Oleh : Moechtar Nasution
Hampir setiap sore kalau tidak malam selepas sholat Isya, saya selalu menyempatkan diri mampir di“lopo” kopi langganan yang letaknya tidak berapa jauh dari kediamanan saya dijalan Bermula, mungkin lebih kurang 120 meter. Kemarin saat saya datang, suasananya lagi ramai dan bising sekali. Di sekeliling saya banyak anak-anak muda dan semua sibuk dengan obrolannya masing-masing beradu dengan denting sendok dan musik dari ponsel dengan volume yang agak keras. Tapi anehnya di tengah keriuhan itu, saya menemukan seorang lelaki paruh baya yang menyendiri sementara itu saya beberapa orang di sekitarnya ada yang sibuk memegang ponsel untuk membuka lalu menutup aplikasi tanpa tujuan yang jelas. Pikiran dan batin lelaki paruh baya itu sepertinya sedang melayang jauh, entah mencari apa. Sesekali dia menghisap dalam dalam rokok kretek dibibirnya dan menghembuskannya pelan.
Momen kehidupan seperti ini membuktikan satu hal bahwa sendiri dan kesepiaan itu tidak ada urusannya dengan seberapa penuh ruangan di sekitar kita dan tidak ada juga kaitanyya dengan status ekonomi, sosial dan gender sekalipun. Sendiri dan kesepian itu dua masalah dalam lanskap batin manusia. Sebuah getaran sunyi yang kerap gagal dibaca orang lain.
Sayangnya sama seperti saya juga, sering kali penilaian terhadap sesama manusia ini cuma dilihat dari bungkus luarnya saja alias casing semata. Melihat orang lain mojok sendirian insting kita langsung kasihan dan iba. Terlalu mudah mengambil kesimpulan kalau hidupnya mungkin mengenaskan dan penuh kesepian. Nah kebalikannya jika ada orang yang selalu jadi pusat perhatian, temannya banyak, dan hidupnya kelihatan meriah, kita langsung berasumsi hidup mereka pasti utuh dan Bahagia. Sempurna tanpa beban dan masalah. Padahal penilaian seperti ini, hitam-putih begini jelas keliru. Kita lupa kalau sendiri dan kesepian itu adalah dua dimensi yang arahnya bertolak belakang.
Jika dipikir-pikirkan lagi, menikmati waktu sendiri—atau yang biasa disebut solitude—adalah sebuah pilihan sadar. Bahkan bisa dibilang ini bentuk kemewahan spiritual yang mahal. Manusia itu pada titik-titik tertentu memang butuh ruang sepi untuk mengumpulkan kembali energi yang habis diperas kehidupan. Di dalam ruang kesendirian ini tidak ada penderitaan. Sama sekali tidak ada kehampaan. Yang ada justru rasa nyaman dan kedamaian yang utuh. Mengapa? Karena mereka mampu merayakan kehadiran diri sendiri tanpa perlu repot-repot mencari pengakuan atau validasi orang lain. Jiwa-jiwa seperti ini sudah selesai dengan dunianya.
Tapi situasinya bakal berbalik seratus delapan puluh derajat jika kita berbicara soal kesepian. Kesepian itu rasanya seperti ada lubang kosong yang menganga di dalam dada. Sialnya, kabut emosional ini tidak butuh tempat sepi untuk muncul. Perasaan ini bisa menyergap kapan saja. Kadang hadir di tengah pesta yang hangat, di sela-sela rapat kantor yang padat, atau bahkan saat menonton konser musik yang riuh. Mengapa? Karena secara eksistensial, jiwa kita tidak pernah mencari angka kerumunan, melainkan sebuah koneksi yang jujur.
Celakanya, di dunia modern sekarang kita justru sering dikelilingi oleh percakapan yang dangkal. Kita kumpul bersama, tapi ujung-ujungnya masing-masing cuma sibuk menceritakan pencapaian diri, memamerkan kebahagiaan yang sudah disaring, atau melempar candaan yang lewat begitu saja di permukaan. Aneh memang. Kita ini senang sekali bicara, tapi mendadak tuli kalau disuruh mendengarkan. Fisik kita sedekat itu, bahkan sering bersentuhan, tapi jiwanya? Masing-masing terasing jauh di dalam. Padahal manusia itu selalu merindukan hubungan yang apa adanya. Kita butuh ruang aman untuk menceritakan kerapuhan tanpa perlu takut dihakimi atau dianggap lemah. Nah, pas ruang aman itu tidak ketemu di tengah kerumunan, di situlah kesepian yang paling menyengat mulai lahir.
Lucunya, orang yang paling kesepian justru sering kali punya bakat akting paling hebat. Coba perhatikan teman yang tawanya paling menggelegar saat nongkrong atau pembawaannya selalu ceria, atau yang paling rajin menghibur pas orang lain sedang sedih. Mereka pakai kedok ‘saya aman’ bukan karena berniat jahat atau ingin menipu. Mereka cuma sedang melindungi diri mereka sendiri. Mereka mungkin sudah terlalu lelah harus menjelaskan keruwetan di dalam hatinya, atau mereka takut kalau jujur malah bakal jadi beban bagi orang sekitar. Pada akhirnya, mereka memilih merawat sunyi dalam-dalam di balik riuhnya tawa yang mereka bagikan ke dunia.
Kondisi ini makin diperparah oleh jembatan digital yang dibangun setiap hari. Kita bertukar pesan dalam berbagai platform media sosial, memberi tanda suka dengan emoji, dan mengomentari hidup orang lain lewat layar kaca. Tapi kedekatan virtual ini sering kali cuma fatamorgana. Kita membuat ilusi seolah-olah tidak pernah sendirian padahal di saat bersamaan, kita sedang membangun dinding pemisah yang tebal dengan realitas emosional yang sesungguhnya. Teknologi memberi kita banyak kontak, tapi pelit memberikan keintiman. Kita kenyang oleh informasi sosial tapi kelaparan akan sentuhan kasih sayang yang nyata.
Setiap manusia itu membawa labirin rahasianya masing-masing. Labirin berisi kenangan masa lalu, trauma lama yang belum sembuh, atau kecemasan akan masa depan. Waktu kita berinteraksi hanya di kulit luar saja, labirin itu tetap terkunci rapat. Pemiliknya terjebak sendirian di dalam tanpa tahu jalan keluar. Makanya, kehadiran orang lain yang cuma formalitas justru sering kali mempertegas betapa terisolasinya diri kita yang sebenarnya. Ini alasan kenapa kerumunan yang dingin tanpa empati rasanya jauh lebih menakutkan daripada sebuah kamar kosong yang sunyi.
Dari sini pelajarilah satu hal bahwa kita seharusnya sudah mampu untuk memulai latihan kepekaan mata dan batin untuk melihat dan melampaui apa yang kasat mata. Jangan mengasihani mereka yang memilih jalan sunyi karena bisa jadi mereka sedang memeluk kedamaian sejati. Di sisi lain hapus juga asumsi kalau setiap keramaian itu tanda bahagia. Sering kali di balik tawa yang paling nyaring, ada jeritan minta tolong yang paling senyap. Kita harus belajar membaca isyarat dari sorot mata yang redup di balik senyuman yang mengembang.
Mau seberisik atau secepat apa pun dunia ini berputar, kebutuhan dasar manusia tidak akan pernah berubah. Siapaun oramgnua keinginannya sangat sederhana, cuma ingin didengar dengan tulus dan merasa benar-benar dimengerti. Mengulurkan perhatian kecil, berani membuka telinga untuk mendengarkan, dan hadir sepenuhnya tanpa penghakiman adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan kepada sesama.
Toh nanti setelah semua suara bising itu hilang dan lampu-lampu pesta dimatikan, kita semua kembali ke setelan awal. Menjadi manusia biasa yang cuma butuh pelukan hangat dan diterima tanpa syarat tanpa perlu berpura-pura lagi.
Wallahu a’lam bishawab……
