Oleh : Moechtar Nasution
Ada satu kecenderungan aneh dalam sejarah peradaban kita karena kita sering kali mengukur keagungan sebuah kekuasaan dari seberapa tebal dan seberapa banyak benteng yang mereka bangun, atau seberapa tinggi dinding istana yang didirikan? Padahal semua itu jelas memisahkan sang penguasa dari rakyatnya. Dinding itu secara sadar atau tidak biasanya selalu lahir dari rasa takut—sebuah pembatas angkuh yang memisahkan mereka yang memegang stempel kekuasaan dengan mereka yang memikul beban aturan di bawahnya.
Tapi cobalah tengok tanah Mandailing. Di sela-sela desir angin yang memeluk lereng Gunung Sorik Marapi dan gemercik aek Batang Gadis yang mengalir melewati perkampungan, para leluhur justru meninggalkan sebuah warisan arsitektur yang berani melawan arus keangkuhan kuasa itu. Warisan itu bernama Sopo Godang. Sebuah balai sidang adat tradisional yang berdiri bukan untuk memamerkan sekat kekuasaan, melainkan justru untuk meruntuhkannya. Ini sebuah monumen kejujuran budaya, yang didirikan di atas keyakinan paling hakiki bahwa keadilan sejati hanya bisa mekar di ruang yang terbuka.
Jika mau benar-benar merasakan getaran ruang ini, cobalah sesekali melangkah agak jauh ke hulu Mandailing, tepatnya di tanah tinggi Pakantan. Di sana, di tengah belaian kabut Gunung Kulabu yang dingin dan hamparan lembah yang hijau, kita akan bersua dengan keanggunan Sopo Godang yang berdiri sunyi tapi seolah sedang bicara lantang tentang masa lalu. Atau tataplah bentang sejarah di Huta Nagodang, sebuah kompleks Bagas Godang yang megah, tempat di mana waktu seolah sengaja melambat dan membiarkan kita menghirup kembali aroma kejayaan adat pra-kolonial yang agung. Kalau kaki belum lelah, teruslah mendekat ke Kelurahan Pidoli Dolok atau menyusup ke jantung Panyabungan Tonga. Di tempat-tempat bertuah ini, anda akan menyaksikan tiang-tiang perkasa yang terbuat dari kayu-kayu pilihan purba yang kokoh, hitam, dan sangat berwibawa. Tiang-tiang itu tidak sekadar menopang atap. Mereka seakan mencengkeram bumi dengan jemari akarnya yang tak terlihat, berdiri tegak menentang zaman, menolak tunduk pada rayuan modernitas yang sering kali merubuhkan ingatan kita. Menatap tiang-tiang di Pidoli Dolok atau Panyabungan Tonga adalah menatap ketabahan manusia Mandailing yang menolak punah ditelan waktu.
Bentuk Sopo Godang ini sebenarnya aneh, setidaknya buat mata orang modern yang terbiasa dengan gedung parlemen serba tertutup, berlapis kaca, dan dijaga ketat. Bangunan adat ini berdiri anggun dengan tiang-tiang penopang perkasa, menopang atap dengan kokoh, namun sengaja dibiarkan telanjang tanpa dinding selembar pun. Konsep keterbukaan total ini jelas bukan sebuah kebetulan estetik atau karena ketidakmampuan teknik tukang zaman dulu. Sama sekali bukan. Ini adalah sebuah maklumat filosofis yang sangat dalam.
Ketiadaan pembatas fisik ini mau mengajarkan bahwa hukum, kebijakan, dan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh ditenun dalam kegelapan atau dirumuskan secara sembunyi-sembunyi di balik pintu yang terkunci. Di dalam Sopo Godang, kegelapan birokrasi langsung dihalau oleh cahaya matahari yang masuk dari segala penjuru, dan desas-desus intrik politik diredam oleh keterbukaan yang mutlak. Atmosfernya tidak kaku seperti istana raja, melainkan cair, akrab, dan merakyat layaknya puluhan warga di dalam sebuah “lopo”. Di ruang terbuka inilah, perdebatan dipeluk oleh kehangatan musyawarah.
Coba amati lebih dekat lagi. Sisi magis tempat ini kian terasa waktu mata kita menatap detail dinding bagian atas dan tiang-tiang penopang perkasa yang dihiasi oleh ukiran Bolang. Ornamen tiga warna keramat ini bukan sekadar hiasan pajangan, melainkan rangkuman jiwa manusia Mandailing. Warna Merah membakar semangat keberanian, heroisme, dan kekuatan yang energik. Warna Putih memancarkan kesucian niat, kejujuran spiritual, ketulusan rasa, dan keluhuran budi. Sementara warna Hitam menegaskan keteguhan hukum, kewibawaan yang berakar, serta kebijaksanaan mutlak tak tergoyahkan dari para raja dan pemangku adat. Ketiganya tidak saling mendominasi, melainkan dianyam bertaut, berkelindan membentuk harmoni kepemimpinan adat yang selaras dengan tatanan Dalihan Na Tolu. Di sela-sela jalinan warna itu, terukir motif geometris Bindu, sebuah simbol kosmologi yang mengingatkan siapa saja yang bersidang di bawahnya untuk selalu menjaga keseimbangan vertikal dengan Sang Pencipta dan keseimbangan horizontal dengan alam semesta. Lalu di puncak bangunan, atapnya yang megah melengkung menyerupai Aman-aman—mahkota penutup kepala adat—menegaskan bahwa tempat ini adalah hulu dari segala pemikiran arif di dalam huta.
Namun, Sopo Godang bukanlah ruang yang mati dan sunyi dari bebunyian atau wewangian spiritual. Sebelum ritual musyawarah yang disebut markobar dimulai untuk urusan besar kemasyarakatan (Horja Godang), semesta Sopo Godang akan dihentak oleh tabuhan sakral Gordang Sambilan. Dentuman sembilan gendang raksasa itu bergetar hebat, merayap di antara tiang-tiang kayu. Itu bukan sekadar musik pertunjukan, melainkan panggilan jiwa untuk mengumpulkan kesadaran kolektif manusia dan mengetuk pintu restu langit.
Begitu tabuhan yang menggetarkan dada itu selesai, di atas lantai tempat para tetua bersila, aroma Burangir (sirih lengkap) langsung disajikan. Ini lambang pembuka tali persaudaraan yang tulus, seolah bertugas melunakkan hati yang keras sebelum beradu argumen. Di sudut ruangan, asap tipis dari pembakaran kemenyan Mandailing kualitas terbaik mengepul halus, membubung tinggi menembus sela-sela atap tanpa dinding. Wangi kemenyan ini membawa pesan filosofis yang sunyi bahwa setiap argumen yang keluar dari mulut para pemimpin di dalam sidang haruslah suci, jujur, dan bergerak naik menuju kebenaran Ilahi, bukan kata-kata kotor yang merusak tatanan bumi.
Di ruang beraroma magis inilah, struktur bangunan yang dirakit tanpa paku besi ini menunjukkan kesaktian arsitekturnya. Sopo Godang sejati disatukan oleh pasak-pasak kayu yang saling mengunci secara lentur namun luar biasa kokoh. Ini adalah metafora material tentang bagaimana sebuah mufakat seharusnya dilahirkan. Demokrasi di Sopo Godang tidak boleh berjalan dengan cara “memaku” atau memaksakan kehendak yang melukai hati rakyat, melainkan harus seperti pasak kayu untuk saling mengisi, melentur bersama dinamika perbedaan, namun mengunci mati ego demi kepentingan bersama. Aneh dan luar biasa, bukan?
Karena bangunan ini terbuka, setiap kalimat petuah adat yang meluncur dapat didengar langsung oleh rakyat yang berdiri menyaksikan di pelataran. Rakyat tidak sekadar menjadi objek pasif dari sebuah aturan, melainkan saksi hidup yang mengawasi jalannya keadilan. Ini adalah sebuah bentuk kontrol sosial yang lahir berabad-abad sebelum dunia modern sibuk menciptakan istilah transparansi publik dan akuntabilitas pemerintahan.
Sopo Godang juga merengkuh dualisme takdir manusia dalam denyut Siriaon dan Siluluton. Ia bukan sekadar tempat undang-undang (uhum) diketuk dengan kaku. Di bawah naungan atapnya, Sopo Godang menjadi saksi atas tawa yang membuncah dalam pesta perkawinan (siriaon), sekaligus menjadi rahim yang hangat untuk memeluk air mata warga saat maut menjemput salah satu anggota perkampungan (siluluton).
Karakter komunal yang kokoh ini melahirkan sumpah hidup “tangi di siluluton, inte di siriaon”—sebuah komitmen manusiawi untuk selalu melangkah paling depan saat sesama tertimpa musibah dan menjaga tata krama saat kebahagiaan tiba. Sopo Godang mengajarkan bahwa air mata tetangga adalah duka kita bersama, dan gelak tawa mereka adalah berkah yang patut disyukuri bersama pula.
Bangunan ini juga tidak pernah egois menyendiri karena ia selalu berdiri kokoh menatap Alaman Bolak, sebuah lapangan tak bertepi yang melambangkan lapangnya dada masyarakat Mandailing dalam menerima kebenaran dan perbedaan pendapat. Lapangan terbuka ini memberikan ruang fisik bagi rakyat jelata untuk berdiri, berkumpul, menari, atau menyaksikan para pemimpinnya bermusyawarah di atas balai. Dan siapapun yang memasuki alaman bolak ini berarti mendapatkan perlindungan.
Untuk memasuki Sopo Godang ini kaki harus melangkah meniti undakan tangga panggung yang tinggi dengan jumlah ganjil. Manusia dipaksa untuk berjalan perlahan, mendongak menatap atap, sekaligus menundukkan kepala demi menjaga keseimbangan langkah. Keharusan fisik ini sesungguhnya adalah sebuah tarbiyah moral yang sunyi, sebuah peringatan bagi setiap jiwa bahwa segala bentuk keangkuhan duniawi, pangkat dan jabatan itu sifatnya fana, harta kekayaan, dan ego pribadi yang tinggi harus ditanggalkan dan ditinggalkan di bawah undakan tangga terbawah. Sopo Godang menolak dimasuki oleh kesombongan. Di atas lantai sidangnya, semua orang harus menanggalkan “topeng” kebesarannya agar bisa duduk bersila dalam kesejajaran batin yang murni.
Tidak hanya itu, susunan anak tangga ganjil selalu berjumlah ganjil apakah tiga, lima, tujuh, atau sembilan—adalah sebuah pengakuan jujur dari para leluhur tentang hakikat kemanusiaan. Dalam kosmologi Mandailing, jika angka genap melambangkan sesuatu yang sudah mati dan kaku, maka angka ganjil adalah simbol dari denyut kehidupan yang terus bertumbuh, dinamis, dan belum selesai. Secara filosofis, susunan ganjil ini membisikkan pesan mendalam bahwa setiap manusia yang menapakkan kakinya ke atas lantai sidang membawa serta kodrat ketidaksempurnaannya sendiri karena tidak ada manusia yang genap atau utuh secara mandiri. Maka, anak tangga yang ganjil itu bertugas mengingatkan siapa saja yang hendak bicara, bahwa kekurangan individualnya hanya akan bisa digenapkan, disempurnakan, dan diredam egonya ketika ia sudi meleburkan diri ke dalam ketulusan mufakat komunal bersama jiwa-jiwa lainnya.
Sebab, di atas lantai Sopo Godang inilah, melalui tatanan adat Dalihan Na Tolu, segala sekat kasta dilebur tanpa sisa. Relasi antara Mora, Kahanggi, dan Anak Boru berinteraksi dalam kedewasaan yang sangat matang. Walau kedudukan mereka dalam silsilah adat berbeda, setiap orang memiliki hak suara yang sama kuat, dijamin oleh ruang publik yang setara. Sang raja di peradaban Mandailing bukanlah penguasa absolut yang titahnya tak boleh dibantah; ia hanyalah seorang primus inter pares—yang dituakan di antara sesama—yang kekuasaannya dibatasi oleh mufakat rakyatnya sendiri. Jika raja berani melanggar keadilan yang kasat mata di dalam Sopo Godang, maka tiang-tiang perkasa di Pakantan atau Panyabungan Tonga, serta embusan angin tempat itu sendiri yang akan menjadi saksi atas runtuhnya wibawa sang penguasa.
Merenungkan filosofi Sopo Godang hari ini membawa sanubari kita pada sebuah refleksi yang menggugah sekaligus menyentil peradaban modern. Leluhur Mandailing telah mengajarkan demokrasi yang membumi bahwa sebuah keputusan hukum baru memiliki kesaktian dan berkah jika ia berani diuji oleh tatapan mata jernih anak-anak perkampungan, hembusan angin malam, dan pendengaran rakyat yang berkumpul di sekeliling balai. Sopo Godang membuktikan bahwa kedaulatan tertinggi tidak diukur dari seberapa kokoh kita mempertahankan pendapat melainkan dari seberapa luas kita membuka dada untuk merengkuh perbedaan pendapat dalam kesetaraan.
Sopo Godang itu bukan sekadar aksesoris peninggalan purbakala yang sunyi atau latar belakang foto budaya yang eksotis. Ia adalah bukti peradaban yang tinggi dan abadi. Mengajarkan bagaimana manusia seharusnya mengelola dan merawat kebersamaan. Sopo Godang adalah simbol peradaban yang meyakini bahwa persatuan hanya bisa diraih lewat kasih sayang (Holong do Maroban Domu), dan kesejahteraan bersama hanya bisa dijemput melalui keterbukaan (Domu Maroban Parsaulian).
Di tengah dunia yang kian tersekat oleh ego, kelas ekonomi, dan dinding pembatas sosial, Sopo Godang tetap berdiri tegak di ingatan kultural kita—sebuah pengingat yang puitis dari hulu Pakantan, Singengu, Huta Nagodang hingga hilir Panyabungan bahwa kebersamaan yang dilahirkan dari musyawarah untuk mufakat meruapakan yang terbaik. Leluhur kita sudah meyakini dan mempraktekkan ini.





