PADANGSIDIMPUAN: DARI PERSINGGAHAN GARAM MENJADI GERBANG ISLAM DAMAI: Bantahan Narasi Paderi 1816 Sebagai Titik Awal Islam di Angkola-Mandailing

Keramaian Masyarakat adat Mandailing Angkola sekitar 1870-an. Arsip: Tropenmuseum. Foto diperbarui ke versi berwarna secara digital

Penulis: Dr Zainal. E. Hasibuan
Akademisi UIN Syahada Padang Sidempuan

Pendahuluan
Buku sekolah menulis 1816: Islam datang dengan kuda Paderi. Arsip tua menulis lain: Islam datang dengan garam dan kain, jauh sebelum kuda itu berderap. Mari kita dengarkan arsip itu berbicara dengan bahasanya sendiri.

I. Padangsidimpuan, Hamparan Tinggi Tempat Garam Bertemu Emas

Sumber Primer Belanda – Wikipedia English, mengutip Staatsblad No.563/1937:

Teks Asli Inggris:
“Around 1700, Padangsidimpuan was a small hamlet frequently visited by traders as a resting place… including fish and salt traders traveling the routes of Sibolga–Padangsidempuan–Panyabungan and Padang Bolak (North Padang Lawas)–Padangsidimpuan–Sibolga”

Terjemahan:
“Sekitar 1700, Padangsidimpuan adalah dusun kecil yang sering dikunjungi pedagang sebagai tempat istirahat… termasuk pedagang ikan dan garam yang bepergian rute Sibolga-Padangsidimpuan-Panyabungan dan Padang Bolak-Padangsidimpuan-Sibolga”

Analisa:
Bayangkan tahun 1700. Belum ada benteng, belum ada meriam. Yang ada hanya lembah luas di ketinggian, diapit Batang Ayumi. Di situlah para pedagang berhenti. Dari Sibolga mereka pikul garam yang oleh orang Angkola disebut Sira dan ikan asin. Dari Padang Bolak mereka bawa emas yang masih berkilau dari tanah Padang Lawas. Mereka bertemu di hamparan tinggi itu. Padangsidimpuan lahir bukan dari perang, tapi dari perhentian. Ia adalah entrepot, 121 tahun sebelum Paderi membangun Benteng Batang Ayumi di atas pasar yang sudah ada.

Sumber Primer Jalur Batang Toru–Junghuhn 1840, Rosenberg, Algemeen Handelsblad 1847:

Teks Asli Indonesia (Arsip Kolonial):

“Barus sudah dikenal sejak jaman perdagangan kuno… produk-produk alami seperti kamper dan kemenyan… Penduduk Batak yang mengusahakan kamper dan kemenyan ini mentransfer ke Barus untuk dipertukarkan dengan produk luar seperti garam, besi dan kain”

“Salah satu koridor aliran produk-produk alami itu yang juga jalur produksi adalah sungai Lumut via Batangtoru menuju Angkola… tidak hanya kamper dan kemenyan tetapi juga emas”

Analisa:
Inilah logika ekonomi yang membawa agama. Orang pedalaman Angkola punya kamper yang harumnya sampai ke Mesir, kemenyan yang dibakar di gereja-gereja Eropa, dan emas yang berkilau. Tapi mereka tidak punya garam untuk mengawetkan makanan, tidak punya besi untuk mata cangkul, tidak punya kain untuk menutup tubuh. Garam, besi, kain hanya ada di pesisir, dibawa pedagang Muslim dari Barus, Natal, Sibolga. Maka terjadilah pertukaran yang abadi: emas ditukar garam, kamper ditukar kain. Kain itu bukan sekadar kain, ia adalah penutup aurat. Garam itu bukan sekadar garam, ia dibawa oleh orang yang sholat. Di pertukaran itulah Islam merembes pelan.

Sumber Primer Perjalanan 1701 & 1772:

Teks Asli Indonesia (Catatan Kastil Batavia & Laporan Miller):
“Pada tahun 1701 seorang pedagang Tionghoa melakukan perjalanan dari Angkola menuju Barus selama 11 hari”

“Charles Miller melakukan ekspedisi ke Angkola tahun 1772”
Analisa:
Sebelas hari berjalan kaki dari Angkola ke Barus tahun 1701. Tiga tahun sebelum abad 18 berakhir, seorang Inggris bernama Miller berjalan dari Pulau Poncan di Teluk Tapanuli menuju Hutaimbaru di Angkola. Jalur itu sudah mapan, sudah diinjak ribuan kaki pedagang. Seratus tahun sebelum Paderi, jalan Barus-Angkola sudah menjadi urat nadi.

II. Nama Angkola dan Padang Bolak Sudah Tercetak di London Tahun 1783

Sumber Primer Inggris – William Marsden, The History of Sumatra, London 1783:

Marsden adalah seorang pemuda yang bekerja untuk East India Company di Bengkulu 1771-1779. Ia menulis buku di London, terbit pertama 1783.

Teks Asli Inggris (Edisi 1811, McGill Library):
“The Bataks are divided according to their territories: Angkola, Padambola, Mandiling, Toba, Selindong, and Singkel”

Terjemahan:
“Orang Batak dibagi menurut wilayahnya: Angkola, Padang Bolak, Mandailing, Toba, Silindung, Singkil”

Analisa:
Padambola adalah Padang Bolak. Tahun 1783, 37 tahun sebelum Paderi masuk Mandailing tahun 1820, nama Angkola dan Padang Bolak sudah tercetak di London. Mereka bukan hutan kosong yang baru ditemukan Paderi. Mereka adalah negeri yang sudah dikenal, yang emasnya dan kemenyannya sudah diperdagangkan ke dunia. Jika sebuah negeri sudah dikenal di London tahun 1783, pastilah jalannya, pasarnya, dan pergaulannya sudah ada jauh sebelum itu.

III. Sejumlah Kepala Suku Sudah Islam Sebelum 1820–Fase Sunyi dan Fase Gemuruh

Sumber Primer Belanda-Inggris – Lance Castles (1972) & Pederson (1969), Halaman 10, Baris 412-430, Disertasi Yale yang dirujuk Leiden:

Teks Asli Inggris:
“religion separated South Tapanuli from the rest of the Batak groups: the result of the rapid spread of Islam among the Mandailing and Angkola during the first half of the nineteenth century. By 1820 the revolutionary Wahabite Islamic movement in West Sumatra, the Padri, had erupted into the Mandailing region. Prior to this a number of Mandailing chiefs had converted to Islam, but no significant mass conversion had yet taken place in the area. Between 1820 and 1835 the Padri, under Tuanku Rao, invaded most of Mandailing and Angkola, forcibly converting tens of thousands of people”

Terjemahan:
“Agama memisahkan Tapanuli Selatan dari kelompok Batak lainnya: hasil dari penyebaran cepat Islam di antara Mandailing dan Angkola selama paruh pertama abad kesembilan belas. Pada tahun 1820 gerakan Islam revolusioner Wahabi di Sumatera Barat, Paderi, telah meletus ke wilayah Mandailing. Sebelum ini sejumlah kepala suku Mandailing telah masuk Islam, tetapi belum ada konversi massal yang signifikan di daerah tersebut. Antara 1820 dan 1835 Paderi, di bawah Tuanku Rao, menginvasi sebagian besar Mandailing dan Angkola, secara paksa mengislamkan puluhan ribu orang”

Analisa:
Inilah kalimat yang menyatukan semua tanpa kontradiksi, yang menjernihkan kabut. Ada dua fase Islamisasi, seperti dua musim.

Musim pertama adalah musim sunyi, musim garam dan kain. Sebelum 1820, sejumlah kepala suku Mandailing sudah masuk Islam. Mereka bukan rakyat kebanyakan, mereka adalah para raja yang duduk di persinggahan Padangsidimpuan, yang menukar emasnya dengan garam dari Natal, yang menerima kain dari Barus. Islam mereka masih tipis, masih berbisik.

Musim kedua adalah musim gemuruh. Tahun 1820-1835, Paderi datang di bawah Tuanku Rao. Mereka menginvasi Mandailing dan Angkola dan mengislamkan puluhan ribu orang secara paksa. Setelah itulah Islam menjadi lautan, bukan lagi tetesan.

Jadi Islam tidak datang tiba-tiba dengan kuda. Ia datang dulu dengan pikulan garam, baru kemudian dengan derap kuda.

IV. Jalan dari Natal, Mengapa Belanda Masuk dari Selatan

Sumber Primer Belanda–Memorie van Overgave Tapanuli 1833:

Teks Asli Indonesia (Terjemahan Belanda):

“Pasukan Belanda memasuki Wilayah Tapanuli awalnya dari Natal pada tahun 1833 dan kemudian menduduki Mandailing… Kemudian dilanjutkan ke Angkola dan Sipirok”

Sumber Primer Inggris–John Anderson, 1823:

Teks Asli Inggris:
“In 1823, the English East India Company sent J. Anderson, a staff member at Penang to north Sumatra.”

Terjemahan: Pada tahun 1823 Perusahaan Hindia Timur Inggris mengirim J. Anderson dari Penang ke Sumatera Utara.

Analisa:

Mengapa Belanda tahun 1833 masuk Tapanuli dari Natal, bukan dari Sibolga yang lebih dekat? Karena jalan Natal-Panyabungan-Padangsidimpuan sudah ada. Jalan itu bukan dibuka oleh tentara, tapi oleh pedagang garam Muslim. Anderson dikirim Inggris tahun 1823 untuk mengintai jalur itu, karena jalur itu ramai. Islam berjalan di atas jalan garam itu, dari Natal ke Panyabungan, dari Panyabungan ke Padangsidimpuan, dari Padangsidimpuan ke Sipirok dan Padang Bolak.

V. Naskah yang Selamat dari Api

Sumber Primer Belanda-Jerman – KITLV Leiden H 121, Laporan Godon & Van der Tuuk, Panyabungan Maret 1852:

Teks Asli Indonesia:

“Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon, memperlihatkan kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852, dua buku besar naskah Mandailing. Buku itu berhasil diselamatkan orang Mandailing dari kebringasan kaum Paderi yang membakari buku-buku di wilayah Tabagsel”

Analisa;
Tahun 1852, di Panyabungan, ada dua buku besar yang selamat dari api. Buku itu diselamatkan orang Mandailing dari kebringasan Paderi yang membakari buku-buku. Api Paderi membakar karena menganggap tulisan lama tidak murni. Tapi justru api itu menjadi saksi: sebelum Paderi datang membakar, sudah ada tulisan, sudah ada Islam lama yang hidup di tanah ini. Naskah yang selamat itu adalah bukti bahwa Islam sudah ada sebelum Paderi.

VI: Banyak Makam yang Sudah Identitas Muslim Pra Padri

Di antara Makam yang tidak bisa dibantah adalah makam Syekh Zainal Abidin Hasibuan di Pagaran Sigatal lahir tahun 1750, makam Syekh Abdul Fatah lahir tahun 1765, Alhamdulillah, penulis sudah ziarahi kedua Makam ulama ini dan sejumlah makam lain yang menunjukkan Islam sudah menjadi komunitas di Angkola-Mandailing sebelum gerakan Paderi.

Penutup: Gerbang yang Terlupakan

Jadi, Padangsidimpuan bukanlah kota yang didirikan oleh benteng. Ia adalah gerbang.

Sekitar 1700 ia sudah menjadi dusun tempat pedagang ikan dan garam dari dua rute besar bertemu: Sibolga-Padangsidimpuan-Panyabungan dan Padang Bolak-Padangsidimpuan-Sibolga.

Di gerbang itulah emas dari Padang Lawas bertemu garam dari Natal, rempah-rempah dari Angkola bertemu kain dari Barus. Di gerbang itulah sejumlah kepala suku masuk Islam sebelum 1820 karena pergaulan dagang. Ketika kepala suku masuk Islam tentu rakyatnya juga banyak yang masuk Islam, meski tidak separoh atau keselutruhan

Puluhan ribu orang masuk Islam antara 1820-1835 karena Paderi. Tapi paham Paderi bermazhab hambali ini tidak menyentuh, rakyat Mandailing-Tapanuli. Buktinya sampai sekarang penduduknya dikenal dengan Mazhab Syafi’i, Islam yang damai, rahmatan lil’alamin.

Islam masuk ke tanah Angkola-Mandailing bukan hanya dengan kuda perang, tapi lebih dulu dengan pikulan garam dan gulungan kain. Padangsidimpuan adalah saksinya yang terlupakan. Pasukan kuda perang itu pun perlu dikaji lebih dalam, apakah semua garis keras atau hanya oknum sebagaian Muslim saja, lalu seluruhnya digeneralkan, getahnya kena semua sampai saat ini. Islam dengan Paderi akan dikaji juga pada pembahasan selanjutnya, dengan sumber Primer sebagai pembanding

Wallohu A’lam Bishshowab

Hamba Allah

Pos terkait