Penulis: Rasyid Assaf Dongoran
Kita sering berpikir bahwa kerja keras banting tulang dan punya banyak kenalan adalah satu-satunya cara agar cepat kaya. Kita sibuk bekerja dari pagi sampai malam, bahkan kadang sampai tega menjatuhkan teman sendiri demi naik jabatan atau melancarkan bisnis dan politik menjelek lawan bisnis
Namun, kenyataannya sering kali berbeda. Ada orang yang usahanya kelihatan sangat besar, tapi hasilnya seolah menguap begitu saja. Secara penampilan luar mereka tampak sukses, tapi batin dan hidup mereka sebenarnya gelisah dan berantakan, selalu gelisah akan kerugian dan gelisah akan keuntungan yang bakal didapat serta hilang.
Dilain pihak, ada yang sudah berada pada kondisi serba kekurangan materi , tetapi juga merasa gelisah akan minimnya pendapatan materi dengan kondisi kebutuhan , hal ini terus menyebabkan dirinya sibuk kesana kesini, bahkan meninggalkan shalat dan malah melaksanakan shalat tidak dengan niat yang lurus , karena ikut ikutan saja.
Kondisi kelelahan tanpa ujung ini sebenarnya sudah diingatkan sejak lama. Dalam sebuah riwayat Hadis Qudsi yang sangat masyhur sebagai pengingat batin, Allah SWT memberikan peringatan tegas kepada manusia yang terlalu serakah mengejar dunia:
> يَا ابْنَ آدَمَ، خَلَقْتُكَ لِلْعِبَادَةِ فَلَا تَلْعَبْ، وَتَكَفَّلْتُ بِرِزْقِكَ فَلَا تَتْعَبْ، فَوَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَئِنْ لَمْ تَرْضَ بِمَا قَسَمْتُهُ لَكَ لَأُسَلِّطَنَّ عَلَيْكَ الدُّنْيَا تَرْكُضُ فِيهَا رَكْضَ الْوُحُوشِ فِي الْبَرِّيَّةِ، ثُمَّ لَا يَنَالُكَ مِنْهَا إِلَّا مَا قَسَمْتُهُ لَكَ
Yā ibna ādam, khalaqtuka lil-‘ibādati fa lā tal’ab, wa takaffaltu bi rizqika fa lā tat’ab. Fa wa ‘izzatī wa jalālī la’in lam tarḍa bimā qasamtuhu laka la’usalliṭanna ‘alaikad-dun-yā tarkuḍu fīhā rakḍal-wuḥūṣyi fil-barriyyah, ṡumma lā yanāluka minhā illā mā qasamtuhu laka
“Wahai anak Adam, Aku menciptakanmu untuk beribadah, maka janganlah engkau bermain-main. Dan Aku telah menjamin rezekimu, maka janganlah engkau merana kelelahan. Demi keagungan dan kebesaran-Ku, jika engkau tidak rida (puas) dengan apa yang telah Aku tetapkan untukmu, maka pasti akan Aku kuasakan dunia atasmu, sehingga engkau berlari-lari mengejarnya seperti larinya binatang buas (singa) di padang belantara. Kemudian, engkau tetap tidak akan mendapatkan dari dunia itu kecuali apa yang memang telah Aku tetapkan untukmu.”
Kalau kita lihat dari kacamata agama, rezeki yang tertunda dan kurang berkah itu jarang disebabkan oleh kurangnya modal atau salah strategi. Sering kali, penyebab utamanya justru ada di dalam diri kita sendiri: sifat iri, dengki, buruk sangka, dan suka menipu. Penyakit hati ini bukan sekadar akhlak yang buruk, tapi ibarat menutup sendiri pintu rezeki kita.
Ketika kita memelihara rasa iri dengki (hasad), kita sebenarnya sedang protes terhadap pembagian rezeki dari Allah. Sifat dengki tidak akan merusak hidup orang yang kita benci, tapi malah membakar habis kebaikan dan ketenangan hati kita sendiri.
Rasulullah SAW sudah memberikan peringatan tegas tentang bahayanya dengki:
> إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Iyyākum wal-ḥasada fa innal-ḥasada ya’kulul-ḥasanāti kamā ta’kulun-nārul-ḥaṭaba.
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).
Peringatan ini sejalan dengan aturan agama yang melarang kita terlalu cemburu pada rezeki orang lain. Setiap orang sudah punya porsi ujian dan rezekinya masing-masing yang sudah diatur dengan sangat pas oleh Sang Pencipta.
> وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ
Wa lā tatamannaw mā faḍḍalallāhu bihī ba’ḍakum ‘alā ba’ḍ.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32).
Selain iri hati, kebiasaan berburuk sangka (su’udzon) juga bisa merusak pikiran dan hubungan kita dengan orang lain. Orang yang hatinya penuh curiga akan selalu melihat saingan sebagai musuh yang harus dihancurkan, bukan sebagai teman untuk bekerja sama.
Hati yang penuh kecurigaan adalah tempat yang sempit, sehingga rezeki pun enggan mampir.
Al-Quran mengingatkan penyakit hati ini dengan sangat jelas:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ
Yā ayyuhallażīna āmanujtanibū kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmun.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Kebiasaan ini juga dipertegas oleh sabda Nabi SAW. Beliau mengingatkan bahwa prasangka buruk adalah sebuah kebohongan besar yang bisa merusak kerukunan:
> إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Iyyākum waẓ-ẓanna, fa innaẓ-ẓanna akżabul-ḥadīṡ.
“Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika rasa dengki dan buruk sangka sudah mendarah daging, biasanya akan muncul tindakan yang lebih nekat: menipu dan berbuat licik. Dalam pekerjaan atau bisnis, menipu seolah menjadi jalan pintas untuk meraih kesuksesan.
Padahal, hukum Allah selalu berlaku. Niat jahat atau tipu daya tidak akan pernah salah sasaran; kejahatan itu akhirnya akan memukul balik orang yang merencanakannya.
> وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ
Wa lā yaḥīqul-makrus-sayyi’u illā bi’ahlih.
“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43).
Berbuat curang akan langsung menghilangkan keberkahan rezeki, dan membuat pelakunya tidak lagi dianggap bagian dari golongan orang-orang yang baik.
> مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Man ghasysyanā fa laisa minnā.
“Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim).
Dari sini kita bisa memahami satu hal yang pasti: dosa, terutama kejahatan hati dan perbuatan buruk kepada sesama manusia adalah penghalang utama turunnya rezeki. Kegagalan demi kegagalan yang dialami seseorang sering kali bukan karena salah perhitungan bisnis, tapi karena tumpukan dosa yang menahan datangnya pertolongan Allah.
> إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
Innar-rajula layuḥramur-rizqa biż-żanbi yuṣībuhu.
“Sesungguhnya seseorang dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Al-Quran juga mengingatkan bahwa musibah atau tertundanya rezeki adalah akibat dari ulah tangan kita sendiri. Meski begitu, Allah masih menutupi dan memaafkan sangat banyak kesalahan kita.
> وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Wa mā aṣābakum mim muṣībatin fa bimā kasabat aidīkum wa ya’fū ‘an kaṡīr.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).
Jadi, cara paling cerdas untuk kembali membuka pintu rezeki yang berkah dan cepat turun bukanlah sekadar memaksakan diri bekerja sampai lupa waktu dan lupa ibadah. Solusi utamanya adalah membersihkan kotoran di dalam diri kita: memperbaiki hati. Orang yang mencari rezeki tapi hatinya penuh dendam, niat menipu, dan iri hati hanya akan merasakan kelelahan yang sia-sia.
> أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Alā wa inna fil-jasadi muḍghatan iżā ṣalaḥat ṣalaḥal-jasadu kulluh, wa iżā fasadat fasadal-jasadu kulluh, alā wa hiyal-qalb.
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Membersihkan hati dari sifat buruk adalah syarat wajib agar rezeki yang baik dan halal bisa datang dengan mudah. Kesuksesan sejati di dunia maupun di akhirat hanya akan menjadi milik mereka yang bisa menahan keangkuhan, tidak pelit, dan ikut bahagia melihat kesuksesan orang lain tanpa sedikit pun merasa iri.
> وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Wa may yūqa syuḥḥa nafsihī fa ulā’ika humul-mufliḥūn.
“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran (dan dengki) dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Yakinlah, rezeki itu tidak pernah tertukar dan tidak pernah buta arah. Rezeki selalu tahu jalan tercepat menuju hati yang lapang, pikiran yang bersih, dan tangan yang pantang berbuat curang. Memilih untuk membersihkan hati dari kejahatan bukan cuma membuat hidup jadi lebih tenang, tapi inilah jalan paling ampuh untuk menjemput rezeki yang berlimpah dan penuh berkah