Penulis : Rasyid Assaf Dongoran 董睿护 -Dǒng Ruìhù
Sebuah prasasti batu berukir puisi kuno di Tiongkok memuat pujian terhadap ajaran Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Prasasti bertajuk “Pujian Seratus Kata” (百字讚 – Bǎizì Zàn) tersebut diukir berdasarkan tulisan pendiri Dinasti Ming, Kaisar Hongwu (Zhu Yuanzhang), pada 1368.
Lokasi dan Keberadaan Prasasti
Prasasti bersejarah ini berdiri di Masjid Agung Xi’an (Xi’an Great Mosque / 西安大清真寺), yang terletak di Provinsi Shaanxi, Tiongkok.
Masjid ini dikenal sebagai salah satu pusat peribadatan umat Islam tertua dan terbesar di Negeri Tirai Bambu. selain di Xi’an, salinan ukiran puisi serupa juga diabadikan di beberapa masjid bersejarah lain, seperti Masjid Jingjue di Nanjing.
Isi dan Terjemahan Puisi
Pada bagian puncak prasasti, terpahat kaligrafi Arab berbunyi Bismillahir rahmanir rahim. Di bawahnya, terdapat judul utama beraksara Mandarin besar yang mengonfirmasi bahwa tulisan tersebut dibuat oleh Kaisar Taizu (gelar anumerta Kaisar Hongwu) pada tahun pertama era kepemimpinannya.
Berikut terjemahan lengkap isi puisi Pujian Seratus Kata:
“Sejak alam semesta diciptakan, takdir Ilahi telah menetapkan namanya. Seorang nabi agung pembawa ajaran lahir di wilayah barat. Beliau menerima Kitab Suci berjumlah 30 juz untuk membimbing seluruh umat manusia. Menjadi guru dan pemimpin bagi jutaan jiwa, serta pemimpin para nabi. Menjalankan takdir Ilahi, melindungi negara dan rakyatnya. Berdoa lima kali sehari memohon keselamatan dan kedamaian. Hatinya senantiasa tertuju kepada Allah Sang Maha Pencipta. Mengasihi kaum fakir miskin dan menyelamatkan manusia dari marabahaya. Memahami hal-hal gaib dan menuntun jiwa-jiwa menuju keselamatan. Membebaskan manusia dari dosa, menyebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru bumi. Ajarannya melampaui masa lalu dan masa kini, menundukkan kejahatan, dan mengembalikan manusia pada Ketauhidan. Agamanya dinamai Qingzhen (Islam), dan namanya adalah Muhammad, nabi yang paling mulia.”
Catatan Sejarah Pembuatan
Di sisi kiri batu prasasti, terdapat ukiran aksara berukuran lebih kecil yang memuat informasi penulisan ulang. Keterangan tersebut mencatat bahwa ukiran fisik pada batu ini dibuat pada bulan ketiga tahun ke-25 era Kaisar Qianlong dari Dinasti Qing (1760 M), yang didirikan secara swadaya oleh komunitas Muslim setempat untuk merawat warisan sejarah tersebut.





