MENELUSURI TANO BATO YANG SEJARAHNYA MULAI TERTUTUP DEBU PERADABAN

Oleh: Moechtar Nasution

 

Tano Bato sebelum unifikasi kolonial

Ada tempat-tempat di mana sejarah tidak sekadar ditulis di atas lembar-lembar kertas usang yang lapuk dimakan usia, melainkan ditiupkan melalui kabut pagi yang pekat, melekat erat pada aroma tanah basah, dan disembunyikan rapat-rapat di bawah rengkuhan akar pohon kemiri yang menua. Tano Bato adalah sebuah bukti nyata yang hidup—sebuah wilayah sunyi yang sangat bersejarah, sebuah nama dengan nomenklatur kelurahan sekarang di Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal.

Hari ini jika kita melintasinya dengan kendaraan, ia barangkali hanya tampak seperti jajaran seperti desa/kelurahan yang sama sekali tidak berbeda dengan yang lainnya. Namun jika kita bersedia membuka hati untuk mendengarkan dengan seksama, tanah ini sebenarnya sedang membisikkan sebuah kisah epik yang sangat intim, mendalam, dan luar biasa megah. Di sinilah, di bawah bayang-bayang perbukitan purba yang melingkarinya, dua arus besar peradaban dunia pernah berhulu yakni sebuah gerakan literasi sunyi yang lahir dari rahim kaum bumiputera dan gelombang raksasa cita rasa global kopi yang mencengkeram jalannya urat nadi ekonomi internasional pada masanya.

Jauh sebelum pemerintahan kolonial Hindia Belanda menancapkan kuku kekuasaannya secara administratif melalui garis-garis batas formal yang kaku, bentang alam yang subur ini bukanlah sebuah kesatuan wilayah tunggal seperti yang kita kenal sekarang. Ruang hidup ini sejatinya merupakan rajutan indah dari lima kawasan mandiri yang berdaulat atas tanah adat mereka masing-masing, terikat oleh tali persaudaraan bona bulu yang kuat: Tarimbaru, Tanobato, Pagaran Tonga, Pagaran Korsik, dan Pagaran Gala-gala. Masing-masing kampung memiliki detak ritme kehidupannya sendiri yang damai, dengan tatanan sosial yang berakar pada kearifan lokal yang luhur serta sistem pemerintahan adat yang dihormati turun-temurun dari para leluhur. Semua itu berubah ketika langkah kaki serdadu dan juru ukur kolonial datang membawa kompas serta kuas, memetakan ulang segala jengkal tanah demi efisiensi kekuasaan dan pengisapan ekonomi komoditas.

Belanda justru kemudian melebur kelima wilayah merdeka ini dalam satu sapuan garis batas geografis baru yang dikenal sebagai peta Tanobato versi kolonial. Seiring waktu bergulir dan kemerdekaan direbut kembali oleh keringat bangsa, ruang-ruang itu perlahan mencari kembali takdir asalnya. Seperti Pagaran Gala-Gala yang kini telah memisahkan diri dan kembali berdiri tegak sebagai desa tersendiri dengan kebanggaannya. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa integrasi paksa masa lalu itu telanjur meninggalkan struktur tata ruang yang sangat kokoh dan sukar dihapus dari ingatan bumi Mandailing.

Sentralitas Tano Bato dalam Jaringan Perkebunan Kopi Mandailing

Di awal era kolonial di Mandailing, Tano Bato bukanlah sebuah sudut sepi yang sunyi dari keriuhan manusia. Tempat ini adalah sebuah metropolis pedalaman yang sibuk dan bising, sebuah titik etape akhir yang sangat krusial, strategis, dan vital bagi distribusi emas hijau legendaris bernama Kopi Mandailing (Mandheling Coffee). Sebelum nama kopi ini dipuja-puja di kafe-kafe modern dunia hari ini, rahim sejarahnya disemai di bawah paksaan  sistem Tanam Paksa Kopi (Koffiecultuur) Hindia Belanda yang dikelola oleh perusahaan dagang negara, Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM). Sekitar tahun 1840, pemerintah kolonial melihat potensi magis dari tanah Tano Bato yang bertengger di ketinggian perbukitan dengan iklimnya yang sejuk. Mereka memutuskan menjadikannya pusat pembibitan kopi arabika skala besar.

Dari rahim pembibitan di Tano Bato inilah, sebuah ledakan agraris dimulai dan menyebar dahsyat seperti gelombang hijau yang tak terbendung ke seluruh pelosok tanah Mandailing. Ribuan bibit arabika unggulan yang berhasil disemai di bawah kelembapan kabut Tano Bato diangkut secara bertahap menuju dataran tinggi Pakantan, sebuah wilayah subur di bawah kaki Gunung Kulabu yang hawa sejuknya langsung memeluk tanaman kopi ini dengan sempurna.

Di sana, perbukitan dibabat dan lereng-lereng curam bertransformasi menjadi permadani tanaman kopi yang berjejer rapi hingga ke batas langit. Tidak berhenti di situ, ekspansi kolonial mendorong budidaya massal ini bergerak lebih jauh menembus kelembutan lembah Ulu Pungkut, sebuah wilayah pedalaman yang sangat terisolasi namun memiliki tanah vulkanis yang teramat kaya akan nutrisi alami.

Tanaman kopi tumbuh subur bergelantungan di lereng-lereng perbukitan purba Ulu Pungkut, menyerap segala sari pati tanah terbaik Sumatra. Gelombang ini terus merambat hebat, mendaki dataran tinggi Kotanopan, menyusup ke wilayah Muara Sipongi, hingga menyeberang jauh meluas ke kawasan subur Angkola di Tapanuli Selatan. Tano Bato berdiri sebagai ibu kandung spiritual sekaligus episentrum agronomis yang melahirkan seluruh kejayaan perkebunan kopi di seluruh seantero bumi Sumatra bagian utara.

Anatomi Rantai Pasok Monopoli Hindia Belanda dan Hegemonik Finansial NHM

Kejayaan agraris yang meledak di seluruh pedalaman Mandailing ini menuntut dibangunnya sebuah infrastruktur logistik yang luar biasa masif, dan Belanda kembali memilih Tano Bato untuk memikul peran krusial tersebut dengan mendirikan sebuah Koffie Pakhuis atau kompleks gudang pengumpulan kopi raksasa. Gudang ini adalah benteng pertahanan ekonomi kolonial yang luar biasa besar dan kokoh. Setiap harinya, ribuan petani lokal dipaksa menghela napas berat di bawah terik matahari dan hujan, berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer memikul berkarung-karung biji kopi hasil panen raya yang datang mengalir dari lereng Pakantan, Kotanopan, dan Ulu Pungkut untuk diserahkan ke gudang Tano Bato ini dengan harga beli yang ditekan  rendah oleh sistem monopoli.

Kompleks gudang Tano Bato dipadati oleh para pengawas perkebunan (koffie-opziener) Belanda yang menghitung dengan cermat setiap butir kekayaan yang masuk. Di dalam kegelapan gudang raksasa Tano Bato itulah, bergunung-gunung biji kopi arabika dari seluruh pelosok Mandailing disortir, dikeringkan, dan dikemas ke dalam karung-karung rami tebal, menciptakan aroma harum kopi yang pekat dan tajam yang terus-menerus menggelayut di udara Tano Bato selama puluhan tahun, berbaur dengan kabut pegunungan yang dingin.

Dari benteng logistik Koffie Pakhuis Tano Bato inilah, rantai perdagangan dunia dimulai. Setiap subuh, sebelum matahari terbit, keriuhan luar biasa pecah di sepanjang jalanan tanah Tano Bato. Puluhan bahkan ratusan pedati kayu beroda besar yang ditarik oleh lembu-lembu kuat antre berjejer memanjang bagai ular raksasa di depan gerbang gudang. Karung-karung kopi dimuat ke atas pedati untuk menempuh perjalanan bertaruh nyawa. Jalur pengangkutan dari Tano Bato menuju pelabuhan di Pantai Barat Sumatra adalah jalur neraka yang membelakangi dan membelah dinding perbukitan terjal serta hutan belantara yang rawan longsor.

Derit roda-roda pedati kayu yang bergesekan dengan batu, cambukan para kusir, dan lenguhan lembu menjadi musik harian yang mengiringi aliran logistik kopi Mandailing melintasi jalur Jembatan Merah menuju Natal. Sesampainya di sana, berton-ton kopi Mandailing ini langsung dimuat ke lambung kapal-kapal dagang besar Eropa untuk berlayar menyeberangi Samudra Hindia, mengitari Tanjung Harapan, demi memenuhi cangkir-cangkir keramik kaum elite, bangsawan, dan borjuis di Amsterdam, London, hingga New York. Cita rasa legendaris Mandheling Coffee yang mendunia dan dihargai sangat mahal di pasar internasional itu lahir dari tetesan keringat di atas tanah Tano Bato yang legendaris.

Dari Koridor Pesanggrahan Menuju Simbol Otoritas Administrasi Modern

Karena perputaran komoditas kopi yang begitu masif dan bernilai jutaan Gulden itulah, Tano Bato dengan sangat cepat menjelma menjadi kawasan yang sangat ramai dan dipadati oleh kantor-kantor pemerintahan birokrasi Hindia Belanda (bestuur) yang kokoh. Pemerintah kolonial tidak ingin kehilangan kendali sedikit pun atas urat nadi emas hijau ini. Jejak tata ruang kekuasaan ekonomi yang berumur ratusan tahun itu masih menyisakan aura magisnya hingga detik ini. Ketika Anda berdiri di halaman Kantor Camat Panyabungan Selatan sekarang, Anda sebenarnya sedang menginjak jejak tapak kaki lama para petinggi kolonial Hindia Belanda. Di lahan pertapakan kantor camat inilah dahulu berdiri Pesanggrahan Tanobato—sebuah kompleks wisma peristirahatan megah berarsitektur Eropa sekaligus kantor pusat pengawasan logistik tempat para amtenar dan kontroleur Belanda tinggal untuk memastikan jalannya roda pedati kopi dari gudang menuju pelabuhan pesisir barat tidak pernah terhambat oleh sabotase atau bencana alam.

Analisis Filantropi Hukum Adat atas Lahan Eks-Kweekschool

Coba layangkan pandangan sedikit saja ke arah barat dari bangunan kantor camat tersebut, lanskap sejarahnya berubah drastis dari yang tadinya kaku berbau birokrasi kolonial menjadi sangat personal, emosional, dan intim. Di sana terhampar lahan pekuburan keluarga tua milik almarhum Bahran Efendi Nasution bin Baharuddin Nasution, seorang tokoh yang menyandang gelar kehormatan Sutan Mangedor Parluhutan Nasution. Jalur kekerabatan di tanah ini sejatinya menyimpan rajutan takdir kekeluargaan yang teramat erat dan berlapis.

Rumpun darah keluarga Sutan Mangedor di Tano Bato ini ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan yang bertaut lurus dengan keluarga besar Sati Nasuton di Pidoli, kampung halaman sang pelopor pergerakan. Ada tali batin yang tak kasat mata namun mengikat kuat antara Pidoli dan Tano Bato. Keluarga ini juga satu rumpun yang kokoh dengan Mangaraja Parlaungan Nasution, sang paman (amanguda) dari almarhum Bahran Efendi Nasution, sebuah nama yang kelak terpatri abadi di atas batu prasasti kedua di teras gedung SMAN 1 Panyabungan Selatan sebagai pihak yang menghibahkan tanah demi kelangsungan masa depan pendidikan anak cucu Mandailing.

Maka tidak mengherankan, ketika panggilan luhur untuk mencerdaskan bangsa itu datang membakar dada, ikatan kekerabatan dan ketulusan hati para tetua adat ini berbicara jauh lebih nyaring daripada hitungan untung rugi material.

Tepat di sebelah barat lahan pekuburan keluarga besar Sutan Mangedor Parluhutan Nasution itulah, sejarah mencatat sebidang lahan pertapakan berukuran sekira lebar 30 meter dan panjang sekira 20 meter. Posisinya teramat strategis, berhadapan langsung dengan urat nadi jalan raya utama yang merupakan jalur perlintasan Jembatan Merah menuju Natal—jalur utama yang dilewati oleh pedati-pedati kopi kolonial setiap harinya—sementara di sisi belakangnya dibatasi oleh aliran parit sungai kecil yang airnya terus mengalir jernih tanpa lelah. Di atas lahan inilah, pada tahun 1862, Sati Nasution alias Willem Iskander diizinkan mendirikan bangunan Kweekschool Tanobato, sekolah guru pribumi pertama di seluruh Pulau Sumatra.

Lahan strategis di urat nadi ekonomi kopi itu dipinjam-pakaikan dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan kelapangan dada oleh pihak keluarga besar leluhur suami dari Hj. Suaidah Lubis, S.Pd, M.M demi mendukung keinginan luhur Willem Iskander membebaskan bangsanya dari kungkungan kegelapan aksara. Lebih kurang satu abad kemudian setelah sang pionir tiang ilmu itu tiada, tanah bersejarah bekas pertapakan Kweekschool tersebut kini dikelola kembali dengan penuh tanggung jawab oleh garis keturunan almarhum Bahran Efendi Nasution, yakni sang istri tercinta bersama anaknya yang bernama Bajora. Saya Bersama tim peneliti mewancarai keduanya dikediaman beliau yang asri dan sejuk.

Rasionalitas Pemikiran Spatially-Conscious Willem Iskander

Kita mungkin sering bertanya-tanya dalam hati saat merenungi lintasan sejarah, mengapa Willem Iskander tidak memilih kampung halamannya sendiri di Pidoli yang bertanah lebih landai untuk mendirikan kawah candradimuka bagi para guru bumiputera ini? Pilihan menaruh fondasi sekolah di luar Pidoli sempat menjadi misteri, namun ingatan turun-temurun dari lisan keluarga besar pemilik tanah menitipkan sebuah alasan yang sangat puitis namun teramat logis: karena faktor alam dan kesegaran jiwanya. Pidoli berada di dataran rendah yang berhawa cenderung panas, datar, dan gerah. Sementara Tano Bato, dengan letak geografisnya yang bertengger tinggi di kawasan perbukitan, menawarkan pelukan alam yang jauh lebih sejuk, segar, hening, dan menenteramkan pikiran—sebuah atmosfer spritual yang sempurna untuk membaca buku, merenung dalam kesunyian, dan mentransfer ilmu pengetahuan dari hati ke hati tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk hawa yang membakar.

Lebih dari sekadar urusan hawa sejuk belaka, pilihan Willem memilih Tano Bato sesungguhnya memancarkan sebuah kecerdasan spasial modern yang teramat kalkulatif—sebuah manifestasi pemikiran spatially-conscious yang melampaui masanya. Willem tidak menempatkan sekolahnya di atas peta buta. Ia paham betul bahwa proses transfer ilmu pengetahuan dan pembentukan nalar rasional membutuhkan kondisi mikroklimat yang stabil. Di dataran rendah Pidoli yang gerah, energi mental para siswa akan cepat lumat oleh kelelahan fisik akibat suhu udara yang membakar. Dengan menaruh Kweekschool di ketinggian Tano Bato, Willem mengeksploitasi pendinginan orografis alami perbukitan. Udara sejuk di sini bertindak sebagai katalisator biologis yang menjaga fokus kognitif, memperpanjang daya tahan belajar, dan menciptakan ketenangan psikologis yang dibutuhkan untuk mencerna materi-materi sains Barat yang rumit.

Kecerdasan tata ruang ini juga berkelindan erat dengan orientasi geopolitik kolonial saat itu. Willem sengaja menempatkan institusi pendidikannya tepat di samping pesanggrahan kolonial dan memotong jalur utama distribusi Jembatan Merah-Natal. Langkah ini adalah strategi penetrasi ruang yang jenius: ia mendekatkan pusat literasi bumiputera ke hidung birokrasi Belanda agar sekolahnya mendapatkan legitimasi perlindungan dan akses logistik yang mudah, sekaligus memanfaatkan ramainya Tano Bato sebagai ruang pamer kemampuan anak-anak pribumi kepada dunia luar. Willem menunggangi arus infrastruktur ekonomi kopi kolonial untuk menyelundupkan misi penyelamatan peradaban bangsanya sendiri.

Manifestasi Kurikulum Progresif Melampaui Zaman

Lebih dari sekadar sebuah sekolah biasa, Kweekschool Tano Bato menjelma menjadi sebuah laboratorium pemikiran modern yang radikal dan inklusif pada zamannya. Willem Iskander mendobrak stratifikasi sosial kolonial Hindia Belanda yang kaku. Ketika sekolah serupa di Surakarta hanya diperuntukkan bagi anak-anak golongan priyayi elitis, Kweekschool Tano Bato membuka lebar gerbangnya untuk semua anak rakyat jelata tanpa memandang status sosial ataupun asal-usul keluarga. Willem menyadari ketakutan masyarakat yang mengira bersekolah di sana harus membayar mahal, sehingga ia dengan telaten mengetuk pintu rumah warga dari desa ke desa terpencil demi mensosialisasikan pentingnya ilmu.

Di dalam bangunan bertiang kayu dan beratap rumbia yang sederhana itu, kurikulum yang diajarkan justru melompat melampaui zamannya. Tidak sekadar calistung dasar, para siswa dididik menguasai ilmu matematika, ilmu ukur tanah, ilmu bumi, ilmu pemerintahan, hingga dasar-dasar ilmu fisika menggunakan bahasa pengantar Mandailing dan alat peraga lokal agar mudah dimengerti. Karakter pengajaran yang dinamis dan kontekstual ini sempat mengejutkan Mr. J.A. van der Chijs, Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera kolonial yang berkunjung langsung dari Batavia ke Tano Bato pada tahun 1866. Van der Chijs terpukau, bahkan mengakui dalam laporan resminya bahwa prestasi dan efektivitas Kweekschool Tano Bato berdiri jauh lebih menonjol di seluruh Hindia Belanda dibandingkan sekolah guru bentukan pemerintah kolonial di Fort de Kock (Bukittinggi).

Diseminasi Guru Ideologis dan Epilog Mahakarya

Dari ruang kelas sunyi ini pula lahir buku mahakarya Willem yang sangat fenomenal berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Buku ini bukan sekadar susunan sajak yang indah, melainkan kumpulan prosa dan puisi pencerahan radikal yang ditulis untuk mendobrak ketakhayulan lama, mengajarkan rasionalitas, serta menyulut bara api cinta tanah air dan kemandiri bumiputera. Willem secara berani menyelipkan kritik sosial agar rakyat waspada terhadap orang asing yang mengeruk kekayaan alam Mandailing demi kepentingan pribadi—sebuah kritik tajam yang ia saksikan sendiri setiap hari dari atas tanah Tano Bato ketika melihat berton-ton kekayaan kopi Mandailing diangkut paksa demi kemakmuran Kerajaan Belanda. Saking revolusionernya pesan pencerahan di dalamnya, buku ini kelak dilarang keras beredar oleh pemerintah kolonial yang ketakutan akan ledakan kesadaran nasionalis bumiputera.

Dari kawah candradimuka Tano Bato ini, lahirlah generasi guru-guru ideologis pertama Sumatra yang kelak menyebar menjadi pelopor literasi di wilayah Nias, Singkil, hingga Sumatra Barat. Salah satu murid terbaiknya yang paling setia adalah Banas Lubis. Keterikatan batin guru dan murid ini begitu dalam, hingga ketika Willem Iskander memutuskan berangkat kembali ke Belanda pada tahun 1874 untuk memperdalam ilmunya demi mendapatkan ijazah Guru Kepala (Hoofdonderwijzer), Banas Lubis setia mendampingi sang guru menyeberangi samudra. Perjalanan itu berujung pilu di Amsterdam; cuaca buruk dan rasa rindu kampung halaman yang amat berat menggerogoti kesehatan mereka, hingga Banas Lubis wafat di tanah asing pada tahun 1875, mendahului sang guru tercinta yang menyusul setahun kemudian. Kematian mereka di pengasingan seolah menegaskan betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi sebuah fajar kecerdasan di tanah Mandailing.

Willem Iskander adalah seorang pengagum keindahan alam yang romantis dan melankolis. Ia sangat mencintai setiap jengkal alam Mandailing dengan segenap jiwanya. Di dekat kawasan Tano Bato, ada sebuah puncak bukit tinggi terjal yang oleh masyarakat lokal dijuluki dengan penuh takzim sebagai “Pintu Sarugo” (Pintu Surga). Dari Tano Bato, puncak itu bisa dijangkau oleh langkah kaki yang gigih melintasi jalan setapak. Di sanalah, lebih dari seabad yang lalu, ketika kabut perlahan terangkat dari lembah membawa dingin yang menggigit, Willem Iskander sering duduk menyendiri di atas sebongkah batu besar, melempar pandangannya jauh ke cakrawala bebas. Di titik sunyi yang mendekati langit itulah, sembari meresapi kemegahan Tor Sihite di bagian hulu, menyaksikan lekukan anggun Tor Barerang, deretan pegunungan Lubu, Dolok Sigantang, Lubuk Raya, Dolok Malea, Tor Bania, hingga menyaksikan kemilau air Sungai Batang Gadis yang melekuk-lekuk indah membelah lembah seperti selendang perak, ia menyuling seluruh rasa cinta, kerinduan, dan rasa sakitnya yang magis ke dalam bait-bait sajak legendaris berbahasa Mandailing yang tak lekang oleh zaman berjudul “Mandailing”:

O, Mandailing Godang,
Tano ingananku sorang,
Na niatir ni dolok na lampas,
Na nijoling ni dolok na martimbus,
Ipulna na laing bubus!
Tor Sihite tingon julu;
Patontang dohot tor Barerang…

Misteri Dua Anak Undakan Tangga Kweekschool

Namun, di mana fisik bangunan tempat lahirnya  para pemikir hebat itu sekarang? Waktu bisa menjadi kawan yang ramah, namun ia juga bisa menjadi musuh yang sangat kejam ketika manusia mulai kehilangan ingatan. Beberapa bulan yang lalu, saya bersama tim penelitian lapangan yang gigih—ada bang Dahlan Batubara (Pemred Mandailing Online), Ludfan Nasution, dan Jefri Nasution—menyusuri sebagian besar wilayah Tano Bato tersebut dan berakhir pada sebidang tanah pertapakan asli Kweekschool di sebelah barat kuburan keluarga disamping kantor Kecamatan Panyabungan Selatan.

Sangat mustahil untuk bisa menemukan kembali  tiang-tiang kayu penyangga yang kokoh atau sisa anyaman atap rumbia yang berserakan. Setengah dari tanah bersejarah itu kini telah berubah wajah total menjadi bangunan rumah tinggal penduduk, dan setengahnya lagi berdiri membisu, ditinggalkan sepi di bawah naungan rimbunnya dedaunan beberapa pohon kemiri yang tumbuh liar.

Bangkai fisik Kweekschool itu terasa raib dari pandangan mata, namun teka-teki mengenai anak tangga semen kuno yang sempat dicari-cari dengan peluh di lapangan akhirnya menemukan jawaban yang benderang lewat memori kolektif saksi hidup. Peninggalan fisik itu sebenarnya tidak sepenuhnya musnah dihancurkan zaman. Menurut penuturan yang sangat berharga dari Pak Sainan Lubis (seorang saksi hidup kelahiran tahun 1955) berdasarkan cerita tetua mereka, sisa otentik Kweekschool itu sebenarnya masih ada di titik semula berupa tangga semen dua undakan yang dulunya menghubungkan pinggir jalan raya dengan halaman utama sekolah. Undakan sejarah tempat kaki-kaki telanjang calon guru bumiputera pertama di Sumatra melangkah dengan penuh harap itu kini tertutup rapat oleh tebalnya lapisan sedimentasi tanah, rumput liar, dan debu peradaban. Hipotesis kami tangga semen dua undakan itu tidak hilang, ia hanya sedang tertidur lelap di bawah permukaan bumi Tano Bato, menanti uluran tangan dan ketulusan hati generasi hari ini untuk menggali, membersihkan, dan menyingkapnya kembali ke permukaan dunia agar disaksikan oleh mata anak cucu kita. Sambil santap siang di rumah makan yang sederhana di dekat Jambatan Bosi, kami mengkhayalkan suatu masa nanti akan dbangun diareal asli pertapakan tersebut sebuah monument yang dipadu padankan dengan taman..iya sebuah taman Pendidikan tentunya.

Sinkronisasi Identitas Kontemporer dengan Nilai Leluhur

Untunglah, ruh perjuangan dan air mata Willem Iskander pernah bergaung kuat di hati para pemikir besar bangsa ini pada masa-masa berikutnya. Berpuluh-puluh tahun kemudian, gaung sunyi itu memanggil langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Daoed Joesoef. Bersama sahabat karibnya, seorang akademisi  Universitas Sumatera Utara (USU) dari Pakantan, AP Parlindungan Lubis, sang Menteri menembus belantara pedalaman Mandailing hingga tiga kali kunjungan historis demi memberikan penghormatan tertinggi pada tanah suci pendidikan ini.

Pak Sainan Lubis yang saat itu baru berusia sekitar 20 tahunan, berdiri kokoh di tengah kerumunan massa rakyat yang menyemut, merekam dengan sangat baik dalam kepalanya bagaimana getaran pidato sang Menteri mengguncang emosi siapa saja yang hadir mendengarkan.

Daoed Joesoef sadar betul dengan nalar jernihnya bahwa lahan asli Kweekschool yang hanya berukuran 30 x 20 meter di samping lahan pemakaman keluarga tersebut terlampau sempit untuk menampung cita-cita besar masa depan dunia pendidikan. Maka dari itu, perjalanan panjang tersebut dimulai pada tahun 1981 saat kunjungan pertama sang Menteri guna melihat pertapakan tanah serta melihat tanah sekitar untuk rencana pertapakan gedung lembaga pendidikan baru.

Pada momen syahdu inilah, rasa takzim dan kehangatan tanah Mandailing menyambut sang Menteri yang kala itu dirasakan jiwanya telah menyatu teramat dekat dengan bumi Gordang Sambilan. Sebuah upacara adat horja besar yang agung digelar dengan penuh kemegahan oleh raja-raja pamusuk. Sebagai lambang penghormatan paling tinggi dan sakral, seekor kerbau jantan bertubuh kekar disembelih, di mana kepala kerbau tersebut diletakkan dengan penuh khidmat di atas selembar kain adat parompa sadun yang ditenun indah, menandakan tingginya marwah sang tamu di mata adat.

Bendera kebesaran harajon dikibarkan dan meliuk-liuk dengan anggun di bawah tiupan angin perbukitan. Raja-raja adat Mandailing menangkap getaran ketulusan intelektual sang Menteri, lalu dengan segenap wibawa menabalkan gelar kehormatan adat harajon yang agung kepada Dr. Daoed Joesoef yaitu Sutan Iskandar Muda Nasution.

Ada sebuah jembatan batin yang sakral dalam penabalan gelar ini. Gelar tersebut bukanlah rangkaian kata yang dipetik tanpa akar; ia sengaja ditarik sebagai bentuk gema spiritual langsung untuk menghormati Sutan Iskandar—nama adat sakral kebesaran keturunan bangsawan yang disandang oleh Sati Nasution sejak masa mudanya sebelum berganti nama pena menjadi Willem Iskander. Dengan menyematkan kata “Iskandar Muda”, masyarakat adat Mandailing tidak hanya mengangkat derajat sang Menteri ke dalam lingkaran keluarga besar marga Nasution, melainkan juga menautkan ruh perjuangan Daoed Joesoef ke dalam garis nafas ideologis yang sama dengan Sutan Iskandar pada zamannya dahulu saat masih muda dan energik.

Di bawah tatapan haru massa rakyat yang menyemut, gemuruh gordang sambilan bertalu-talu, bunyinya yang magis memecah kesunyian lembah, menggetarkan dada siapa saja yang hadir, melahirkan sebuah ikatan takdir kultural baru yang mengikat jiwa sang Menteri selamanya pada tanah leluhur ini.

Rekonstruksi Blueprint Kompleks Pendidikan Lintas Jenjang

Setahun setelah peristiwa sakral tersebut, tepatnya pada tanggal 21 April 1982, sang Menteri kembali menapakkan kakinya di Tano Bato untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan sebuah kompleks lembaga pendidikan di atas lahan seluas 2 hektare di seberang jalan—tanah lapang luas memanjang ke batas Pagaran Gala-gala yang diwakafkan dengan mulia oleh dua pihak keluarga besar yang berhati emas yakni Keluarga Mangaraja Parlaungan Nasution (dari garis keturunan suami Hj. Suaidah Lubis) dan Keluarga Mohammad Ayub Jabbar Nasution yang kala itu menetap jauh di kota Pematangsiantar.

Jejak peletakan batu pertama itu abadi dalam guratan prasasti pertama yang hingga hari ini masih melekat kokoh di dinding teras sebelah kiri bangunan sekolah. Dengan aksara yang rapi, batu marmer itu memuat pesan historis: “PELETAKAN BATU PERTAMA KOMPLEK PENDIDIKAN WILLEM ISKANDER Oleh Bapak Menteri P dan K Tanggal 21 April 1982”, lengkap dengan goresan tanda tangan Daoed Joesoef bergelar Sutan Iskandar Muda Nasution.

Menatap untaian kalimat “PELETAKAN BATU PERTAMA KOMPLEK PENDIDIKAN WILLEM ISKANDER” di prasasti sebelah kiri ruang tunggu sekolah itu melahirkan sebuah getaran asumsi sementara yang teramat mendalam. Frasa khusus “Komplek Pendidikan”—bukan sekadar identitas sebuah sekolah menengah atas biasa—menyiratkan sebuah visi makro yang melompat jauh melampaui zamannya.

Dr. Daoed Joesoef beserta jajaran tim penggagas saat itu tampaknya memiliki keinginan luhur untuk membangun sebuah ekosistem pendidikan yang padu, menyeluruh, dan bertingkat-tingkat di bumi Tano Bato. Lahan luas sekitar 2 hektare itu diniatkan menjadi rahim bagi lahirnya berbagai lembaga pendidikan dari berbagai jenjang dan jenis, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah kejuruan, bahkan barangkali sebuah perguruan tinggi. Seluruh rancang bangun pendidikan itu beranjak dari satu niat suci yang sama: mengabadikan, memuliakan, dan menghidupkan kembali jasa-jasa agung Willem Iskander sebagai tokoh pendidikan dan tokoh pencerah bagi kaum bumiputera di era kolonial.

Menanti Simpul Sejarah di Kota Medan

Namun, mengapa impian megah sebuah kompleks lintas jenjang itu pada akhirnya hanya menyisakan sebuah bangunan SMA? Aliran sejarah selalu menyisakan riak misteri yang menuntut penelusuran lebih jauh. Asumsi awal dari kalimat prasasti ini bagaikan pintu gerbang yang membutuhkan konfirmasi ilmiah melalui wawancara lanjutan dengan para tokoh penggagas dan penggerak pendirian sekolah yang beruntung masih hidup hingga hari ini. Salah satu simpul sejarah yang teramat penting dan memegang kunci ingatan zaman itu adalah sosok Parmonangan Nasution, seorang tokoh penggerak utama zaman itu yang kini diketahui berdomisili di kota Medan. Di sisa waktunya, ingatan beliau menjadi jembatan emas bagi tim peneliti lapangan untuk mengurai kembali benang merah rancangan Kompleks Pendidikan Willem Iskander yang sesungguhnya.

Paradoks Pinggiran dalam Historiografi Nasional

Hingga akhirnya, janji setia untuk mewujudkan simbol utama komplek itu mewujud nyata pada tahun 1983. Dr. Daoed Joesoef datang untuk ketiga kalinya ke Tano Bato guna menandatangani prasasti kedua dan melakukan peresmian gedung sekolah secara formal. Bangunan megah yang lahir dari ketulusan hati para tokoh itulah yang kini tegak berdiri dengan anggun sebagai SMA Negeri 1 Panyabungan Selatan. Jarak lokasi gedung sekolah baru ini dengan tanah tapak asli Kweekschool Tano Bato sekira 70 meter, dipisahkan oleh aspal jalan raya dan posisinya tidak saling berhadapan langsung. Kompleks SMAN 1 Panyabungan Selatan berdiri gagah tepat berhadapan dengan bangunan Kantor Camat Panyabungan Selatan (bekas Pesanggrahan kolonial), sedangkan tapak suci asli Kweekschool lama meredup dalam sepi di sisi arah barat kantor camat tersebut. Angka tahun 1983 terpahat bukan sekadar penanda waktu di atas marmer, melainkan sebuah prasasti hidup pelunasan janji beralaskan air mata dan kehormatan kepada arwah Sutan Iskandar.

Menatap tapak sejarah yang terbelah aspal ini membawa  pada ingatan berharga dari Hj. Suaidah Lubis, S.Pd, MM, yang mendedikasikan hidupnya sebagai guru di sekolah itu sejak tahun 1984 hingga menduduki jabatan sebagai kepala sekolah dari tahun 2000 sampai tahun 2008. Beliau tidak hanya memimpin dengan kapabilitas akademis, melainkan juga merawat jalinan batin kedinasan karena tanah tempatnya mengabdi adalah tanah pusaka leluhur suaminya. Sejarah seolah berjalan melingkar di Tano Bato; tanah Kweekschool tahun 1862 dipinjamkan oleh keluarga leluhur almarhum Bahran Efendi Nasution dan seabad kemudian, tanah di seberangnya dihibahkan kembali oleh garis keturunan yang sama demi tegaknya tiang-tiang ilmu pengetahuan modern.

Penutup

Tano Bato pada akhirnya adalah sebuah cermin besar yang menuntut kita untuk berani berkaca sebagai sebuah bangsa. Ia adalah sebuah monumen hidup dari sebuah paradoks sejarah yang getir: sebuah wilayah pinggiran yang pernah memberi dunia kecerdasan lewat pemikiran para gurunya, dan memberi dunia kemewahan rasa lewat tegukan kopinya, namun ia sendiri perlahan ditinggalkan dalam sepi dan kesunyian pinggiran sejarah arus utama nasional.

Menatap Tano Bato hari ini sambil merenungkan kembali penuturan tulus Pak Sainan Lubis maupun jejak dedikasi Hj. Suaidah Lubis jelas bukanlah sekadar urusan romantisme masa lalu yang mendayu-dayu. Ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana kita menghargai akar tunggang dan martabat kita sendiri. Dua anak tangga semen yang terkubur tanah di samping kantor kecamatan itu bukanlah sekadar semen mati yang tak berarti; mereka adalah makam ingatan sekaligus undangan terbuka bagi kita semua untuk kembali menggali, membaca, dan menghidupkan kembali kejayaan sejarah yang pernah tertanam kuat di setiap jengkal tanah Tano Bato.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

Daftar Kepustakaan :

 ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). (Edisi Inventaris). Arsip Asisten Residen Mandailing-Angkola (Abad ke-19)

. Jakarta: ANRI. (Memuat korespondensi kedinasan, peta tata ruang pesanggrahan Tano Bato, dan laporan logistik Koffie Pakhuis).

Basyral Hamidy Harahap. (1987). Willem Iskander: Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk: Suatu Tinjauan Sejarah Pendidikan, Sastra, dan Sosio-Budaya Mandailing. Jakarta: Puisi Indonesia.

Castles, L. (2001). Kehidupan Politik di Suatu Keresidenan Sumatra: Tapanuli 1915–1940 (B. H. Harahap, Trans.). Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Dobbin, C. (1983). Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784–1847. London: Curzon Press.

Gubernemen Hindia Belanda. (1882–1884). Koloniaal Verslag: Verslag van het beheer en den staat van Nederlandsch-Indië. ‘s-Gravenhage: Algemeene Landsdrukkerij. (Catatan resmi tahunan statistik jumlah pedati kopi dan volume ekspor ekspor komoditas).

Graaf, S. de, & Stibbe, D. G. (1918). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (2nd ed.). ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. (Arsip kolonial Hindia Belanda mengenai pesanggrahan dan peta administrasi Tano Bato).

Harahap, B. H. (2017). Dinamika Sosio-Budaya Mandailing dalam Lintasan Sejarah. Medan: Yayasan Pustaka Mandailing.

Iskander, W. (1872). Si Boeloes-Boeloes, Si Roemboek-Roemboek: Sada Boekoe Basaon di Oeloean ni Ikoetan. Batavia: Landsdrukkerij. (Sumber primer percetakan negara kolonial).

Joesoef, D. (2014). Studi dan Pengabdian: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Kompas. (Memuat pemikiran Dr. Daoed Joesoef mengenai restrukturisasi pendidikan dan Willem Iskander).

Kielstra, E. B. (1892). De Koffiecultuur ter Sumatra’s Westkust. De Gids, 56(4), 112–148. (Membedah efisiensi pembibitan kopi arabika pertama di Tano Bato tahun 1840).

Lubis, A. P. Parlindungan. (1980). Sejarah Pendidikan Mandailing dan Peran Kweekschool Tano Bato. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Lubis, M. R. (2011). Menakar Ketokohan Willem Iskander: Refleksi Pendidikan Bumiputera di Sumatra Utara. Jurnal Sejarah dan Nilai Budaya, 8(2), 145–158.

Mansvelt, W. M. F. (1924). Geschiedenis van de Nederlandsche Handel-Maatschappij (1824–1924). Haarlem: Joh. Enschedé en Zonen. (Buku resmi sejarah NHM pengupas sistem konsesi ekspor kopi pedalaman Sumatra ke Amsterdam).

Nasution, A. H. (2005). Silsilah Marga Nasution dan Struktur Pemerintahan Adat Bagas Godang Panyabungan Selatan. Medan: Aksara Perkasa.

Parlindungan, M. O. (1964). Tuanku Rao: Terror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816–1833. Jakarta: Tanjung Pengharapan.

Pelzer, K. J. (1978). Planter and Peasant: The Agrarian Struggle in East Sumatra 1863–1947. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Said, M. (1976). Pendidikan Kweekschool Tano Bato dan Willem Iskander sebagai Pelopor. Medan: Waspada.

Schnitger, F. M. (1938). Forgotten Kingdoms in Sumatra. Leiden: E.J. Brill.

Van der Chijs, J. A. (1867). Verslag van het Inlandsch Onderwijs in Nederlandsch-Indië over 1866. Batavia: Landsdrukkerij. (Arsip Hindia Belanda memuat catatan kekaguman Inspektur Jenderal van der Chijs atas Kweekschool Tano Bato).

Zed, M. (2003). Kepulauan Pantai Barat Sumatra: Ranah Minang dan Mandailing dalam Arus Perdagangan Kopi Kolonial Abad Ke-19. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sumber Sejarah Lisan & Penelitian Lapangan (Primary Oral Sources)

Batubara, D., Nasution, L., & Jefri. (2026). Transkrip Wawancara Lapangan dan Riset Tapak Sejarah Cagar Budaya Tano Bato. Panyabungan Selatan: Tim Penelitian Lapangan Tano Bato. (Unpublished Field Research Report).

Lubis, S. (2026, September). Kesaksian Lisan Mengenai Tiga Kali Kunjungan Menteri Dr. Daoed Joesoef, Upacara Horja Adat, Penabalan Gelar Sutan Iskandar Muda Nasution, dan Keberadaan Dua Anak Tangga Semen Kweekschool Tano Bato (Tim Penelitian Lapangan, Pewawancara). Tano Bato: Rekaman Wawancara Sejarah Lisan. (Saksi hidup kelahiran 1955).

Lubis, H. S. (2026, September). Sejarah Silsilah Tanah Wakaf Kompleks SMAN 1 Panyabungan Selatan, Hubungan Kekerabatan Keluarga Besar Sutan Mangedor Parluhutan Nasution dengan Willem Iskander, dan Pengelolaan Lahan Eks-Kweekschool (Tim Penelitian Lapangan, Pewawancara). Tano Bato: Rekaman Wawancara Sejarah Lisan. (Kepala Sekolah SMAN 1 PS Periode 2000–2008).

Populer Minggu ini

SYEKH H. MAHMUD FAUZI AN-NAQSYABANDI (1947-2017): Pelanjut Thariqah Syekh Abdul Manan di Padangsidimpuan

Dr. Zainal Efendi Hasibuan (Akademisi UIN Syahada Padangsidimpuan) Syekh H....

PSMS Medan Bidik Kemenangan Perdana, Persiku Kudus Jajal Stadion Utama Sumatera Utara

Medan, SUMUTNEWS.CO– PSMS Medan membidik kemenangan perdana saat menjamu...

HUT PAN 28 Tahun, Prabowo Sentil Pakar Penyebar Fitnah: Cendekiawan Harus Jujur & Kutip Al-Baqarah 191

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan menohok...

Brentford Hancurkan Chelsea 3-0 di Premier League 2026/2027

Medan, SUMUTNEWS.CO – Brentford meraih kemenangan meyakinkan atas Chelsea...

Jutaan Warga Yaman Demonstrasi: Kecam Dugaan Propaganda Arab Saudi Tentang Adanya Serangan ke Kota Suci Makkah

SUMUTNEWS.CO, Medan - Menginformasikan aksi unjuk rasa skala besar pada...

Berita Terkait