Tokoh Adat Batak Angkola: Jangan Biarkan Identitas Hilang, Generasi Muda Kunci Lestari Budaya

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan – Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan masuknya pengaruh global, adat istiadat serta kearifan lokal tetap menjadi fondasi identitas bangsa yang tak tergantikan.

Hal ini ditegaskan tokoh adat Batak Angkola, yang mengingatkan pentingnya pewarisan nilai luhur kepada generasi penerus agar tidak tergerus modernitas.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dila Rian Batari Harahap yang bergelar Tongku Raja Parlaungan, dalam wawancara eksklusif bersama Sumutnews.co di Sabungan Sipabangun, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Selasa (1/9/2026).

Menurut Tongku Raja Parlaungan, adat dan budaya bukan sekadar seremonial atau lambang semata. Di dalamnya tersimpan tatanan kehidupan yang utuh, berisi ajaran tentang rasa hormat, persaudaraan, gotong royong, sopan santun, serta keharmonisan hubungan antarmanusia.

“Adat mengandung nilai-nilai luhur: penghormatan kepada orang tua, kebersamaan, dan kerukunan sesama. Khususnya dalam kearifan Batak Angkola, ini adalah pedoman hidup yang harus dipahami seutuhnya,” tegasnya.

Tantangan Modernitas & Peran Keluarga
Ia menyadari bahwa kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup menjadi ujian nyata. Generasi muda kini lebih terbuka terhadap budaya asing lewat dunia digital dan media sosial. Oleh karena itu, pengenalan akar budaya harus dilakukan sejak dini dan secara terstruktur.

Garis pertahan utama ada di tangan keluarga. Orang tua dinilai wajib mengenalkan sejarah silsilah, marga, tata krama, dan tradisi leluhur agar benih keaslian tidak putus tergerus zaman.

Tokoh adat ini menegaskan, melestarikan budaya bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, nilai adat dan kehidupan modern bisa berjalan beriringan selama masyarakat memegang teguh prinsip dasar yang diwariskan.

“Kita bisa maju tanpa kehilangan jati diri. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penikmat zaman, tapi harus aktif menjadi pelopor pelestarian budaya,” ujarnya.

Ia bahkan mendorong kaum muda memanfaatkan kecanggihan teknologi dan media sosial untuk mempromosikan kearifan lokal ke kancah yang lebih luas.

Tujuan akhirnya adalah agar adat istiadat tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu yang tersimpan, melainkan tetap hidup, dipahami, dan diterapkan dalam keseharian.

Pelestarian ini butuh sinergi seluruh elemen: keluarga, tokoh adat, masyarakat, hingga pemuda. “Jika nilai ini terus ditanam dan dipraktikkan, identitas Batak Angkola akan tetap kokoh berdiri di tengah badai perubahan zaman,” pungkasnya. (SN12)

Pos terkait