Oleh: Moechtar Nasution
Di kaki Gunung Sorik Marapi yang menjulang, tersimpan sebuah narasi budaya yang mengalir bersama jernihnya air hangat di Desa Hutaraja, Kecamatan Panyabungan Selatan. Pemandian Aek Milas Hutaraja bukan sekadar fenomena geologis berupa sungai hangat biasa. Lebih dari itu, tempat ini adalah sebuah “spa alami” sekaligus ruang budaya hidup di mana masyarakat Mandailing merawat keselarasan antara alam, tubuh, dan nilai-nilai spiritual yang telah mengakar selama berabad-abad lamanya.
Secara geografis, Hutaraja adalah sebait puisi yang ditulis alam dengan sangat presisi. Desa ini berdiri di atas tanah yang diberkahi, subur dan kaya dengan sumber daya alam. Posisi spasialnya begitu intim karena ia merapat pasrah di atas hamparan lereng dan pelataran pinggang Sorik Marapi, pada ketinggian di mana udara dingin pegunungan murni bertemu dengan uap-uap vulkanik yang mendidih di perut bumi. Bentang posisinya kian dramatis karena desa ini dikunci dan ditenun oleh labirin aliran sungai-sungai kecil yang senantiasa mengepulkan uap putih. Posisi geografis yang terjepit di antara dinginnya elevasi ketinggian dan hangatnya rahim tektonik inilah yang membuat Hutaraja menjelma menjadi kantong kedamaian tersembunyi yang bergetar lembut di jantung Mandailing Natal.
Langkah kaki menuju pemandian ini adalah sebuah perjalanan untuk merawat ketenangan, kedamaian dan kebersahajaan. Melewati jalan setapak yang membelah pematang saba (sawah) berukuran kecil, mata akan dimanjakan oleh barisan pohon kelapa yang menjulang tinggi, melambai pelan seakan menyapa langit senja. Di bawah naungan hijau itulah, Aek Milas mengalir sunyi. Sungai dangkal ini menyimpan pesona visual yang magis karena dasar sungainya dilapisi warna hijau lumut yang pekat dan tenang, kontras dengan permukaan air tempat uap panas menari-nari dan melayang tipis tertiup angin gunung. Uap putih yang mengepul itu seolah-olah menjadi napas bumi, menghadirkan kehangatan purba yang meneduhkan jiwa siapa saja yang datang mendekat.
Bagi masyarakat Hutaraja, Gunung Sorik Marapi bukanlah sosok raksasa batu yang menakutkan, melainkan natoras—orang tua yang mengayomi, mengawasi, dan memberi kehidupan. Di balik tubuhnya yang menyimpan api bawah bumi, ia melahirkan kehangatan yang mengalir tiada henti sebagai karunia welas asih bagi anak cucunya. Pertemuan belerang, dan kapur mengalir tanpa aroma menyengat, layaknya ramuan kasih sayang yang diracik langsung dari rahim bumi. Berendam di “spa alami” ini  adalah ritus ubat yang sangat intim. Saat raga bersentuhan dengan riak airnya, di bawah tatapan pohon-pohon kelapa yang menjulang, ada dialog sunyi yang terjadi. Kehangatan ini perlahan meluruhkan ngalut (rasa penat dan letih) di punggung dan kaki para petani, menyembuhkan luka-luka kulit, dan mengalirkan kembali gogo (kekuatan) ke dalam urat-urat nadi manusia yang lelah setelah seharian memijak bumi.
Kehadiran air hangat ini melahirkan sebuah perjanjian tak tertulis antara manusia dan alam, sebuah kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga sopan santun bertutur kata serta kesopanan perilaku. Masyarakat percaya, Sorik Marapi senantiasa mendengar dan responsif. Air hangat yang menyembuhkan ini adalah upah dari kesetiaan manusia merawat gunung, sebuah tanda bahwa alam sedang bersahabat. Menjaga kebersihan dan kehormatan di pemandian ini bukan sekadar urusan moral, melainkan cara manusia Hutaraja membalas kebaikan sang gunung agar keberkahan ini tidak lekas surut menjadi amarah.
Di balik riwayatnya, Aek Milas Hutaraja sejak dahulu adalah tempat bersandarnya kelelahan kolektif. Ia mengalir dan menjadi pelabuhan terakhir bagi para petani setelah seharian memeras keringat. Kehangatan sungai ini melarutkan sisa-sisa penat dari tubuh-tubuh yang lelah bekerja, menjadikannya spa komunal gratis yang membasuh kelas pekerja pedesaan dengan martabat yang sama.
Suasana di spa alami ini mencapai puncak magisnya ketika matahari mulai condong ke barat, di waktu sela antara Asar dan menjelang Magrib. Saat kepulan uap hangat berpadu dengan sejuknya angin senja pedesaan, waktupun seolah berjalan melambat. Riak air hangat yang menyapu bebatuan berpadu harmonis dengan sayup-sayup suara azan, menciptakan atmosfer kontemplatif yang menyatukan pembersihan raga dengan ketenangan batin sebelum menutup hari.
Namun, ritual pemulihan ini belumlah usai sebelum raga yang basah dan hangat itu menyapa cita rasa lokal yang menggetarkan lidah. Tepat di pinggiran Aek Milas, atau di bawah atap bersahaja lopo yang berdiri di sekitarnya, kehangatan beralih dari kulit menuju sesapan rasa. Menyeruput secangkir Kopi Mandailing yang tersohor itu—dengan karakter pekat yang tebal, manis cokelat yang samar, dan jejak rasa tanah yang jujur—setelah tubuh dibasuh air hangat gunung, memberikan sebuah sensasi kepuasan yang tiada tara.
Bagai sebuah simfoni, pahit dan hangatnya kopi berpadu dengan sisa uap air di pori-pori tubuh menciptakan kehangatan ganda yang menjalar dari tenggorokan hingga ke relung dada. Bagi mereka yang mendamba ketenangan yang lebih lembut, segelas teh manis panas yang diseruput perlahan sambil duduk mengangkat kaki sebelah dilopo menjadi penutup yang tak kalah syahdu.
Kehadiran piring kecil berisi gorengan hangat yang baru diangkat dari kuali kian menambah dramatisasi senja itu. Gigitan renyah berpadu dengan uap angin gunung yang dingin membuat waktu seakan betah berhenti lama. Dan bilamana perut terasa kian lapar setelah pori-pori raga dimanjakan air hangat, maka pilihan terbaik yang tiada tandingnya adalah menyantap sepiring lontong yang disajikan panas-panas. Kuah santannya yang gurih berempah membakar semangat, berbaur dengan sisa kehangatan vulkanik yang masih menempel di kulit tubuh. Di lopo kecil inilah, sembari jemari melingkari gelas hangat dan sendok lontong, rasa syukur bersemi dengan cara yang paling sederhana, mengenyangkan, dan membumi.
Nilai kebudayaan Islam yang kuat di tanah Mandailing juga mengalir harmonis dalam tata sosial di spa alami ini. Penerapan aturan yang memisahkan lokasi berendam antara laki-laki dan adaboru (perempuan) adalah wujud nyata dari penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan kepantasan sosial yang berlaku. Pemisahan ini menjaga marwah dan rasa hormat tanpa membatasi kehangatan ruang sosialnya. Di sinilah tempat merajut tali persaudaraan (dongan). Sambil merendam kaki dalam kehangatan yang hanyut di atas dasar sungai yang menghijau, atau saat duduk di lopo menikmati seduhan kopi dan lontong panas, warga lokal maupun pendatang duduk berdampingan, saling bertukar cerita atau mangkatai. Di atas batu-batu kali Hutaraja, riuh tawa dan keluh kesah melebur menjadi satu dan memperkuat tali silaturahmi.
Secara keseluruhan, “Spa di Kaki Gunung Sorik Marapi” ini adalah simbol dari bagaimana sebuah peradaban bernapas bersama alam sekitarnya. Ia adalah esensi dari kebudayaan Mandailing yang dinamis namun tetap teguh memegang prinsip: menerima kebaikan gunung dengan penuh rasa syukur, merawatnya dalam dekapan moral dan agama, serta membiarkan kehangatan posisi geografisnya, rasa kopi, gorengan senja, dan kuah lontong yang pekat itu mengalir, menyembuhkan jiwa, raga, serta ingatan setiap jiwa yang datang bertamu.
Ayo, datanglah kesini, tanggalkan sejenak kesibukanmu lalu turunlah perlahan untuk membiarkan ragamu tenggelam dalam pelukan riak airnya.
Wallohu Aqlam Bisshawab…