Oleh : Moechtar Nasution
Setiap kali kalender bergeser ke tanggal 6 September, ingatan kolektif kita terasa dipaksa menengok ke belakang yakni pada sebuah hari berkabung yang sunyi. Tepat pada tanggal ini di tahun 2000 silam, Indonesia kehilangan salah satu jangkar sejarah militer terbesarnya. Jenderal Besar TNI (Purn) DR. Abdul Haris Nasution mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 81 tahun di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Kepergian sang jenderal yang akrab disapa Pak Nas ini bukan sekadar hilangnya seorang pensiunan militer di usia senja. Akan tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu, saya melihat peristiwa ini sebagai titik berhentinya detak pikiran seorang intelektual berbaju hijau bersepatu laras, seorang prajurit pemikir yang teorinya soal pertahanan semesta melompat jauh melampaui sekat-sekat zamannya.
Pahlawan Nasional kelahiran Mandailing ini adalah orang yang amat sangat besar jasanya bagi TNI dan bagi bangsa tentunya. Namun sayangnya bagi mayoritas masyarakat awam hari ini, ingatan tentang Nasution sering kali dikerdilkan hanya pada fragmen dramatis satu malam kelam yang menjadikan sejarah bangsa mengalami perubahan. Peristiwa di malam jahannam Gerakan 30 September (G30S) 1965. Kita akrab dengan narasi bagaimana beliau melompati tembok kediamannya demi lolos dari kepungan, sebuah pelarian yang harus dibayar mahal dengan gugurnya putri bungsu tercinta, Ade Irma Suryani, dan sang ajudan, Lettu Pierre Tendean.
Tapi mari jujur melihat sejarah dari kacamata ilmiah. Kontribusi terbesar Nasution justru tidak terletak pada drama politik domestik itu. Warisan terpentingnya justru bersemayam dengan anggun di ruang-ruang perpustakaan militer dunia lewat sebuah buku fenomenalnya, hasil olah pikirnya selama bergerilya yakni buku Pokok-Pokok Gerilja (Fundamentals of Guerrilla Warfare) .
Bumi Mandailing dan Sintesis Perang Rakyat
Bagaimana mungkin sebuah gagasan militer yang mendunia bisa lahir dari rahim negara yang baru seumur jagung? Jawabannya tidak akan kita temukan di kurikulum sekolah formal. Kita harus melangkah jauh ke belakang, menyusuri tanah merah, embun pagi, dan denyut falsafah hidup masa kecil Pak Nas di pedalaman Mandailing, tepatnya di tanah subur Hutapungkut. Ruang kebudayaan inilah yang membentuk fondasi sosiologis berpikirnya.
Di Mandailing, tanah yang sangat kaya dengan nilai-nilai keluhuran dan kearifan tersebut Nasution dilahirkan. Falsafah “Holong maroban domu, domu maroban parsauliaan” menjadi kompas moral Nasution sejak belia. Didikan ayahnya yang seorang pedagang tekstil sekaligus aktivis Sarekat Islam menanamkan watak kepeloporan dan integritas yang kaku. Lebih jauh lagi, ekosistem adat Dalihan Na Tolu, tradisi musyawarah di Bagas Godang (rumah adat), tradisi Marsialap ari serta ketaatan menjalani perintah agama Islam secara tidak sadar mengajari sekaligus membekali Nasution tentang seni mengelola manusia secara setara. Di tanah Mandailing, tidak ada feodalisme kaku karena sejatinya suatu kekuatan sebuah komunitas justru lahir dari seni mendengar dan gotong royong yang organik.
Lalu apa hubungannya dengan strategi militer? Iya sangat erat. Ketika agresi militer Belanda mengepung Republik yang baru merdeka, insting kultural Mandailing inilah yang mendadak aktif di kepala Nasution. Beliau melihat sebuah paradoks yang menakutkan karena saat itu Indonesia adalah negara miskin alutsista yang jika nekat bertempur secara konvensional melawan mesin perang modern Barat, pasti akan tamat dalam hitungan hari.
Maka kemudian Nasution memutar otak. Beliau mengambil nilai gotong royong dari kampung halamannya dan memindahkannya ke dalam taktik perang, melahirkan doktrin Perang Rakyat Semesta (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta/Sishankamrata). Bagi Pak Nas, jika tentara tidak punya peluru, maka tubuh rakyat-lah yang menjadi bentengnya. Ketika sekat antara sipil dan militer dicairkan, wilayah Indonesia tidak lagi dipandang sebagai benteng pertahanan linier yang kaku, melainkan menjadi jaringan kantong gerilya yang hidup dan bernapas di setiap sudut kampung. Konsep membumi inilah yang kelak menyejajarkan nalar geopolitik Nasution dengan pemikir besar dunia seperti Mao Zedong di Tiongkok atau Vo Nguyen Giap di Vietnam.
Laboratorium Lapangan: Dari Bandung Lautan Api hingga Otak Tandu Soedirman
Seindah apa pun teori akan tetap menjadi rongsokan intelektual jika tidak diuji di lapangan. Dan Nasution mendapatkan laboratoriumnya secara sporadis melalui palagan-palagan riil yang membakar Republik ini diusia mudanya.
Bayangkan beban psikologis ini, di usia yang teramat muda—baru 28 tahun—Nasution sudah diserahi tanggung jawab raksasa sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Takdir langsung menguji kepemimpinannya di tanah Pasundan melalui ultimatum Sekutu yang meminta Bandung dikosongkan. Menyerah jelas tabu, tapi bertempur frontal berarti bunuh diri. Watak kepeloporannya menuntut sebuah jalan keluar yang radikal yakni peristiwa heroik Bandung Lautan Api.
Nasution mengambil keputusan untuk membumihanguskan kota. Ratusan ribu rakyat sipil bergerak bersama tentara, membakar rumah dan kenangan mereka sendiri, mengubah malam di Bandung menjadi bentangan api yang menyala hingga ke langit. Di bawah kepulan asap Bandung itulah, sebuah kesadaran filosofis pertama lahir di benak Nasution. Materi bisa hangus, kota bisa rata dengan tanah, tapi kehendak sebuah bangsa untuk merdeka adalah substansi yang tidak akan pernah bisa dibakar oleh api jenis apa pun.
Pengalaman empiris ini menemukan bentuk paling matangnya saat ia ditunjuk sebagai Panglima Besar Komando Jawa (MBKD) ketika Agresi Militer Belanda II mengoyak Ibu Kota Yogyakarta . Di sinilah sejarah mencatat sebuah dialektika kepemimpinan yang luar biasa indah tentang pembagian peran antara “kuasa spiritual” dan “kuasa otak strategi”. Ketika sang panglima tertinggi, Jenderal Besar Soedirman, memilih rute gerilya fisik yang legendaris di atas tandu menembus hutan belantara demi menjaga api moral perlawanan bangsa, Nasution berdiri kokoh di belakangnya sebagai arsitek administrasinya.
Mendampingi Soedirman dalam kapasitas strategis-operasional, Nasution menetap di markas-markas rahasia teritorial di pedalaman. Dari sinilah beliau merumuskan Perintah Siasat No. 1 yang menjadi cetak biru gerilya di seluruh pulau Jawa. Lewat kurir-kurir rahasia yang mempertaruhkan nyawa menembus barikade Belanda, isi kepala Nasution-lah yang mengoordinasikan pergerakan taktis, suplai logistik, dan jaringan intelijen desa yang menopang pasukan Soedirman di lapangan.
Beliau melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keteguhan spritual sang Panglima Besar bisa bersenyawa sempurna dengan sistem manajemen teritorial yang ia rancang. Perkawinan antara bara api Bandung dan dinginnya kalkulasi strategi komando Jawa inilah yang akhirnya menuntut ruang tuang, menginspirasi Nasution untuk menuliskan lembar demi lembar buku Pokok-Pokok Gerilja.
Membedah Pokok-Pokok Gerilja: Ketika Ruang dan Waktu Mencair
Ketika buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Fundamentals of Guerrilla Warfare, teks itu tidak sekadar berpindah rak di perpustakaan, melainkan menghantam wajah arogansi militer Barat. Di koridor sunyi barak demi barak di United States Military Academy di West Point, buku ini tidak dibaca sebagai catatan sejarah perjuangan, melainkan dibedah sebagai manual operasi taktis tingkat tinggi.
Premis filosofis Nasution dalam buku itu sangat menantang bahwa gerilya bukan sekadar taktik semak-semak, melainkan senjata bagi bangsa yang kalah secara material namun menang secara ideologis. Beliau mendobrak nalar militer Barat yang “Cartesian”, yang selalu menganggap perang sebagai hitung-hitungan matematika jumlah artileri dan ketebalan baja tank, jumlah pasukan infanteri dan sebagainya.
Nasution membagi esensi gerilya ke dalam tiga dimensi yang mengalir dinamis yakni dimensi pertama bergerak pada wilayah filsafat ruang yang mencair sebagai basis tahap defensif. Dalam doktrin Barat, ruang adalah benteng statis yang harus dipertahankan secara linier. Nasution membalikkan logika ini secara ekstrem dengan argumen agar militer membiarkan musuh menduduki kota besar, sebab kota pada hakikatnya merupakan jebakan logistik yang akan melelahkan mereka sendiri. Pasukan gerilya dilatih untuk mereduksi diri menjadi unit-unit kecil yang tak kasat mata, bergerak lincah laksana angin di medan marjinal seperti hutan, gunung, dan lereng curam. Pola hit and run atau pukul lalu lari bukanlah cerminan kepengecutan, melainkan kalkulasi rasional untuk menguras moral psikologis musuh tanpa pernah memberikan mereka target fisik yang jelas untuk dibalas.
Aliran strategi ini kemudian masuk ke dimensi kedua, yakni dialektika sosiologis Wehrkreise pada tahap konsolidasi. Gerilya akan mati jika hanya menjadi sekumpulan prajurit terisolasi di dalam hutan. Oleh karena itu mereka harus bernapas bersama rakyat. Melalui konsep Wehrkreise—sistem lingkaran pertahanan mandiri di tingkat pedesaan—tentara menyatu dengan masyarakat untuk mendirikan pemerintahan bayangan. Sistem ini mengurusi ketahanan pangan, distribusi obat, hingga sekolah rakyat, sehingga desa bermutasi menjadi organisme hidup yang mandiri. Efeknya mematikan.Jika musuh memotong jalur suplai dari pusat, setiap kantong desa terbukti mampu hidup dan bertempur sendirian dalam jangka waktu bertahun-tahun.
Puncaknya bermuara pada dimensi ketiga, yaitu transisi kuantum kekuatan menuju tahap ofensif. Perang gerilya tidak dirancang untuk selamanya mendekam di bawah tanah. Seluruh fase persembunyian panjang ditujukan untuk satu hal yakni mengakumulasi energi kolektif rakyat hingga mencapai titik jenuh. Ketika ekonomi musuh kolaps akibat besarnya biaya pendudukan dan moral prajurit mereka hancur karena frustrasi menghadapi musuh yang tak kelihatan, seluruh kantong gerilya akan berkonsolidasi. Mereka keluar dari hutan, menjelma menjadi tentara reguler massal, dan meluncurkan pukulan konvensional pemungkas demi merebut kedaulatan total.
Ketika Pentagon Berguru: Benturan Materi dan Kuasa Ide
Di sinilah letak ironi sekaligus puncak dialektika sejarah militer modern. Ketika Amerika Serikat melangkah masuk ke dalam Perang Vietnam pada dekade 1960-an, mereka membawa seluruh arogansi teknologi materi dalam wujud raksasa.
Mereka datang dengan bom napalm yang membakar hutan, helikopter Huey yang merajai langit, sensor elektronik canggih, dan doktrin “Search and Destroy” yang berbasis pada statistik kematian musuh (body count). Di atas kertas, mesin perang raksasa ini mustahil kalah.
Namun, di bawah kanopi hutan rimba Asia Tenggara yang rimbun dan lebat, matematika perang Barat itu mendadak lumpuh menghadapi Viet Cong yang mencair bersama air, melebur bersama tanah, dan bernafas dengan detak jantung masyarakat kampung. Amerika memenangkan hampir seluruh pertempuran taktis secara fisik, namun mereka secara konstan kehilangan perang secara strategis-politis. Di titik nadir frustrasi intelektual inilah, para perwira tinggi di Pentagon dan pemikir strategi di West Point terpaksa menurunkan ego akademis mereka untuk berguru pada pemikiran A.H. Nasution.
Buku Pak Nas inipun diterjemahkan menjadi Fundamentals of Guerrilla Warfare. West Point dipaksa belajar untuk melihat perang dari sudut pandang sosiologis yang sepenuhnya terbalik. Nasution mengajari para perwira Amerika bahwa dalam perang non-konvensional bahwa rakyat adalah air tempat ikan—gerilyawan—berenang.
Ketika militer adidaya membom sebuah desa untuk memburu tiga orang gerilyawan, mereka secara sosiologis sedang menanam benih dendam yang melahirkan tiga puluh atau tiga ratus gerilyawan baru di keesokan harinya. Doktrin Nasution membedah bahwa pusat gravitasi pertahanan tidak terletak pada ketebalan baja tank, ribuan pasukan infanteri, raungan pesawat pembom, melainkan pada keutuhan moralitas kemanunggalan antara tentara dan rakyatnya. Studi kasus Vietnam memaksa Pentagon mengakui sebuah kebenaran filosofis yang pahit bahwa di hadapan kejeniusan strategi yang berakar pada sosiologi bumi menjadikan kemewahan materi menjadi tidak berarti.
Sunyi di Rumah Sendiri: Dialektika Ruang dan Amnesia Sejarah
Sejarah pada akhirnya berhasil mengukuhkan posisi Nasution di tempat tertinggi militer dunia. Penganugerahan pangkat Jenderal Besar (bintang lima) pada tahun 1997—sebuah mahkota kehormatan yang hanya dimiliki bersama Soedirman dan Soeharto—adalah stempel resmi atas kejeniusannya, kepeloporannya, kehormatan dan kejuangannya bagi TNI dan bagi bangsa.
Fisiknya kini beristirahat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Namun, di balik batu nisan tersebut, tersimpan sebuah paradoks sosiokultural yang sunyi yang justru terjadi di tanah tempat ari-arinya pertama kali ditanam.
Di Gedung Serbaguna Pemkab Mandailing Natal hari itu, Kamis,13 Desember 2018 tepat sesaat setelah riuh tepuk tangan mereda sesaat seminar nasional dalam kegiatan Peringatan Seabad Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution berakhir. Di belakang panggung, saya mengajak dosen saya yang menjadi narasumber dalam seminar tersebut untuk berbicara lebih lanjut dan serius.
Dr. Ichwan Azhari , melontarkan sebuah pemikiran yang memantik perenungan filosofis mendalam. Sebagai seorang sejarawan sekaligus dosen yang mengajarkan kami untuk membaca sejarah dari ruang-ruang batin manusia, kalimat beliau sore itu mengalir begitu mencair namun menancap tajam.
“Nasution itu tokoh besar dengan pemikiran strategis yang teramat besar,” ujarnya dengan nada bicara yang tenang, khas ruang kelas kami dahulu di Fakultas Ilmu Sosial. “Tapi tragisnya, perjalanan sejarahnya kerap kali sengaja dikecilkan pada masa-masa politik tertentu.”
Beliau kemudian mengajak saya melihat sebuah ironi ruang yang nyata. Jenderal Nasution tampak begitu masif, agung, dan memenuhi ruang ingatan publik di luar wilayah kelahirannya—bahkan teorinya melintasi samudra hingga ke koridor Pentagon. Namun aneh sebutnya di tanah tumpah darahnya sendiri, di bumi Mandailing yang dia cintai itu nama besarnya itu justru menyusut. Ingatan publik di wilayah Mandailing terasa sangat kecil, sedikit, dan lamat-lamat. Seolah-olah fusi kultural Mandailing yang pernah ditenun Nasution menjadi Sishankamrata, pulang ke kampung halaman sebagai orang asing yang tak lagi dikenali oleh anak cucunya sendiri.
Wafatnya A.H. Nasution pada tanggal 6 September bukan sekadar penanda runtuhnya satu menara intelektual militer di tingkat global. Melalui ruang dialog sejuk bersama dosen saya hari itu, saya ingin mengajak kita semua untuk merenung dan memikirkan bahwa musuh terbesar dari warisan pemikiran bukanlah kematian fisik, melainkan amnesia sejarah yang merayap perlahan di rumahnya sendiri.
Nasution telah mengajari dunia cara bertahan hidup melalui kemanunggalan rakyat dan kini tugas sosiologis dan historis kita terutama generasi yang lahir dari rahim pendidikan humaniora—atau bagi siapapun untuk memastikan bahwa ingatan tentang sang Jenderal dari Kotanopan ini tidak habis ditelan sunyi di tanah kelahirannya sendiri, Mandailing. Semoga
Wallahu Aqlam Bisshawab…
Daftar Pustaka
- Nasution, A. H. (1953) Google Books. Pokok-Pokok Gerilja: Dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan yang Akan Datang. Jakarta: Pembimbing
- Nasution, A. H. (1982). Memenuhi Panggilan Tugas Jilid II: Kenangan Masa Gerilya. Jakarta: Gunung Agung.
- Said, S. (1991). Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics 1945–49. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.





