Oleh : Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)
Di hamparan dataran tinggi Mandailing, di mana pegunungan Bukit Barisan senantiasa diselimuti kabut tebal, kata “lopo” bukanlah sekadar sebutan untuk sebuah tempat berteduh. Bagi masyarakat setempat, ia adalah pusat gravitasi dari seluruh denyut kehidupan sosial dan kultural. Dari luar tempat ini mungkin tampak bersahaja karena ia hanyalah sebuah warung kecil berdinding papan bahkan ada yang masih menggunakan “gogat” dengan penerangan seadanya. Namun begitu melangkah ke dalam, “lopo” segera berubah menjadi sebuah kata kerja karena berubah fungsi menjadi sebuah ruang hidup yang dinamis di mana kopi Mandailing diseduh bukan sekadar untuk menepis dinginnya udara gunung, melainkan untuk mengikat kembali simpul-simpul kekerabatan yang sempat merenggang akibat seharian bergelut dengan kerasnya urusan ladang.
Suasana ini terasa sangat nyata kalau anda berkunjung ke Ranto Natas, sebuah desa tua yang posisinya lumayan jauh di pegunungan Panyabungan Timur. Desa tua ini bukan sekadar barisan rumah papan di sepanjang jalan namun ia adalah tanah yang menyimpan catatan sejarah personal yang mendalam. Di tempat terpencil inilah, begawan ekonomi Indonesia sekaligus ayah dari Presiden RI Prabowo Subianto, Profesor Sumitro Djojohadikusumo, pernah menenun hari-harinya dalam pelarian politik masa lalu. Ranto Natas tidak mengasingkannya, melainkan memeluknya sebagai saudara hingga sang profesor dianugerahi marga kehormatan dan gelar adat Mandailing yang luhur yakni Sutan Barani Rangkuti. Jejak langkah sang sutan legendaris itu kini mengendap abadi menjadi bagian dari kebanggaan dan harga diri komunal yang melekat erat pada sanubari setiap warga desa.
Ranto Natas berdiri kokoh di bawah bayang-bayang Tor Sihite, benteng alam raksasa berupa jajaran perbukitan curam berselimut hutan lebat yang mendominasi seluruh lanskap Panyabungan Timur. Di lereng-lereng Tor Sihite inilah warga menggantungkan hidup dengan menanam kopi, karet, enau dan tanaman keras lainnya. Namun, hutan perawan yang pekat dan kontur medan yang terisolasi di pedalaman Tor Sihite juga menyimpan sisi kelamnya sendiri. Selama puluhan tahun, kerapatan rimba raya ini sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu sebagai persembunyian ladang tanaman terlarang, membuat nama pegunungan ini kerap menghiasi catatan operasi aparat keamanan. Dualisme alam inilah yang membentuk karakter manusia di bawah kakinya yaitu hutan yang memberi berkah pangan sekaligus labirin sunyi yang menyimpan rahasia dan pergulatan hidup yang nyata
Senja di Ranto Natas selalu punya ritme sendiri. Ketika matahari mulai turun, langit berubah jadi warna jingga tembaga. Kabut pegunungan pelan-pelan merayap turun menyelimuti barisan pohon dan atap seng rumah warga yang sudah menghitam dimakan usia. Angin di sini dingin, membawa bau tanah basah bercampur sisa getah karet yang menyengat. Pada jam-jam tanggung seperti inilah, lampu minyak atau bohlam kuning redup di “lopo” desa mulai dinyalakan. Para lelaki berdatangan dengan kain sarung melingkar di leher, ada juga yang menyelimuti tubuhnya (margobak) berjalan pelan menembus gigil malam, menuju kehangatan meja kayu yang sama. Di Ranto Natas, kedatangan senja justru jadi penanda dimulainya kehidupan sosial yang sebenarnya.
Di dalam ruangan kecil terbuka ini aroma bubuk kopi menguap keseluruh penjuru. Ditengah aroma yang khas dan pekat itulah, “lopo” menjalankan fungsi aslinya sebagai pusat informasi desa yang paling jujur. Di sudut meja dekat pintu, di bawah lampu yang bergoyang ditiup angin malam, terdengar percakapan santai yang memecah keheningan:
“Idia langa si Kanang? Madung dua borngin inda jungada uida ia boto…”
Pertanyaan itu muncul karena ada sahabat mereka yang sudah beberapa malam absen ngopi. Dan dari balik meja seberang, seorang lelaki paruh baya datang menyahut sambil menghisap rokok kreteknya dalam.
“I ma da, Ucok… ampot na urang sehat do ia.”
Dua baris kalimat pendek itu adalah bukti betapa organiknya “lopo”. Perpindahan orang, kabar suka, maupun duka dari sebuah keluarga menyebar dengan cepat di sini tanpa perlu pengumuman formal atau birokrasi yang kaku.
Di desa seperti Ranto Natas, dinding papan “lopo” seolah menjadi lembaran koran hidup yang terbit tanpa kertas. Kabar dari pasar Panyabungan atau gosip dari desa tetangga biasanya sudah selesai dibedah di meja “lopo” sebelum media resmi sempat menciumnya. Lebih dari sekadar tempat berbagi berita harian, “lopo” adalah penjaga ingatan bersama. Silsilah keluarga atau tarombo, urusan batas tanah ulayat yang sering memicu bingung, sampai cerita lama tentang kisah Sutan Barani Rangkuti hingga para tetua yang pertama kali membuka perkampungan tersebut, semuanya dirawat di sini. Cerita-cerita itu tidak dicatat di buku, melainkan mengalir dari bibir ke telinga di antara kepulan pekat asap rokok. “Lopo” menjaga sejarah itu tetap hidup sebagai pegangan buat anak-anak muda agar tidak lupa dari mana mereka berasal.
Tradisi “marlopo”, duduk santai sambil menikmati segelas kopi—bukan sekadar cara menghabiskan waktu luang setelah seharian memeras keringat di kebun. Ini adalah ruang istirahat bagi jiwa yang lelah. Di atas kursi kayu yang warnanya sudah mulai pudar, aturan adat yang kaku bisa melonggar sejenak. Sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang biasanya membagi posisi warga dalam hierarki ketat antara Mora, Anak Boru, dan Kahanggi, seperti mendapat waktu jeda yang damai di dalam “lopo.” Di sini, status ekonomi atau gelar kebangsawanan mencair seketika. Seorang petani biasa punya hak penuh untuk menyanggah omongan tokoh masyarakat tanpa harus merasa sungkan atau takut. “Lopo” menjadi tempat semua orang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi—sebuah ruang demokrasi yang lahir alami dari bawah.
Konsep nongkrong ini juga punya fungsi sosiologis yang kuat sebagai tempat menimbun modal sosial. Pertemuan yang terjadi hampir setiap malam membangun rasa saling percaya dan ikatan emosional antar-warga desa. Kohesi sosial yang dipupuk lewat obrolan ringan inilah yang membuat masyarakat sangat kompak saat siang hari. Kalau ada tetangga yang tertimpa kemalangan atau sedang menggelar pesta adat (horja), warga tidak perlu lagi mengumpulkan rapat formal yang kaku. Rasa solidaritas dan kesiapan buat saling bantu seolah-olah sudah ditenun dan disepakati terlebih dahulu di dalam lopo kopi.
Bagi masyarakat agraris di lereng gunung Panyabungan Timur, “lopo” adalah ruang penyelamat mental yang sangat penting. Hidup sebagai petani di sini keras. Seharian penuh mereka harus mendaki tebing curam, merawat tanaman, atau menantang dinginnya pagi demi menyadap getah karet. Pikiran mereka sering kali didera cemas akibat harga komoditas yang naik-turun tidak pasti. “Lopo” hadir sebagai tempat melepas semua beban psikologis itu. Di tempat ini, penat fisik menguap bersama asap kopi panas, dan kecemasan diringankan lewat tawa bersama. Beban hidup tidak lagi dipikul sendirian, tapi dibagi rata dengan tetangga sebelah meja.
Keberadaan “lopo” sebagai pelindung sosial makin kelihatan dari buku catatan kecil milik pemilik warung—sistem “bon” yang berjalan atas dasar rasa percaya satu sama lainnya. Di “lopo”, segelas kopi atau sepotong pisang goreng tidak harus langsung dibayar dengan uang tunai malam itu juga. Ada toleransi yang longgar bahwa bayaran bisa menyusul nanti saat hari pekan tiba, atau setelah hasil panen karet selesai ditimbang. Buku bon ini bukan tanda utang yang memalukan, tapi bentuk jaring pengaman ekonomi yang manusiawi. Di komunitas ini, menjaga hubungan baik dan martabat tetangga jauh lebih utama ketimbang hitung-hitungan untung rugi materi. “Lopo” memastikan faktor uang tidak akan membuat seseorang terasing dari pergaulan desanya.
Uniknya, kedekatan batin di meja warung ini juga sering meredam konflik desa sebelum telanjur membesar. “Lopo” kerap menjadi ruang penyelesaian masalah yang sunyi. Ketika ada sengketa kecil atau salah paham antar-warga, penyelesaiannya tidak langsung dibawa ke sidang adat yang tegang atau jalur hukum resmi. Masalah-masalah itu biasanya diredam lewat obrolan santai di “lopo” dengan pendekatan kekeluargaan. Melalui candaan yang mencairkan suasana atau sindiran halus yang menyentuh perasaan, ego masing-masing pihak pelan-pelan melunak. Banyak masalah pelik yang selesai begitu saja tepat saat ampas kopi mulai mengendap di dasar gelas.
Tentu saja “lopo” bukan tempat yang sempurna tanpa cela. Di balik tawa lepas dan kepulan rokok, meja-meja “lopo” adalah ruang yang abu-abu. Ia berada di batas tipis, bisa menjadi tempat lahirnya ide-ide baik buat kemajuan desa, atau sebaliknya, menjadi panggung subur bagi penyebaran gosip dan rumor yang belum jelas kebenarannya. Kabar burung mengalir deras di sini, dan kalau tidak hati-hati, bisa berubah jadi ruang penghakiman sepihak. Di sinilah “marlopo” menguji kedewasaan sosial warga. Masyarakat Mandailing ditantang punya kearifan buat menyaring setiap ucapan, memilah mana kabar yang membawa manfaat dan mana prasangka yang bisa memicu perpecahan.
Di tengah zaman modern yang serba cepat dan mulai didominasi gawai, “lopo” menjadi benteng terakhir bagi tradisi tutur asli Mandailing. Di sinilah bahasa ibu menemukan ruangnya yang paling aman agar tidak punah. Melalui obrolan bebas tanpa sekat, istilah lokal, ungkapan adat (umpama), hingga kelakar jenaka diwariskan langsung secara alami dari generasi tua ke anak-anak muda seperti percakapan Ucok dan tetangganya malam itu. Bahasa Mandailing di sini tidak dipelajari dari buku sekolah yang kaku, melainkan dihirup langsung bersama udara warung. Ia tetap hidup dan berdegup sebagai pembentuk identitas kolektif warga.
Lebih jauh lagi, setiap cangkir yang berdenting di atas meja “lopo” sesungguhnya adalah bagian dari perputaran ekonomi mikro yang menyelamatkan dapur para petani di hulu. Ketika seseorang memesan segelas kopi di “lopo” desa, ada rantai kesejahteraan lokal yang sedang bergerak. Ini adalah siklus ekonomi yang mandiri dan penuh rasa kepedulian, di mana uang yang berputar kembali mengalir untuk menghidupi masyarakat di tanah kelahirannya sendiri.
Ketika malam makin larut dan kabut Ranto Natas mulai merembes masuk lewat sela-sela dinding papan, “lopo” kopi menunjukkan esensi aslinya. Ia bukan sekadar bangunan fisik tempat berteduh dari dinginnya malam. “Lopo” adalah sebuah filsafat hidup yang nyata. Ruang ini membuktikan bahwa manusia selalu butuh tempat ketiga—sebuah pelataran netral di luar rumah dan tempat kerja—hanya untuk merasa didengar, diakui, dan menjadi bagian dari sebuah komunitas. Lewat secangkir kopi di dalam “lopo”, masyarakat Mandailing tidak sekadar merawat tradisi lama, tapi mereka sedang menegaskan pilihan hidup bahwa di tengah dunia modern yang sering membuat manusia merasa asing dan sendiri, mereka memilih untuk tetap duduk bersama, mengobrol, dan memanusiakan satu sama lain.





