Dulu Dia Sayyid al-Mala’ikat: Tergelincir oleh Ujub di Gerbang Makrifat, Jatuh karena Hijab An-naiyah

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Pendahuluan
Cawan yang Retak di Hadapan Nur
Siapa yang menyangka, cangkir ketaatan yang selama ribuan tahun terisi penuh oleh air ibadah, bisa pecah berkeping-keping hanya karena setetes debu bernama “aku”?

Sebelum ia menjadi lambang kegelapan abadi, makhluk ini bukanlah penghuni bumi yang lalai. Ia adalah penghuni sidratul muntaha, maqam para ruh suci, seorang hamba yang dikenal sebagai Azazil, sang Sayyid al-Mala’ikat.

Kepompong ibadahnya begitu rapat, sayap dzikirnya membentang di langit lapis demi lapis.
Namun, ketika tirai gaib dibuka dan perintah sujud diturunkan kepada Adam A.S cermin tanah liat yang rapuh, di situlah rahasia batin tersingkap. Bukan kurangnya sujud yang membinasakannya, melainkan hijab ke-aku-an yang menutupi mata hatinya dari memandang kebesaran Sang Pencipta.

“Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga menurut pandangan orang banyak, padahal ia termasuk penduduk neraka…” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketika Ilmu Menjadi Dinding: Penyakit ‘Ujub di Langit

Azazil tidaklah bodoh. Ia adalah lautan ilmu, samudera makrifat. Namun, di sinilah letak rahasia kejatuhan para salik (penempuh jalan ruhani): ilmu tanpa tumpuan tawadhu (kerendahan hati) adalah racun yang mematikan.

Kemilau Ibadah yang Memabukkan : Ia merasa aman karena merasa dirinya paling taat di antara sekutu langit. Ia lupa bahwa ketaatan bukanlah hak milik, melainkan anugerah yang bisa dicabut kapan saja.

Tirai Kesombongan Tersembunyi : Di dalam relung batinnya, bersemayam rasa ujub, sebuah penyakit halus di mana seseorang melihat amalnya dengan sebelah mata, lalu melihat makhluk lain dengan pandangan merendahkan.

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi .” (HR. Muslim)

Argumen Ego di Hadapan Kalam Ilahi

Ketika titah agung turun agar ia menundukkan kepala di hadapan Adam, Azazil tidak melihat perintah itu sebagai cahaya. Ia melihatnya melalui kacamata ego dan logika materialisme ruhani:

“Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12)

Di titik ini, ia menggunakan timbangan akalnya untuk menimbang hukum Tuhan. Ia menolak kebenaran (al-haq) karena bertabrakan dengan gengsi kemuliaan asal-usul penciptaannya. Ia lupa bahwa api itu membakar dan merusak, sementara tanah itu menumbuhkan, memberi hidup, dan menyimpan sifat sabar.

Titik Balik: Dari Sayyid al-Mala’ikat Menjadi Iblis

Satu detik pembangkangan mengubah segalanya. Mahkota ketaatan lucut seketika. Namanya yang semula bermakna “hamba yang dekat” berganti menjadi Iblis, artinya: yang putus asa dari rahmat Allah.

Pergeseran Orientasi : Ibadah yang tadinya berpusat pada Allah, bergeser menjadi berpusat pada gengsi diri.

Sumpah Dendam di Ruang Sunyi : Alih-alih bersujud memohon ampun, ia memilih jalur keangkuhan. Ia meminta penangguhan usia, lalu bersumpah untuk duduk di jalan-jalan lurus Tuhan, menyesatkan anak cucu Adam dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri.

“Sesungguhnya setan berjalan di dalam diri manusia melalui aliran darah .” (HR. Bukhari & Muslim)

Khatimah: Menumbuk Ego di Cermin Tawadhu

Kisah Azazil dalam Surah Al-A’raf bukanlah sekadar dongeng masa lalu tentang makhluk bernama jin. Ia adalah cermin harian bagi setiap pejalan ruhani.
Bahwa rajinnya shalat, banyaknya wirid, dan luasnya ilmu bukanlah jaminan keselamatan akhir.

Keselamatan hanya milik mereka yang hatinya senantiasa lembut, hancur lebur di hadapan keagungan Allah, serta bebas dari rasa merasa lebih baik daripada hamba-hamba-Nya yang lain.

“Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya .” (HR. Muslim)

Penutup

Wahai jiwa-jiwa yang berjalan menuju-Nya, sudahkah engkau memeriksa kembali, apakah sujudmu karena Ilmu pengetahuan & pengalaman ( Makrifat) hari ini murni karena cinta, atau masih disusupi bayang-bayang gengsi ke-aku-an ( An-naiyah) & ujub?

Atau Para Jiwa-jiwa manusia yang ingin bertemu Allah SWT dan Surga, Ingatlah

QS. Al-Kahfi Ayat 110 : “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

QS. Al-Ankabut Ayat 5 : “Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

QS. Al-Qiyamah Ayat 22-23 : “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhankulah mereka melihat.”

QS. Al-Baqarah Ayat 46 : “(Yaitu) mereka yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Mari Kita Bakar dan Berdoa, agar Bahaya Ego “Ke-Aku-an” ( An-naiyah) yang Angkuh Sombong (Kesombongan Spiritual-ujub) yang berakar semakin banyak & dalam Ilmu pengetahuan serta pengalaman (Makrifat)

In Sya Allah, sehingga kita berhasil bertemu Allah SWT dan Surga. Subhanakallahumma wa bihamdika, ashhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (*)

Pos terkait