SUMUTNEWS.CO, Jakarta – Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengeluarkan peringatan resmi pada Rabu, 30 September 2026 Waktu Indonesia Barat (WIB), terkait memburuknya krisis kemanusiaan di Lebanon.
UNICEF melaporkan bahwa satu dari lima rumah tangga di negara tersebut kini terpaksa membiarkan anak-anak mereka pergi tidur dalam kondisi kelaparan akibat konflik bersenjata dan himpitan ekonomi.
Tak hanya krisis pangan, proporsi yang sama (20 persen) juga kesulitan mendapatkan akses air minum yang aman.
Eskalasi pertempuran dan perusakan wilayah selatan menjadi pemicu utama jatuhnya korban sipil.
UNICEF mencatat sedikitnya 261 anak tewas dan 1.056 lainnya luka-luka sejak Maret lalu, setara dengan rata-rata tujuh anak menjadi korban setiap harinya.
Sekitar 12 persen dari anak yang terluka kini hidup dengan disabilitas. Dampak fisik ini diperparah oleh krisis pengungsian masif, di mana hampir 330 ribu warga belum bisa kembali ke rumah mereka akibat serangan udara yang masih terus terjadi.
Dampak domino krisis ini turut meruntuhkan sektor pendidikan dan kesejahteraan sosial anak. Sebanyak 436 sekolah dilaporkan rusak atau hancur, mengancam hak belajar 100 ribu anak.
Tekanan ekonomi memicu 46 persen keluarga memangkas biaya sekolah dan 17 persen memberhentikan anak mereka dari pendidikan.
Kondisi ini berimbas pada melonjaknya angka pekerja anak menjadi 14 persen, naik dua kali lipat dibanding awal 2025, sementara hampir sepertiga keluarga terpaksa mengabaikan perawatan medis anak karena ketiadaan biaya.
Kombinasi kekerasan fisik dan kemiskinan ekstrem tersebut memicu guncangan mental skala besar. Diperkirakan 770.000 anak dan remaja di Lebanon kini mengalami distres psikologis, dengan lebih dari separuh keluarga melaporkan emosi anak memburuk dan 63 persen anak menunjukkan gejala kecemasan serta ketakutan berlebih.
Perwakilan UNICEF untuk Lebanon, Marcoluigi Corsi, menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan saja tidak akan cukup tanpa adanya penghentian kekerasan secara permanen.
“Anak-anak dan kaum muda di Lebanon dipaksa menanggung beban yang tidak seharusnya dipikul oleh anak seusia mereka. Tanpa tindakan darurat dan berkelanjutan, tekanan ini akan membentuk dan merusak masa depan mereka hingga bertahun-tahun ke depan,” ujar Corsi. (SN08)