Menggugat Budaya Membandingkan: Menyingkap Hakikat di Balik Akhir yang Dirahasiakan ( Tinjauan Islam)

Penulis Rasyid Assaf Dongoran

Pendahuluan
Waktu terus berputar, dan manusia selalu berada dalam pusaran perubahan yang tak terduga. Seringkali, kita terjebak dalam ilusi untuk menilai seseorang secara instan berdasarkan kondisinya hari ini. Padahal, apa yang tampak di permukaan belumlah menjadi garis akhir dari sebuah cerita kehidupan.

Bacaan Lainnya

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati dan menjauhi sikap mudah menghakimi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 untuk melarang kita meremehkan orang lain:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)…”

Perputaran Hati dan Roda Kehidupan

Sikap menilai orang lain dari kondisi sesaat sangatlah rapuh karena dua alasan utama:

Kesalehan Hari Ini, Belum Tentu Khusnul Khatimah: Seseorang yang hari ini terlihat alim, rajin beribadah, dan taat menjalankan agama, bukanlah jaminan bahwa ia akan menutup akhir hayatnya dalam keadaan yang baik. Hati manusia berada di antara jari-jari Allah. Rasulullah SAW sering berdoa: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

Kekayaan dan Kemiskinan yang Sementara: Begitu pula dengan urusan dunia. Orang yang hari ini kaya raya dan berlimpah harta, belum tentu akhir kehidupannya tetap dalam kelimpahan. Sebaliknya, orang yang hari ini hidup dalam kesusahan bisa jadi kelak dimuliakan Allah dengan derajat yang tinggi.

Kondisi Ekonomi Seorang Muslim: Dunia Bukan Ukuran Surga

Dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan di sisi Allah sama sekali tidak diukur dari seberapa tebal dompet atau seberapa megah istana seseorang di dunia. Banyak orang kaya raya, namun kekayaan tersebut justru menjadi istidraj yang melalaikannya dari akhirat.

Sebaliknya, banyak pula kaum fakir miskin yang hidup dalam kesederhanaan, tetapi kelak mereka mendahului orang-orang kaya masuk ke dalam surga karena kesabaran dan kebersihan hati mereka. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir yang menentukan tiket seseorang menuju surga.

Si Miskin Jangan Iri, Si Kaya Jangan Menghina

Perbedaan status sosial antara kaya dan miskin sering kali menjadi ujian yang melahirkan penyakit hati. Islam secara tegas memberikan panduan agar kedua belah pihak saling menjaga diri:

Larangan Iri dan Hasad bagi Si Miskin: Allah SWT melarang hamba-Nya untuk berandai-andai menginginkan kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang lain secara berlebihan. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak daripada sebahagian yang lain…”

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim: “Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut untuk kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).

Larangan Meremehkan bagi Si Kaya: Orang kaya tidak boleh memandang hina orang yang kurang mampu. Sifat sombong dan merendahkan sesama adalah dosa besar. Rasulullah SAW bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim).

Infak, Sedekah, dan Rahmat Allah Penentu Surga

Terkait dengan harta, seringkali kita melihat seseorang gemar berinfak dan bersedekah dalam jumlah besar, lalu langsung melabelinya sebagai ahli surga. Tentu saja, sedekah adalah amalan mulia yang menjadi penolong, pelindung diri dari api neraka, serta penyelamat di hari kiamat, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 18.

Namun, banyaknya jumlah infak dan sedekah tidak boleh dijadikan ukuran mutlak untuk mendahului ketetapan Allah. Sedekah adalah bentuk ikhtiar, tetapi penentu keselamatan yang sebenarnya adalah Rahmat Allah SWT semata.

Landasan kuat mengenai hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadis sahih (Muttafaq ‘Alaih) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 2818).

Hadis ini menegaskan bahwa amal sebesar apa pun tidak akan mampu “membeli” surga tanpa dibarengi rahmat-Nya. Bisa jadi, hamba yang bersedekah dengan nominal kecil namun dilandasi keikhlasan mutlak justru mendapatkan curahan rahmat Allah ke surga tertinggi.

Melatih Diri Melalui Rasa Syukur

Penyakit spiritual yang kerap menggerogoti ketenangan jiwa adalah kebiasaan membandingkan pencapaian duniawi (social comparison). Islam memberikan resep agar jiwa senantiasa stabil dalam rasa syukur melalui Surah Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…”

Kunci utamanya adalah mengalihkan pandangan ke bawah dalam urusan materi dan melihat ke atas dalam urusan akhirat (HR. Tirmidzi no. 2513). Dengan prinsip ini, hati terlatih menghargai karunia sekecil apa pun tanpa perlu dengki pada gemerlap dunia orang lain.

Menjauhi Penyakit Hati dan Menyikapi Realitas dengan Doa

Menilai masa depan orang lain biasanya berpangkal dari 3 sifat tercela yang harus dijauhi:
– prasangka buruk (su’udzon) yang dilarang dalam QS Al-Hujurat ayat 12

– Ghibah (menggunjing) yang dilarang dalam QS Al-Hujurat ayat 12

– Menganggap remeh oranglain dilarang dalam QS. Al Hujurat Ayat 11

Sebagai penjagaan diri di tengah dinamika sosial dan lingkungan kerja, Islam membimbing kita menyikapi segala realitas dengan doa:

Saat Memulai Aktivitas/Kerja: Dianjurkan membaca doa bertawakal agar terlindung dari niat bermegah-megahan dunia: “Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi), serta menebar salam kepada rekan kerja.

Ketika Melihat Nikmat atau Pencapaian Duniawi Orang Lain: Ucapkanlah kalimat pengagungan kepada Allah sekaligus doa keberkahan untuk meredam rasa hasad:
“Masya Allah, laa hawla wa laa quwwata illa billah_ ” (Atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya, merujuk pada Surah Al-Kahfi ayat 39, dibarengi doa: “ _Allahumma barik fihi” (Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadanya).

Ketika Melihat Keburukan atau Musibah: Bacalah doa perlindungan: “Alhamdulillahilladzii ‘afaanii mimmaa ibtalaka bihi wa fadhdhalanii ‘ala kasim mimman khalaqa tafdhilaa” (HR. Tirmidzi).

Penutup: Menjaga Hati

Hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah perjalanan panjang menuju keabadian. Apa yang kita saksikan hari ini, apakah kesalehan yang tampak, kemilau harta yang memukau, maupun ujian kesusahan yang menimpa sesama, hanyalah babak-babak sementara dalam panggung fana.

Kita bukanlah penentu akhir dari takdir siapa pun, sementara cermin diri kita sendiri masih menyimpan banyak noda yang harus dibersihkan.

Oleh karena itu, lepaskan jubah kehakiman yang sering kali tanpa sadar kita kenakan untuk menilai sesama. Gantikan ia dengan ketawaduan, lisan yang basah dengan doa, serta hati yang senantiasa diliputi rasa syukur dan husnuzon kepada Sang Pencipta.

Karena pada akhirnya, keselamatan kita diukur dari seberapa lekat rahmat, ampunan, dan rida Allah SWT mendekap jiwa kita hingga akhir hayat.

Semoga langkah kita senantiasa berada dalam penjagaan-Nya menuju khusnul khatimah. (*)

Pos terkait