Tragedi Jumat : Dia Menolak Perintah Sujud Penghormatan – Kini Sebagian Manusia Menolak Sujud Pada Pencipta-Nya

Gambar Ilustrassi Jin Azazil( Iblis) Menolak Perintah Allah Untuk Sujud Penghormatan (Tahiyyah ) Pada Nabi Adam As , sementara Para Malaikat Patuh.

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Pendahuluan
Pada hari Jumat, hari terbaik ketika matahari terbit, sebuah peristiwa besar mengukir sejarah keberadaan makhluk. Di hari agung itulah Nabi Adam AS diciptakan dari tanah dan ditiupkan roh ke dalamnya (HR. Muslim). Namun, momen kemuliaan itu sekaligus menjadi saksi lahirnya pembangkangan pertama di alam semesta.

Bacaan Lainnya

Iblis dilaknat dan diusir dari surga selamanya hanya karena menolak satu kali perintah sujud, sebuah sujud penghormatan (sujud tahiyyah), bukan sujud penyembahan (sujud ‘ibadah)

Tragedi ini melahirkan paradoks besar saat disandingkan dengan realitas hari ini: jika Iblis hancur karena enggan bersujud kepada sesama ciptaan atas perintah Allah, betapa mengerikannya nasib manusia modern yang secara terbuka menolak bersujud langsung kepada Sang Maha Pencipta

Satu Pembangkangan yang Mengunci Takdir Abadi Iblis

Akar dari kehancuran Iblis bukanlah ketidaktahuannya akan keberadaan Allah, melainkan rasa bangga dan ego atas asal-usul dirinya. Al-Qur’an mengabadikan jawaban congkaknya dalam Surah Al-A’raf ayat 12: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku memerintahkanmu? Iblis menjawab: Aku melebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”

Iblis merasa derajat apinya terlalu tinggi untuk membungkuk di hadapan Adam yang terbuat dari tanah

Pembangkangan tunggal yang didasari kesombongan ini berakibat fatal. Seluruh ikatan kemuliaannya diputus, dan takdirnya dikunci rapat dalam laknat abadi (abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn, QS. Al-Baqarah: 34). Mengeriian , Satu kali penolakan sujud cukup untuk membinasakannya selamanya

Realitas Manusia dan Keberanian Meremehkan Panggilan Allah

Menatap kehidupan modern hari ini membawa kita pada kenyataan yang jauh lebih menggegerkan. Manusia, makhluk yang dahulu dibela dan dimuliakan di hadapan para malaikat, justru dengan santai memalingkan wajah dari perintah sujud.

Panggilan azan berkumandang lima kali sehari mengajak jiwa-jiwa merundukkan dahi ke bumi, tetapi sering kali disambut dengan sikap dingin, diabaikan demi pekerjaan, atau dianggap pengganggu rutinitas semata

Allah SWT telah memperingatkan tabiat buruk ini dalam Surah Maryam ayat 59: “Maka datanglah setelah mereka suatu generasi yang menyia-nyiakan salat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”

Bahaya spiritual terbesar bukanlah sekadar kelalaian fisik, melainkan ketika tumpulnya nurani membuat dosa meninggalkan salat terasa biasa saja tanpa ada sejumput penyesalan di dalam dada

Ancamannya Nyata: Peringatan Keras Al-Qur’an dan Hadist

Ancaman bagi mereka yang meremehkan salat bukanlah perkara main-main. Rasulullah SAW menegaskan batas tegas antara keimanan dan pembangkangan dalam hadis riwayat Muslim: “Pembeda antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan salat.”

Peringatan ini semakin gamblang saat Al-Qur me-rekam dialog penyesalan para penghuni neraka Saqar dalam Surah Al-Muddaththir ayat 42-43. Ketika ditanya mengenai alasan utama yang melempar mereka ke dalam siksa yang membakar, jawaban pertama yang terucap adalah: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat”

Ada perbedaan mendasar antara kedua bentuk pembangkangan ini: Iblis menolak sujud karena ego atas asal-usul dirinya saat Adam diciptakan, sedangkan manusia menolak sujud karena terbuai oleh kesenangan dan kesibukan duniawi yang semu

Rajin Salat Belum Tentu Husnul Khatimah, Apalagi Terang-terangan Menolak Sujud

Di sinilah letak ironi yang paling memilukan sekaligus mengerikan. Seluruh amal ibadah yang dilakukan manusia—bahkan salat seumur hidup sekalipun, tidak pernah menjadi “tiket otomatis” atau alat bayar untuk membeli surga Allah. Masuk surga dan memperoleh puncak kenikmatan tertinggi, yaitu melihat Wajah Allah SWT (ru’yatullah), sepenuhnya adalah karunia dan rahmat-Nya

Rasulullah SAW secara tegas meruntuhkan kesombongan manusia yang merasa bisa mengandalkan amalnya sendiri melalui sabdanya:

“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang dimasukkan oleh amalnya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

Penegasan ini diperkuat dalam Surah An-Nur ayat 21, di mana Allah SWT mengingatkan bahwa kesucian jiwa dan hidayah manusia murni karena rahmat-Nya: “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih (dari dosa) selama-lamanya…”

Bahkan puncak nikmat di surga, yakni diizinkannya hamba menatap Sang Pencipta, adalah bentuk rahmat tambahan (ziyādah) yang melampaui hitung-hitungan amal.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 26: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (ziyādah)”

Dalam hadis riwayat Muslim dari Suhaib ar-Rumi RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ziyādah tersebut adalah tersingkapnya tabir sehingga penghuni surga dapat menatap Wajah Allah SWT, sebuah nikmat yang tak tandingi yang dianugerahkan murni atas Rahmat dan Ridha-Nya

Jika mereka yang rajin bersujud saja masih harus menangis memohon rahmat-Nya agar tidak tertimpa su’ul khatimah, lantas atas dasar apa manusia yang terang-terangan menolak sujud merasa aman dari murka-Nya?

Menolak salat berarti secara sengaja memutuskan hubungan dengan satu-satunya pintu rahmat tersebut. Oh, betapa mengenaskannya nasib jiwa yang menolak merunduk, padahal tanpa rahmat Allah, tidak ada satu pun makhluk yang selamat dari kebinasaan

Kesimpulan
Perbandingan antara tragedi Iblis dan kelalaian manusia seharusnya menjadi tamparan keras bagi kesadaran kita. Kita menghirup udara Allah, menikmati rezeki-Nya, dan tinggal di atas bumi-Nya, tetapi betapa beratnya kening ini untuk menyentuh tanah demi menyembah-Nya

Sebelum garis waktu kehidupan gulung tikar dan dahi tak lagi bisa direndahkan di hadapan-Nya, menyadari betapa berharganya setiap detik sujud adalah satu-satunya jalan keselamatan

Jangan sampai kita mengakhiri perjalanan hidup dalam takdir yang jauh lebih mengenaskan daripada sang penggoda itu sendiri

Wallahualam bishawab
Dan Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Pos terkait