SumutNews.co, Jakarta – Otoritas lokal di Taiz, Yaman, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menggelar penyelidikan atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh kelompok milisi Houthi. Pasukan Houthi dituding menembakkan artileri dan roket berisi zat kimia terlarang di tengah pertempuran yang kian memanas di kota terkepung tersebut.
Dalam keterangan resmi yang dirilis pada Kamis, 29 Oktober 2026, Kantor Media Kegubernuran Taiz menyebutkan bahwa laporan mengenai penggunaan amunisi gas beracun tersebut datang berulang kali dari sejumlah garis depan pertempuran, terutama di kawasan Al-Aqroud dan Kahlan.
Warga sipil serta anggota kelompok Perlawanan Rakyat di wilayah sasaran dilaporkan mengalami sesak napas akut hingga hilang kesadaran sesaat setelah serangan artileri menghantam permukiman mereka.
Otoritas setempat mendesak dibentuknya tim investigasi teknis guna mengidentifikasi zat beracun tersebut dan memastikan kaitannya dengan gejala medis para korban. Pemerintah Yaman juga menginstruksikan instansi terkait untuk mengirim tim ahli ke lokasi terdampak, mengumpulkan bukti fisik, serta memeriksa rekam medis korban dan kesaksian warga.
Pada hari yang sama, Kamis, 29 Oktober 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Mostafa Noman menuduh kelompok milisi yang disokong Iran itu menggunakan segala jenis senjata ilegal demi mempercepat penguasaan kota Taiz.
“Saya tidak menutup kemungkinan penggunaan senjata-senjata semacam itu. Ini tanda keputusasaan mereka untuk memaksa kota ini menyerah,” ujar Noman dalam keterangannya, Kamis, 29 Oktober 2026.
Secara terpisah Menteri Informasi Yaman Moammar Al-Eryani mengecam serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi hukum humaniter internasional. Ia mendesak PBB bersama Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) segera mengambil langkah konkret untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang tersebut. Hingga saat ini, jenis zat beracun yang digunakan belum dapat dipastikan.
Eskalasi konflik di Taiz kian memperparah krisis kemanusiaan di kawasan barat daya Yaman itu. PBB mencatat lebih dari 800 ribu warga Taiz terputus dari pasokan bantuan pangan akibat blokade jalan utama oleh milisi Houthi.
Penutupan akses logistik ini juga melumpuhkan fasilitas kesehatan karena kelangkaan obat-obatan, krisis bahan bakar generator, serta defisit air bersih yang makin akut. (SM17)