Menegakkan Peradaban Spiritual: Menghidupkan Energi Kebenaran Sundaland sebagai Mercusuar Dunia

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara,
Cc. Bunda Ratu Yayah Samsiah Pratiwi, Pendiri Yayasan.

Peradaban modern hari ini berada di persimpangan jalan. Dunia terjebak dalam pusaran konflik global, materialisme semu, dan krisis spiritualitas yang akut. Di tengah runtuhnya tatanan moral tersebut, sebuah refleksi mendalam hadir dari tanah Nusantara melalui Gerakan Kebenaran Sundaland. Gerakan ini bukanlah romantisasi identitas historis atau kultural semata. Ini adalah pelopor gerakan spiritual komprehensif yang membawa misi besar memperbarui tatanan dunia: Build the World Anew (Membangun Dunia Kembali)—sebuah visi besar yang diadopsi dari pidato bersejarah Presiden Soekarno pada 30 September 1960 di Markas Besar PBB, yang kini diakui oleh UNESCO.

Dipandu oleh tuntunan teologis Eyang Iwan Akbar Darmawan (Eyang Ipung) selaku Resi Agung Badui Ismaya Ismoyo—Syech Rijalul Ghaib—gerakan ini menawarkan cetak biru peradaban baru yang berakar pada ketauhidan purba dan visi besar kebangsaan. Untuk memahami ketahanan gerakan ini, kita patut mengambil iktibar dari eksistensi komunitas Badui. Mengapa mereka tetap lestari melintasi zaman? Jawabannya terletak pada kesetiaan mereka dalam menjaga kemurnian hidup. Jauh sebelum risalah lahiriah menyebar luas, masyarakat Badui telah bertauhid dan mengenal Allah SWT secara intuitif. Bagi mereka, Sang Pencipta senantiasa nyata dan hidup di dalam hati. Kedekatan spiritual inilah yang melahirkan kedamaian sejati.

Baca juga:  MERAWAT SUMPAH PEMUDA DIERA DISRUPSI

Kondisi tersebut menjadi kontras yang tajam jika dibandingkan dengan peradaban modern yang kerap hancur akibat keserakahan dan peperangan. Ketika pertikaian merajalela, manusia sebenarnya telah gagal mengemban amanah sebagai Khalifah dan membiarkan diri dikuasai oleh kegelapan. Oleh karena itu, tugas utama setiap individu adalah menundukkan ego personal di dalam dirinya agar kerusakan di muka bumi dapat dihentikan.

Dialektika perjuangan menegakkan kebajikan ini terpotret utuh dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 52 . Ayat ini mengingatkan bahwa setiap upaya menegakkan kebenaran pasti berhadapan dengan benturan dan ujian keimanan (sunnatullah). Tantangan dan keraguan akan selalu hadir, namun ayat ini sekaligus membawa jaminan teologis bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan kebatilan menang. Segala kepalsuan pada akhirnya akan dihapus dan dimurnikan oleh kebijaksanaan Ilahi. Keteguhan menghadapi rintangan ini kemudian disempurnakan oleh hikmah Surah Al-Hajj ayat 58 mengenai pentingnya transformasi melalui ” hijrah ” Gerakan Kebenaran Sundaland adalah bentuk hijrah zaman modern—sebuah perpindahan kolektif dari kenyamanan duniawi yang semu menuju tatanan hidup hakiki yang diridai Allah. Perjuangan dan pengorbanan ini tidak akan sia-sia, sebab Allah telah menjanjikan kemuliaan serta rezeki terbaik di dunia maupun di akhirat.

Baca juga:  Memimpin dari Balik Layar: Otentisitas Sumpah Pemuda di Tengah Cengkeraman Gawai dan Oligarki

Menariknya, visi spiritual Sundaland ini berkelindan erat dengan warisan geopolitik Soekarno. Sang resi agung mewartakan bahwa Bung Karno “masih hidup”. Pernyataan spiritual ini tentu tidak merujuk pada pencarian jasad fisik, melainkan pada penemuan kembali energi kepemimpinan, ideologi, dan cita-cita luhur beliau sebagai Satria Piningit. Sebagai seorang pemikir besar yang religius, Bung Karno merindukan Sundaland terwujud sebagai Mercusuar Dunia—sebuah negeri yang makmur dan diberkahi (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Kesinambungan kepemimpinan spiritual ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 213 , yang menegaskan peran petunjuk Ilahi dalam menyelesaikan perselisihan umat manusia. Like kisah Harut dan Marut di zaman Nabi Sulaiman AS yang menyingkap delusi sihir menuju kebenaran hakiki, energi pemikiran Bung Karno hari ini bertindak sebagai pemantik untuk menyadarkan bangsa dari ilusi modernisme yang merusak.

Baca juga:  Menggugat Kompas yang Patah: Panggilan Sumpah Pemuda 2026 untuk Merebut Kembali Arah Bangsa

Pada akhirnya, manifesto spiritual Gerakan Kebenaran Sundaland mengajarkan kita untuk tidak gentar menghadapi rintangan (Ayat 52) serta berani mengambil langkah pengorbanan yang nyata (Ayat 58). Tugas besar kita sekarang—terutama dalam membimbing Generasi Z di era transformasi digital ini—adalah mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, tenteram, dan bahagia dengan kembali memperteguh diri sebagai Khalifah yang bersyukur.

Mari kita tafakuri kembali spirit Bung Karno: ” Berilah aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia. ” Di era teknologi maju saat aset global mulai beralih ke sistem digital, kehadiran sosok-sosok muda yang cerdas, adaptif, dan berintegritas sangatlah dibutuhkan. Inilah kunci implementasi Amanah Ampera dan ajaran Trisakti Soekarno. Menjadikan Indonesia dan Sundaland sebagai mercusuar dunia bukanlah utopia, melainkan sebuah keniscayaan. Syarat utamanya adalah kita mampu menghidupkan kembali cahaya ketauhidan dan energi kebenaran yang selama ini tertidur di dalam hati sanubari bangsa Nusantara.(sp.official.011126).

Berita Terbaru

Pemprov Sumut Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Sepanjang November 2026

SumutNews.co, Medan — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut)...

Mahfud MD Soroti Diksi Putusan MA Soal Suket Gibran: Berlaku Retroaktif dan Batal Sejak Awal

SumutNews.co, Jakarta - Mahfud MD membedah konsekuensi hukum di...

JIHAD NALAR: WARISAN BUYA SYAFII UNTUK MELAWAN ILUSI DIGITAL

Oleh: Moechtar Nasution Direktur Forum Lingkar Studi Tulila * Beberapa bulan...

Hari ini Kemenhut Tetapkan Dua Korporasi Jadi Tersangka Karhutla, Salah Satunya Perusahaan Asing

Sumutnews.co, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi menetapkan dua...

Utusan Iran Temui Mediator Qatar di Doha, Redam Potensi Serangan AS Pasca-Pemilu Sela

Sumutnews.co, Doha - Para delegasi perunding Iran menggelar pertemuan...

Berita Terkait