Penulis: Rasyid Assaf Dongoran
Manusia sering kali tertipu oleh benteng-benteng lahiriah. Banyak yang mengira bahwa gelar akademik yang berderet dan jubah profesi yang terpandang adalah jaminan mutlak bagi kelapangan hidup.
Padahal, rezeki bukan sekadar angka yang terhitung di atas kertas, melainkan cahaya keberkahan yang dicurahkan Sang Maha Kaya ke dalam wadah jiwa.
Ketika jiwa gersang dan terhalang oleh jelaga maksiat, kelapangan materi hanyalah bayangan semu.
Kemiskinan sejati kerap bermula saat hubungan seorang hamba dengan Penciptanya merenggang, serta hatinya dikotori oleh penyakit batin dan hawa nafsu.
– Cahaya Al-Qur’an (Hakikat Rezeki dan Takwa):
“…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…” (QS. At-Talaq: 2–3)
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)
Meninggalkan Shalat: Memutus Tali Kehidupan
Shalat adalah perjumpaan sunyi antara kefakiran hamba dan Keagungan Tuhan. Ketika seseorang berpaling dari shalat, ia pada hakikatnya sedang mengunci pintu rezeki dari Langit dan memilih berjalan di padang gersang tanpa naungan.
Cahaya Al-Qur’an:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)
Pesan An-Nabi:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kefakiranmu. Jika kamu tidak melakukannya, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi no. 2466)
“Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)
Enggan Berinfak
Menggenggam Debu Dunia
Harta di tangan manusia ibarat air. Jika dialirkan melalui infak dan sedekah, ia akan tetap jernih dan menghidupkan. Namun, jika ditahan karena rasa takut akan kemiskinan, ia akan membusuk dan merusak pemiliknya. Kikir adalah bisikan ilusi yang membuat jiwa merasa kekurangan di tengah kelimpahan.
Cahaya Al-Qur’an:
“Katakanlah, ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki).’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)
“Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang kikir dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa kikir itu baik bagi mereka. Sebenarnya kikir itu adalah buruk bagi mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 180)
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir)…” (QS. Al-Baqarah: 268)
Pesan An-Nabi:
“Tidak ada satu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang satunya lagi berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (kikir).’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah…” (HR. Muslim no. 2588)
Ketidakjujuran: Mengubur Keberkahan dalam Dusta
Kejujuran adalah menyatunya kata dengan kebenaran Ilahi. Ketika seseorang berbohong dan berbuat curang demi segenggam dunia, ia sedang menukar keberkahan yang abadi dengan nikmat sesaat yang beracun. Harta mungkin bertambah secara hitungan kasar, namun rasa cukup (qana’ah) dicabut dari dadanya.
Cahaya Al-Qur’an:
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang dan menakar)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188)
Pesan An-Nabi:
“Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan berbuat benar, maka jual beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, maka dihapuslah keberkahan jual beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan adalah keraguan.” (HR. Tirmidzi no. 2518)
Hasad: Membakar Taman Jiwa Sendiri
Hasad adalah penentangan terselubung terhadap pembagian Sang Maha Adil. Orang yang dengki merasa terbakar oleh nikmat yang dicurahkan Allah kepada saudaranya.
Akibatnya, jiwanya senantiasa miskin dan haus, sebab ia sibuk memandangi taman orang lain sementara pintunya sendiri tertutup oleh kegelapan dosa.
Cahaya Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…” (QS. An-Nisa’: 32)
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)
Pesan An-Nabi:
“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim no. 2559)
“…Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar diharamkan dari rezeki disebabkan dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad no. 22386 dan Ibn Majah no. 4022)
Pemborosan dan Memperturutkan Hawa Nafsu
Menampung Air dalam Bejana Bocor
Berapa pun besarnya sungai rezeki yang mengalir, ia tidak akan pernah mampu memuaskan bejana yang bocor oleh dahaga hawa nafsu.
Banyak orang berpenghasilan melimpah, namun hidupnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan lilitan utang yang tak kunjung usai. Hal ini terjadi karena mereka membelanjakan harta pada jalan kesenangan semu yang tidak diridhai Allah, menghamburkan keberkahan demi ilusi gengsi dan kepuasan sesaat.
Cahaya Al-Qur’an:
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26–27)
“…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqan: 67)
Pesan An-Nabi:
“Sesungguhnya Allah membenci tiga perkara pada kalian: kabar burung (desas-desus yang tidak jelas), menghambur-hamburkan harta (pemborosan), dan banyak meminta-minta.” (HR. Bukhari no. 2408 dan Muslim no. 593)
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan… dan tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia infakkan (belanjakan).” (HR. Tirmidzi no. 2417)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa mengajarkan doa agar terhindar dari beban berat, kikir, dan jeratan utang:
Allahumma inni a’udzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-bukhli wal-jubn, wa dhala’id-daini wa ghalabatir-rijal
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kikir, serta dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia.” (HR. Bukhari no. 2893)
Muara Rasa Menyucikan Bejana Hati
Gelar yang menjulang dan jabatan yang terpandang hanyalah pakaian luar yang kelak akan ditinggalkan. Kunci kelapangan hidup yang sejati ada pada bejana hati
“…Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar diharamkan dari rezeki disebabkan dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad no. 22386 dan Ibn Majah no. 4022)
Apabila hati dibersihkan dari kesombongan meninggalkan shalat, dikikis dari sifat kikir dan dusta, disucikan dari racun hasad, serta dijaga dari nafsu pemborosan yang merusak, maka rezeki akan mengalir, bukan hanya dalam bentuk angka-angka duniawi, melainkan berupa ketenangan, keberkahan, rasa cukup, dan ketenteraman jiwa.
Wallahu a’lam bish-shawab
“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang benar (kebenaran yang sejati)”





