Menantikan Layar Sinema Indonesia Untuk Generasi Muda
Penulis: Rasyid Assaf Dongoran
Wabup & Plt Bupati Tapanuli Selatan ( 2020-2025)
Sejarah perang kemerdekaan Indonesia di layar lebar kita acapkali dihinggapi pelajaran memori lama: pertempuran di pulau Jawa untuk NKRI dan romantisasi yang seragam. Kita fasih menyebut nama Surabaya, Bandung Lautan Api, atau Peristiwa 1 Maret di Yogyakarta.
Namun, jika ditanya di mana benteng pertahanan paling ulet yang menjaga napas Republik ketika Jakarta dan Yogyakarta lumpuh total pada 1949, tak banyak bibir yang spontan menjawab: Desa Huraba, Tapanuli Selatan.
Di desa kecil yang berjarak sekitar 22 kilometer dari Padang Sidempuan itulah, sebuah drama perang semesta meletus pada 5 Mei 1949. Latar belakangnya adalah krisis eksistensial. Yogyakarta telah jatuh dalam Agresi Militer Belanda II. Soekarno dan Hatta ditawan. Nyawa Republik Indonesia secara de facto berpindah ke ceruk-ceruk hutan Sumatra di bawah bendera Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara.

(foto: Sahiruddin Hasibuan)
Ketika kota-kota utama di Tapanuli seperti Tarutung, Sibolga, hingga Padang Sidempuan jatuh beruntun ke tangan tentara Kerajaan Belanda, Panyabungan menjadi benteng terakhir. Di sinilah letak vitalitas Benteng Huraba. Ia didirikan bukan dari benteng beton bergaya Eropa, melainkan barikade tanah, tebing yang diruntuhkan rakyat, dan batang-batang pohon besar yang ditebang bersama. Di bawah komando Inspektur Polisi Kelas I (Mayor) Mas Kadiran, tokoh yang dijuluki “Harimau Tapanuli”, kekuatan Mobil Brigade (Mobrig/Brimob) dan TNI melebur tanpa sekat birokrasi.
Namun, estetika perjuangan Huraba bukan sekadar cerita heroik yang serba linier. Ia memuat seluruh unsur kelam Perang Kemerdekaan: drama pengkhianatan.
Pada subuh buta 5 Mei 1949, sekitar pukul 04.00 WIB, Belanda mengepung markas Huraba secara mendadak. Posisi benteng tembus bukan karena keunggulan taktik Belanda belaka, melainkan akibat pembelotan dua oknum Mobrig yang menunjukkan celah dan jalan pintas di sayap kiri pertahanan.
Pertempuran jarak dekat tak terelakkan. Dalam kegelapan dan desakan peluru, Komandan Polisi Ledewik Sitanggang gugur, disusul 21 prajurit Mobrig dan TNI lainnya. Tiga rumah warga dibakar, dan Belanda menguasai benteng selama 11 jam.
Di sinilah letak kualitas kepemimpinan Mas Kadiran. Bukannya kocar-kacir dan menyerah pada kekalahan, ia mengonsolidasi sisa-sisa pasukan di Kampung Tolang. Hanya butuh beberapa jam bagi sang Harimau Tapanuli untuk menyusun serangan balik (counter-offensive). Pukul 14.30 WIB, serangan balasan dilancarkan secara mendadak. Tepat pukul 16.30 WIB, setelah pertempuran sengit satu jam lebih, Huraba kembali merebut kemerdekaannya.
Belanda terusir, dan sejak sore berdarah itu hingga penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, Benteng Huraba tak pernah lagi dapat ditembus musuh.
Keberhasilan Huraba bertahan bukan cuma urusan gengsi teritorial. Jika Huraba jebol, jalan menuju Bukittinggi dan markas PDRI terbuka lebar. Misi Belanda untuk memenggal habis pimpinan Republik dipastikan tuntas. Dengan kata lain, pos pertahanan kecil di Batang Angkola ini turut mengulur waktu vital bagi diplomasi Indonesia di tingkat internasional.
Sayangnya, dalam narasi besar sejarah nasional, Peristiwa Benteng Huraba sering kali hanya menempati footnote kecil.
Butuh waktu 27 tahun hingga Kolonel Polisi (Purn) Mas Kadiran bersama para veteran mendirikan yayasan dan menggelar seminar sejarah pada 1976 untuk memformulasikan kembali peran strategis tempat ini. Monumen baru berdiri kokoh pada 1981 atas inisiatif kepolisian dan tokoh masyarakat.
Melihat kaya dan dramatisnya material sejarah Huraba, mulai dari geopolitik PDRI, keterlibatan rakyat bawah, pengkhianatan internal, hingga serangan balik yang taktis, sudah saatnya sinema Indonesia melirik Palagan Huraba.
Sinema perang kita membutuhkan penyegaran narasi: kisah tentang bagaimana polisi (Mobrig/Brimob/Polisi), tentara (TNI), dan rakyat desa bahu-membahu bertempur di lumpur Sumatra demi menyambung nyawa sebuah negara.

(foto: Sahiruddin Hasibuan)
Huraba bukan sekadar monumen batu di tepi jalan Tapanuli Selatan. Ia adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dibeli dengan pidato manis di kota-kota besar, melainkan dipertahankan dengan darah, peluh, dan kejelian taktik di benteng-benteng rimba yang terlupakan.
Ayo kita perjuangkan Menjadi sebuah Sinema Karya Bangsa untuk Memacu Semangat Generasi Muda Indonesia!
Selesai !
================================
Sistematisasi Cerita (Struktur Narasi Kolosal)
Untuk kebutuhan alur cerita film atau tulisan sejarah, peristiwa ini disistematiskan dalam 4 Babak Naratif:
Babak I: Bayang-Bayang Runtuhnya Republik (Desember 1948 – April 1949)
Eskalasi: Pasca-Agresi Militer Belanda II dan ditangkapnya Soekarno-Hatta di Yogyakarta, Mr. Syafruddin Prawiranegara memimpin PDRI di pedalaman Sumatra.
Kejatuhan: Kota demi kota di Tapanuli (Tarutung, Sibolga, Padang Sidempuan) jatuh ke tangan Belanda.
Pembangunan Basis: Mayor Bejo menunjuk Inspektur Polisi Kls I Mas Kadiran (“Harimau Tapanuli”) dan Humala Silalahi (“Harimau Kampar”) mendirikan garis pertahanan di Desa Huraba (±22 km dari Padang Sidempuan). Rakyat bahu-membahu menebang pohon besar dan meruntuhkan tebing untuk menutup akses kendaraan tempur Belanda.
Babak II: Subuh Berdarah dan Pengkhianatan (5 Mei 1949, Pukul 04.00 – 15.00 WIB)
Pengkhianatan: Dua oknum anggota Mobrig membelot dan menunjukkan jalan pintas di sayap kiri kepada pasukan Belanda.
Serangan Mendadak: Pukul 04.00 WIB, Belanda mengepung markas secara mendadak. Terjadi pertempuran sengit jarak dekat (close-quarter battle). Komandan Polisi Ledewik Sitanggang gugur bersama 22 pejuang (10 Mobrig, 12 TNI).
Kejatuhan Sementara: Belanda menduduki Benteng Huraba selama 11 jam dan membakar rumah-rumah warga.
Babak III: Serangan Balasan Sang Harimau (5 Mei 1949, Pukul 14.30 – 16.30 WIB)
Konsolidasi Takdir: Mas Kadiran mengumpulkan sisa-sisa pasukan Mobrig, TNI, dan milisi rakyat di Kampung Tolang.
Serangan Balik: Pukul 14.30 WIB, pasukan gabungan melancarkan serangan tak terduga. Pukul 16.30 WIB (hanya dalam rentang waktu 2 jam), Benteng Huraba berhasil direbut kembali, memukul mundur Belanda dengan kerugian besar.
Babak IV: Benteng Tak Tertembus & Pengabadian Sejarah (Pasca-Mei 1949 – Masa Kini)
Puncak Legasi: Belanda gagal total menerobos jalur Tapanuli Selatan untuk menangkap pimpinan PDRI hingga penyerahan kedaulatan (Desember 1949).
Monumen & Memori: Inisiatif Mas Kadiran pada 1976 dan seminar sejarah merumuskan Huraba sebagai perang semesta.
Pembangunan Monumen Benteng Huraba (1981) hingga penamaan jalan di Kota Medan menjadi simbol abadi soliditas TNI, Polri, dan Rakyat.





