Sumutnews.co, Jakarta — Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan bahwa pakta pertahanan bersama yang mengikat Pakistan, Arab Saudi, dan Turkiye akan segera diaktifkan jika limpahan konflik menembus wilayah Arab Saudi. Sikap tegas ini merespons eskalasi ketegangan yang kembali memuncak di kawasan Timur Tengah.
“Agresi terhadap satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap ketiga negara,” ujar Asif dalam siaran televisi Pakistan, sebagaimana dilansir Reuters.
Asif menekankan bahwa ketiga negara tidak akan tinggal diam jika wilayah kerajaan tersebut terseret ke dalam pusaran konflik.
“Tidak ada ambiguitas atau keraguan. Agresi tanpa provokasi atau limpahan ke Arab Saudi dipastikan akan membuat perjanjian ini beroperasi,” ungkapnya.
Menurut sumber dari Pakistan, pejabat Arab Saudi telah menggelar pertemuan dengan perwakilan militer Pakistan dan Turkiye di Riyadh untuk mengoordinasikan respons bersama. Kendati demikian, peran militer Pakistan ditegaskan bersifat defensif, sebatas memberikan dukungan teknis, udara, maupun darat di dalam wilayah Arab Saudi tanpa terlibat operasi tempur di luar negeri. Seorang diplomat senior kawasan menyebutkan bahwa pesan peringatan tersebut telah disampaikan ke Teheran dalam 24 jam terakhir.
Berbeda dengan klaim tersebut, dua sumber internal Iran mengungkapkan hal yang bertolak belakang. Teheran disebut telah memerintahkan kelompok Houthi pekan lalu untuk melancarkan serangan ke Arab Saudi dengan iming-iming tambahan dana dan senjata. Beberapa komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan dilaporkan telah melawat ke Yaman untuk membantu mengoordinasikan gempuran tersebut.
Sinyal ketegangan ini memuncak setelah kelompok Houthi melancarkan serangan besar pada Selasa, 8 September 2026. Serangan tersebut menargetkan pangkalan udara di Khamis Mushait serta sejumlah fasilitas minyak di kota-kota sekitarnya ( SN08)





