Oleh : Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *
Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya sempat tertegun, menatap dan mengamati layar ponsel yang sudah ketinggalan zaman ini. Linimasa media sosial saya mendadak dipenuhi keajaiban baru: artikel-artikel panjang, rapi, dan tampak sangat filosofis. Tulisan-tulisan itu terbit hampir setiap hari —saya tahu persis—banyak diantara penulis tersebut adalah orang-orang yang nyaris tidak pernah menyentuh buku. Kita semua tahu rahasia umumnya, bukan? Ada tangan tak terlihat bernama kecerdasan buatan (AI) yang mendadak membuat semua orang menjadi produktif.
Menulis entah sejak kapan, mendadak menjelma jadi urusan sepele. Ribuan kata berbobot bisa dirajut dalam hitungan detik. Cukup ketik satu-dua perintah, maka selanjutnya mesin yang akan membereskan sisanya. Drama klasik macam writer’s block atau kutukan layar kosong langsung menguap. Menulis bukan lagi privilese segelintir intelektual. Menulis sekarang menjadi murah, mudah, masif, dan instan.
Tapi, di sinilah letak anomali ganjilnya. Tepat saat pasokan teks di internet sedang banjir-banjirnya, kapasitas manusia untuk membaca justru sedang terjun bebas. Semua orang sibuk memposting tulisan panjang hasil racikan robot, dan dimana posisi jempol kita itu? Justru makin lengket di video vertikal belasan detik. Otak kita sudah terlanjur dimanjakan oleh candu kepuasan instan dari konten viral.
Melihat tulisan bermutu yang lewat dari tiga paragraf saja, kita sudah merasa lelah duluan. Kita cuma memindai cepat, mencari kata kunci, atau langsung melompat ke kolom komentar untuk mengetahu komentar atau pendapat orang lain. AI sukses melipatgandakan jumlah penulis. Namun di saat bersamaan, entah bagaimana, ia justru semakin sukses menjadikan pembaca pelan-pelan punah.
Ada harga mahal yang harus dibayar dari kenyamanan ini: hilangnya “jiwa” dalam tulisan, sekaligus mendangkalkan cara kita berpikir jika tidak boleh disebut dungu. Ketika semua orang memakai cetakan berpikir yang sama dari mesin, tulisan di internet lama-lama seragam. Dingin dan beku. Kehilangan karakter asli manusia yang biasanya punya cacat-cela, emosi yang meledak, atau humor kontekstual. Tulisan AI itu terlampau rapi, tapi asing. Mekanis. Tanpa darah, dan tanpa keringat manusia.
Sains pun sebenarnya sudah mengingatkan kita. Ketidakmampuan dalam mencerna tulisan panjang adalah alarm bahaya bagi isi kepala. Gempuran video pendek perlahan merombak sirkuit saraf otak kita, mengikis habis kemampuan konsentrasi mendalam (deep reading). Kita jadi tidak sabar menghadapi argumen yang berlapis atau realitas yang kompleks. Kita menuntut dunia disederhanakan, yang ujung-ujungnya membuat kita terbiasa melihat segala hal lewat kacamata hitam-putih.
Sialnya lagi, industri digital hari ini memperlakukan perhatian kita murni sebagai komoditas. Algoritma tidak peduli apakah kita paham isi sebuah esai sampai tuntas. Yang mereka kejar cuma klik, durasi tayang, dan interaksi. Tulisan tidak lagi dihargai sebagai buah pikiran mendalam, melainkan sekadar umpan algoritma. Batas antara kebenaran ilmiah hasil riset bertahun-tahun dengan teks halusinasi mesin yang tampak meyakinkan menjadi kabur. Kita tidak hanya defisit pembaca, kita sedang krisis kepercayaan terhadap kata-kata itu sendiri.
Kalau lingkaran ini dibiarkan, masa depan literasi kita akan terasa sangat lucu sekaligus miris. Bayangkan skenario ini: Seseorang memakai AI untuk memproduksi tulisan panjang agar kelihatan pintar. Tulisan itu diunggah. Di seberang sana, orang lain yang malas membaca teks panjang tersebut, menggunakan AI juga untuk merangkumnya menjadi tiga poin ringkas.
Ujung-ujungnya, mesin menulis untuk dibaca oleh mesin lain. Manusia cuma jadi kurir yang sibuk mengeklik tombol salin dan tempel di antaranya. Sunyi sekali.
Menulis itu pada hakikatnya bukan sekadar memproduksi teks. Menulis adalah cara manusia mengorganisasi isi pikiran dan memperjelas apa yang berkecamuk di dalam dada. Proses memeras otak mencari satu kata yang pas itulah yang mendewasakan cara kita berpikir. Ketika proses yang melelahkan itu didelegasikan sepenuhnya ke robot, kita sebenarnya sedang sukarela membiarkan isi kepala kita menyusut.
AI memang membuat panggung menulis jadi milik siapa saja. Tapi ketika menulis tidak lagi melibatkan kontemplasi yang intim, dan membaca dianggap sebagai beban, kita harus bertanya ulang: Di dunia yang makin bising oleh teks buatan mesin ini, ke mana perginya obrolan yang jujur antarmanusia?
Selamat datang di dunia tulis-menulis era baru..hehehe. Sebuah dunia ketika penulis mengalami surplus, dan pembaca yang semakin defisit.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.