SumutNews.co, New York — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 290 ribu warga Yaman terpaksa angkat kaki dari tempat tinggal mereka sejak awal Agustus lalu menyusul kembali berkobarnya konflik bersenjata di negara tersebut. PBB memperingatkan eskalasi pertempuran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara ribuan perempuan hamil ikut terkatung-katung di pengungsian.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam keterangan resminya pada Jumat, 30 Oktober 2026, mengatakan Badan Kependudukan PBB (UNFPA) memperkirakan hampir 6.100 perempuan hamil terdampak gelombang pengungsian terbaru ini. Sekitar 600 di antaranya diperkirakan akan melahirkan dalam rentang waktu dua pekan ke depan.
“UNFPA telah mengerahkan tim bergerak dan tenaga bidan ke lokasi-lokasi pengungsian serta mendistribusikan pasokan kesehatan ibu dan anak,” ujar Dujarric.
Pertempuran yang kembali pecah turut menghantam warga asing yang sebelumnya mengungsi dan mencari suaka ke Yaman. Data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat sedikitnya 65 ribu pengungsi dan pencari suaka kini terjebak dalam krisis kemanusiaan yang memburuk secara cepat. Lumpuhnya akses layanan publik serta lonjakan harga pangan dan bahan bakar membuat para keluarga kian sulit memenuhi kebutuhan dasar.
Guna menekan dampak krisis, UNHCR tercatat telah memfasilitasi pemulangan sukarela lebih dari 600 pengungsi asal Somalia ke negara asalnya sejak Agustus lalu.
Dujarric menambahkan, hingga saat ini mitra-mitra kemanusiaan telah menyalurkan bantuan makanan, paket sanitasi, dan bantuan tunai darurat kepada hampir 249 ribu warga terdampak, seraya terus memperluas jangkauan operasi logistik di lapangan.
PBB kembali menyerukan kepada seluruh faksi yang bertikai untuk mematuhi hukum humaniter internasional.
“Kami meminta semua pihak melindungi warga sipil serta infrastruktur publik, dan memberikan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, serta tanpa hambatan agar bantuan dapat menjangkau seluruh pihak yang membutuhkan,” tutur Dujarric.
Eskalasi terbaru ini kian memperberat krisis kemanusiaan di Yaman. Sebelum konflik kembali meletus pada Agustus lalu, lebih dari 5,2 juta warga telah berstatus sebagai pengungsi internal di dalam negeri, sementara ribuan orang lainnya dilaporkan nekat menyeberangi Laut Merah menuju Jibuti. (SN17)