SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan — Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu meninjau langsung sejumlah desa di Kecamatan Sipirok, Sabtu (5/9/2026). Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya nyata menyerap aspirasi warga sekaligus memantau potensi ekonomi yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat pascabencana.
Didampingi Kapolres Tapsel AKBP Anton Santoso, Sekretaris Daerah H. Sofyan Adil Siregar, Anggota DPRD Tapsel, serta jajaran kepala OPD, rombongan menyambangi Desa Dolok Sordang, Desa Dolok Sordang Julu (Dusun Janji Lobi), Desa Pahae Aek Sagala (Dusun Sigiring-giring Lombang), hingga Desa Pangaribuan. Di setiap titik, Bupati membuka ruang luas bagi warga untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Kondisi jalan akses warga menjadi keluhan utama di sejumlah lokasi. Bupati menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap mengingat keterbatasan anggaran daerah, terlebih beban pemulihan pascabencana banjir bandang November 2025 yang menelan kebutuhan lebih dari Rp2,7 triliun.
“Kemampuan keuangan kita sangat terbatas. Pemulihan ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten,” ujar Gus Irawan.
Selain jalan, kerusakan saluran irigasi juga menjadi sorotan. Warga menyebut sumber air masih tersedia, namun saluran yang rusak membuat distribusi air belum optimal, terutama di musim kemarau.
Bupati meminta Dinas terkait segera meninjau dan mengoptimalkan fungsinya demi mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Salah satu fokus utama kunjungan adalah mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah. Bupati memperkenalkan pola tanam tumpang sari kopi dan jagung sebagai solusi cerdas bagi petani.
“Kopi butuh waktu lama untuk berbuah, sedangkan jagung bisa dipanen dalam empat bulan. Dengan pola ini, petani tetap mendapat penghasilan sambil menunggu kopi produktif,” jelas Gus Irawan.
Di Desa Dolok Sordang Julu, kelompok tani menerima bantuan 15.000 bibit kopi Arabika untuk lahan seluas 15 hektare, lengkap dengan dukungan biaya Hari Orang Kerja (HOK).
Syarat utamanya, yakni lahan berada di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Bupati berharap bibit ini ditanam dan dirawat dengan baik agar hasilnya maksimal.
Di Desa Pahae Aek Sagala, penekanan diberikan pada peningkatan kualitas dan nilai tambah kopi. “Kopi Sipirok berpotensi menjadi komoditas bernilai tinggi jika dikelola serius dari hulu ke hilir. Kita ingin petani mendapatkan nilai tambah yang lebih baik,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan permukiman memasuki musim kemarau.
“Pencegahan tetap menjadi prioritas. Jangan melakukan aktivitas yang memicu api dan segera laporkan jika menemukan titik api,” pesannya.
Sebagai penutup, Gus Irawan menegaskan bahwa seluruh program bantuan bukan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat.
“Ujung dari pembangunan adalah kesejahteraan. Jika program ini berhasil, kita akan kembangkan ke desa-desa lainnya,” pungkasnya.
Kunjungan ini memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh berbasis pertanian dan perkebunan. (SN11)





