Peringatan Hilangnya Jati Diri: Pelestarian Adat & Budaya Padangsidimpuan Kian Terabaikan

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan – Kondisi pelestarian adat istiadat, budaya, dan seni di Kota Padangsidimpuan, dinilai berada dalam situasi yang memprihatinkan.

Sejumlah elemen masyarakat dan pemerhati budaya menyoroti memudarnya perhatian terhadap warisan leluhur, di saat generasi muda perlahan kehilangan ruang untuk mengenal identitas asli mereka.

Bacaan Lainnya

Kekayaan seni tradisional khas Angkola-Mandailing yang dahulu kerap mewarnai berbagai kegiatan adat dan sosial kini kian jarang dipentaskan.

Sanggar-sanggar seni yang masih bertahan pun menghadapi keterbatasan serius, mulai dari minimnya pembinaan, fasilitas yang kurang memadai, hingga dukungan pendanaan yang tidak berkelanjutan.

Tokoh dan penggiat budaya menegaskan bahwa upaya pelestarian tidak boleh sebatas tampil di peringatan hari besar atau seremoni pemerintahan semata. Diperlukan program nyata dan menyeluruh agar nilai-nilai adat tetap hidup dan bernapas di tengah keseharian masyarakat.

“Jika tidak dirawat dan ditanamkan sejak sekarang, bukan mustahil anak cucu kita kelak hanya mengenal budaya daerah sekadar dari cerita lisan, tanpa pernah merasakan praktik langsungnya,” ujar salah satu pemerhati budaya di Kota Padangsidimpuan.

Kritik tajam juga tertuju pada minimnya penyelenggaraan festival budaya, pelatihan seni tradisional, serta integrasi nilai budaya dalam kurikulum atau edukasi di sekolah.

Masyarakat mendesak pemerintah daerah untuk lebih serius menempatkan pelestarian budaya sebagai pilar utama pembangunan daerah, bukan sekadar agenda pelengkap.

Padangsidimpuan sejatinya dikenal sebagai benteng kekayaan budaya Angkola, mulai dari tarian, musik gondang, tortor, hingga kearifan lokal dan bahasa daerah yang menjadi identitas Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Dila Rian Batari Harahap gelar Tongku Raja Parlaungan menegaskan esensi mendasar dari menjaga warisan ini.

“Budaya adalah identitas kita yang sesungguhnya. Jika adat dan budaya sendiri tak lagi dikenal oleh generasi penerus, maka secara perlahan kita sedang kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa dan masyarakat,” tegasnya.

Harapan masyarakat sederhana namun mendesak, yakni butuh perhatian nyata agar warisan leluhur tidak tergerus zaman dan tetap terjaga keabadiannya. (SN13)

Pos terkait