Dalihan Natolu Bukan Sekadar Nama, Tokoh Adat Minta Penghormatan Sejarah Bukan Seremonial

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Identitas Padangsidimpuan sebagai Kota Dalihan Natolu kembali menjadi sorotan. Di tengah pembangunan dan berbagai kegiatan resmi pemerintah daerah, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana keberadaan Raja-Raja Luat, tokoh adat, serta sejarah para leluhur mendapatkan penghormatan dan ruang yang semestinya.

Hal tersebut disampaikan Dila Rian Batari Harahap gelar Tongku Raja Parlaungan, saat diwawancarai sumutnews.co, Kamis (3/9/2026) di Sabungan Sipabangun, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Kota Padangsidimpuan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, Raja Luat dan para leluhur bukan sekadar bagian dari cerita masa lalu. Mereka merupakan bagian dari perjalanan sejarah, adat, dan kehidupan masyarakat yang tidak seharusnya dilupakan setelah Padangsidimpuan berkembang menjadi sebuah kota.

“Kalau kita mengatakan Padangsidimpuan adalah Kota Dalihan Natolu dan menjunjung tinggi adat serta budaya, maka seharusnya pemerintah juga menghargai para Raja Luat dan tokoh adat yang merupakan bagian dari sejarah daerah ini,” ujar Dila.

Ia menilai, kemajuan pembangunan tidak seharusnya membuat pemerintah maupun masyarakat kehilangan hubungan dengan akar sejarah daerah.

“Jangan sampai setelah kota ini berdiri dan berkembang, sejarah dan peran para leluhur justru semakin dilupakan. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri,” katanya.

Jangan Hanya Jadi Slogan

Dila juga menyoroti penggunaan semboyan “Salumpat Saindege” yang selama ini melekat dengan identitas Kota Padangsidimpuan.

Menurutnya, semboyan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai tulisan atau slogan penyambutan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap pemerintahan yang mampu merangkul seluruh unsur masyarakat.

“Kalau ingin menjadikan Padangsidimpuan sebagai Kota Dalihan Natolu, maka nilai Dalihan Natolu harus benar-benar diterapkan. Pemerintah harus mampu merangkul semua unsur, termasuk Raja-Raja Luat dan tokoh adat,” tegasnya.

Ia berharap Pemerintah Kota Padangsidimpuan melakukan evaluasi terhadap keterlibatan unsur adat dalam berbagai kegiatan resmi dan seremoni daerah.

“Kami tidak meminta diistimewakan. Yang kami harapkan adalah penghormatan terhadap sejarah, adat dan para leluhur. Jangan sampai kita berbicara tentang budaya, tetapi orang-orang yang menjaga dan mewariskan budaya tersebut justru tidak dilibatkan,” ungkapnya.

Kota Boleh Modern, Jangan Kehilangan Jati Diri

Lebih lanjut, Dila menegaskan bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya dapat diukur dari pembangunan fisik dan banyaknya program pemerintah.

“Gedung bisa dibangun, jalan bisa diperbaiki, dan program bisa dibuat. Tetapi kalau sejarah dan adat dilupakan, kita akan kehilangan identitas. Kota Padangsidimpuan harus maju tanpa meninggalkan akar budayanya,” ujarnya.

Ia mengingatkan, apabila Padangsidimpuan benar-benar ingin dikenal sebagai Kota Dalihan Natolu, maka pemerintah harus mampu menunjukkan sikap pemerintahan yang mencerminkan nilai-nilai adat tersebut.

“Jangan sampai Dalihan Natolu hanya menjadi nama dan slogan. Pemerintah juga harus menunjukkan bahwa pemerintahan yang dijalankan adalah pemerintahan yang tahu menghargai adat, sejarah, tokoh masyarakat dan para leluhur,” tegasnya.

Menurut Dila, menghargai Raja Luat bukan berarti memberikan keistimewaan kepada kelompok tertentu. Penghormatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga sejarah dan identitas daerah agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

“Padangsidimpuan boleh maju, boleh modern, tetapi jangan pernah melupakan siapa yang lebih dahulu menjaga dan membangun kehidupan masyarakat di daerah ini. Kalau sejarah kita lupakan, maka generasi berikutnya akan kehilangan pijakan,” pungkasnya. (SN12)

Pos terkait