Penyebar Fitnah: Cendekiawan Harus Jujur & Kutip Al-Baqarah 191

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan menohok...

Brentford Hancurkan Chelsea 3-0 di Premier League 2026/2027

Medan, SUMUTNEWS.CO – Brentford meraih kemenangan meyakinkan atas Chelsea...

Jutaan Warga Yaman Demonstrasi: Kecam Dugaan Propaganda Arab Saudi Tentang Adanya Serangan ke Kota Suci Makkah

SUMUTNEWS.CO, Medan - Menginformasikan aksi unjuk rasa skala besar pada...

Inilah 3 Drakor Netflix yang Dibintangi Ji Chang Wook, Terbaru Ada The Scandal

Medan, SUMUTNEWS.CO – Ji Chang Wook menjadi salah satu...

Berita Terkait