SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-8)

Produksi: Yayasan Al Farizi Nusantara

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Epsiode 8
Sasmita Sundaland: Jejak Cerdas, Padu Jiwa, Jayanys Bangsa (Tamasya Ke Sundaland – 3)

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Setelah subuh, saya berjalan santai menyusuri deretan bangunan kolonial menuju warung Nasi Uduk Legendaris Gondangdia, tak jauh dari Jalan Jambu, Menteng. Namun, khayalan menikmati sepiring nasi uduk hangat yang wangi mendadak buyar. Raungan sirene dan kepulan asap tebal memecah keheningan. Peristiwa kebakaran di Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi itu ternyata bukan musibah biasa.

Di lokasi, saya mendapat kabar bahwa asap berasal dari bentrokan warga di Jalan Tambak, Pegangsaan. Insiden maut tersebut dipicu oleh kesalahpahaman sepele terkait pelayanan penjual nasi uduk gerobak. Amarah yang tak terbendung itu berujung pada aksi pembakaran bangunan dan beberapa sepeda motor.

Seusai sarapan, saya kembali ke penginapan. Di kamar, saya mengambil iPad untuk meneruskan tulisan tentang kisah mimpi fenomenal saat penerbangan kemarin. Namun, peristiwa tragis di lapak nasi uduk tadi terus mengusik ketenangan. Pikiran saya justru terlempar jauh, menembus ruang dan waktu. Ingatan saya kembali pada detik-detik mencekam di Denpasar, Bali, bertahun-tahun silam. Sebuah peristiwa kebakaran luar biasa yang dialami oleh saudara batin saya yang kini menetap di Bogor.

Kejadiannya sudah sangat lama, saat saudara batin saya dan keluarganya sedang pulang berhari raya ke Jawa. Beliau bercerita, di tengah kehangatan acara keluarga, telepon tiba-tiba berdering kencang. Di seberang sana, seorang tetangga dari Denpasar mengabarkan dengan panik bahwa pura yang bersebelahan dengan rumah mereka sedang terbakar hebat. Sang tetangga sangat khawatir api akan ikut melahap rumah mereka karena dinding rumah menempel pagar pura.

Antitesis Dua Api: Amarah Duniawi vs Kepasrahan Ilahi

Seluruh keluarga besar masygul mendengar kabar itu. Di ambang kepasrahan mutlak, ketika seluruh ikhtiar hidup seolah akan runtuh menjadi arang, ibu dari saudara batin saya berbisik lirih, “Habislah pencarianmu selama ini, Nak.” Suasana seketika hening mencekam. Mereka hanya bisa berserah diri.

Satu jam kemudian, telepon kembali berdering. Ajaib, tetangga di Denpasar mengabarkan bahwa rumah mereka selamat. Ketika api meluluhlantakkan bangunan pura hingga rata dengan tanah, rumah mereka justru tetap tegak berdiri tanpa tersentuh api sedikit pun. Padahal, antena parabola rumahnya menjorok ke bangunan pura. Pura tersebut terbakar habis hanya dalam jarak beberapa meter saja.

Renungan tentang dua kebakaran itu terus berputar di kepala saya. Satu dipicu oleh amarah sepele di lapak nasi uduk Menteng, dan satu lagi keajaiban rumah yang luput dari kobaran api di Denpasar. Dua peristiwa itu menjadi antitesis yang sempurna tentang bagaimana manusia menyikapi api. Di Jalan Tambak, api menjadi simbol kerusakan akibat hilangnya kontrol diri dan runtuhnya rasa kebersamaan. Sementara di Bali, kepasrahan mutlak kepada Sang Creator justru melahirkan payung spiritual yang menyelamatkan materi.

Sambil menatap layar iPad, saya menyadari satu hal. Kekacauan sosial yang kita lihat hari ini, mulai dari tawuran warga hingga korupsi struktural, berakar dari satu masalah utama: kita telah kehilangan Sasmita (isyarat spiritual) dan local genius yang diwariskan oleh leluhur Sundaland. Kita menjadi bangsa yang amnesia sejarah.

Kidung Purba Sundaland: Dari Punden Berundak, Debus Banten, hingga Jejak Spiritual Nusantara

Kesadaran akan hilangnya Sasmita itu mendadak memantik kembali ingatan saya pada kilasan mimpi di pesawat kemarin. Sebelum air bah datang menggulung lalu dengan cepat menggenangi daratan—berpacu dengan pontang-pantingnya manusia purba merangsek ke tempat yang lebih tinggi—bentangan diorama kehidupan masa lalu di lembah yang luas terlihat jelas.

Baca juga:  Mengenal Barung dan Perindukan: Bukan Sekadar Membagi Anak dalam Kelompok

Sayup-sayup dari jauh, tampak noktah bercahaya dari titik-titik api yang bergerak ritmis melingkar. Semakin saya memfokuskan pandangan ke jajaran api tersebut, saya tersentuk kaget. Api itu berjalan laksana obor yang disunggi di kepala mereka, tanpa terlihat sekat sedikit pun. Bergidik seram saya memandangnya. Di titik itu, saya mencari keberadaan Dewi Pergiwa dan Pergiwati yang membawa saya masuk ke pameran raksasa Out of Sundaland, tetapi tidak berhasil mendapatinya. “Mungkin mereka sedang ada keperluan pribadi,” gumam saya dalam hati.

Kembali pandangan saya bergeser ke sudut lain jauh di bawah sana. Aneh, laksana berubah menjadi kaca pembesar, mata saya terpaku pada segerombolan leluhur kuno. Mereka terlihat jelas sedang duduk bersila, melakukan semedi dan ritual pemujaan di puncak bukit batu yang bertingkat-tingkat. Itulah struktur megah punden berundak purba. Spontan terbetik di pikiran saya, “Sebuah prototipe suci yang kelak kita kenal sebagai situs Gunung Padang”.

Di puncak tertinggi yang berselimut kabut, sekelompok resi purba menghadap ke arah langit. Mereka menghormati kekuatan raksasa di luar diri mereka. Tiba-tiba, suara angin bertiup kencang, mendesau di sela-sela pilar batu kelabu, menghasilkan resonansi suara alam yang mistis sekaligus menenangkan. Angin itu laksana kidung purba yang membisikkan nilai ketuhanan paling awal. Ritual mereka memperlihatkan bahwa alam tidak untuk ditaklukkan, melainkan dipeluk dengan rasa hormat yang intim. Kesadaran saya bangkit mengungkap makna. Nilai religiusitas inilah yang menjadi benih utama pembentuk karakter spiritual bangsa Indonesia modern; sebuah kesadaran murni bahwa ada Zat Maha Agung di atas segalanya.

Detik itu saya teringat penuturan saudara batin saya mengenai masa kecilnya ketika melihat “pohon-api”. Pikiran kekanak-kanakannya saat itu merangkai kejadian aneh di tempat tinggalnya di Desa Nyapah, Walantaka, Serang. Ia memberikan julukan “pohon-api” lantaran ada satu pohon berdiri tegak tanpa daun seperti huruf hijaiyah alif di tengah hamparan ladang luas. Orang lokal menamainya sebagai tanah perjanjian atau tanah sumpahan. Di hamparan tanah ladang yang luas tersebut, agak jauh dari pohon itu, tidak jarang di malam hari pada masa itu terlihat obor api yang bergerak membentuk lingkaran. Fenomena misterius ini laksana jembatan mistis yang menghubungkan dua dunia dari zaman yang berjarak ribuan tahun, namun terpapar nyata dan kontras dalam memori modern kontemporer.

Spontan, saya menelepon saudara batin saya di Bogor untuk mengonfirmasi kejadian aneh tersebut. Saya menekan layar ponsel, dan sesaat kemudian panggilan saya disambut oleh suara yang tak asing di telinga. Setelah berbasa-basi, saya tidak sabar untuk bertanya, “Tentang cerita masa lalu yang menginspirasi istilah “pohon-api” itu, bagaimana kenyataannya sekarang?”

Di seberang telepon, ia menjawab, “Sudah lama saya tidak pulang ke kampung, jadi belum bisa memberi gambaran yang terbaru. Namun, pernah bukan mendengar tentang pertunjukan debus Banten? Itu akar tradisi api adanya di kampung kami”. Gemetar saya mendengar tuturan itu. Dengan halus, saya pamit untuk mengakhiri sambungan telepon.

Pikiran saya seketika berkecamuk; pemandangan debus dan upacara adat api kuno yang saya lihat dalam diorama mimpi saling berkejaran, memicu rasa heran yang luar biasa. Untuk mencari pembuktian ilmiah atas sasmita gaib ini, ingatan saya melompat pada catatan visual display pameran purbakala yang pernah ditampilkan misi kesenian dari Provinsi Banten di Tong Tong Fair di Den Haag pada Mei 2010 silam.

Baca juga:  MENULIS DALAM DIAM

Saat itu saya yang sedang bertugas di sana menyempatkan diri melihat tampilan Banten. Delegasi seni tersebut menampilkan garapan budaya khas Banten, seperti debus, seni rampak bedug, dan kolaborasi tarian tradisional Sunda. Mereka penari muda mudi bergembira ria tatkala bulan dan bintang bersinar terang di malam hari menandakan panen sebentar lagi tiba. Sebuah eksibisi yang tidak hanya memamerkan benda mati, tetapi mendobrak kesadaran kita melalui tiga zona transformatif: Api, Logam, dan Navigasi Bintang.

Dapur Perundagian: Api, Logam, dan Navigasi Bintang

Kembali ke lintasan mimpi kemarin, saya disuguhi tampilan atmosfer temaram yang langsung menyergap. Atmosfer itu laksana replikasi suasana malam hari di pedalaman dan pesisir Sundaland ribuan tahun silam. Pendar cahaya merah api dari replika tungku pembakaran aktif menerangi bengkel perundagian purba. Di sana, para leluhur berjajar merangkai cetakan batu (bivalve) dan replika alat-alat logam. Jemari mereka yang terampil melebur perunggu dan menempa besi membuktikan lompatan sains yang luar biasa. Mereka bukanlah bangsa primitif yang ringkih, melainkan para pemikir, penemu, dan praktisi metalurgi yang andal.

Ketika saya menengadah, langit-langit ruangan memproyeksikan rasi bintang kuno yang bergerak lambat di atas simulasi haluan perahu purba. Angkasa malam difungsikan sebagai peta navigasi mahaluas untuk mengarungi samudra global. Lalu, terdengar suara lantang menggema meruntuhkan stigma lama: “Leluhur Sundaland bukanlah bangsa primitif yang ringkih. Jauh sebelum peradaban modern mengklaim teknologi, manusia Sundaland telah menjinakkan api. Bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan sebagai poros spiritualitas, penguasaan metalurgi, dan kompas teknologi navigasi yang menembus samudra.”

Gema suara itu belum benar-benar surut ketika atmosfer kembali dihentakkan suara petir menyambar, Duaaar! Lalu langit temaram di atas lembah Sundaland terbelah oleh kilatan cahaya merah darah. Suara lantang tadi berganti menjadi gemuruh mahadahsyat yang keluar dari perut bumi. Saya melihat bengkel-bengkel perundagian purba itu runtuh dalam hitungan detik. Rasi bintang di langit berputar kacau, kehilangan poros navigasinya.

Lalu, dari balik kegelapan sisa daratan yang belum tergenang air bah, gerombolan leluhur yang semula duduk bersila di punden berundak dan barisan noktah api yang bergerak ritmis itu mendadak berhenti. Mereka serentak menoleh. Bukan ke arah air bah yang merangsek naik, melainkan tepat ke arah mata saya. Di tengah kepanikan massal itu, sepasang mata dari salah satu leluhur kuno menyala keemasan, menatap saya dengan sasmita yang mengunci seluruh kesadaran.

Kilas Balik Masa Kecil: Isyarat Mistis Gamelan dan Anglo

Tatapan keemasan leluhur kuno itu tidak melepaskan kesadaran saya. Justru, pandangan magis tersebut menarik roh saya turun lebih dalam, menembus kabut waktu pasca-bencana, menuju sebuah era baru di mana sisa-sisa manusia Sundaland mulai menata kembali kehidupan mereka di atas daratan yang basah.

Deg! Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Sentakan spiritual ini seketika melepaskan saya dari belenggu perjalanan mimpi kemarin, namun anehnya, kesadaran saya justru terlempar pada ingatan masa kecil sendiri yang memiliki resonansi mistis serupa.

Baca juga:  JIHAD NALAR: WARISAN BUYA SYAFII UNTUK MELAWAN ILUSI DIGITAL

Seingat saya, sewaktu kelas 3 SD, saya mengalami demam panas yang tak kunjung reda meskipun beberapa kali diobatkan ke dokter. Hingga suatu pagi menjelang siang, demam kembali menyerang dan artikulasi ucapan saya terasa celat karena lidah yang memendek. Dalam situasi yang mencekam, oleh Bapak dan Ibu, saya ditidurkan di kamar beranda bagian luar rumah utama dengan diselimuti kain jarik. Entah apa alasannya, di bawah dipan tempat tidur saya diletakkan anglo berasap yang diberi sejumput kemenyan—sebuah ritual tolak bala kuno yang biasa dilakukan keluarga kami saat nalar medis mulai buntu. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar. Saya pun bertanya dalam hati, sudah dekatkah ajal?

Beberapa saat saya ditinggalkan sendirian. Suasana senyap. Namun, serasa sayup terdengar dari jauh suara sinden mendayu-dayu mendendangkan kidung diiringi suara mistis gamelan. Saya tidak bermimpi. Kesadaran saya menangkap alunan sinden yang makin mendekat. Bersamaan dengan itu, gulungan bola dunia diikuti asap abu-abu kebiruan menggelinding mendekat dari atap rumah. Secepat kilat, gulungan itu tiba di depan pintu kamar saya lalu menghilang, meninggalkan rona cahaya keemasan. Sejujurnya muncul rasa takut, tetapi raga tak mampu digerakkan sama sekali. Akhirnya saya pasrah.

Tak lama kemudian Ibu datang, lalu saya bertanya dengan sisa daya yang ada, “Suara sinden kolowau niku menopo, sinten ingkang teko?” (Suara sinden tadi itu apa, Bu, siapa yang datang?). Ibu menjawab dengan tenang sambil mengusap kening saya, “Mboten wonten swanten nopo-nopo, Le…..ora ano sopo wae sik teko” (Tidak ada suara apa-apa, Nak, tak ada siapapun yang datang).

Suasana kembali senyap. Namun, rona keemasan yang tertinggal di pelupuk mata saya sadari kini: itu adalah cahaya tatapan yang sama dari leluhur Sundaland. Lewat jembatan mistis gamelan dan asap anglo, kesadaran Jawa saya diketuk untuk mengingat kembali asal-usul persaudaraan batin nusantara yang maha luas. Sebuah kode spiritual awal yang mempersiapkan jiwa-jiwa untuk menyongsong rangkaian besar takdir zaman: Sang Ratu Adil Notonagoro, Indonesia Untuk Dunia

—–

Judul Episode 8 dibelah didapati:

Surah An-Nahl (16) Ayat 32: menjelaskan tentang orang-orang bertakwa yang dijemput ajalnya oleh para malaikat dalam keadaan suci dan beriman, serta disambut ucapan salam untuk masuk ke surga.

“Allażīna tatawaffāhumul-malā’ikatu ṭayyibīna yaqūlūna salāmun ‘alaikumudḫulul-jannata bimā kuntum ta’malūn(a)“. (QS 16: 32)

Terjemahan:
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan menyertai kalian), masuklah ke surga karena apa yang telah kamu kerjakan”.”

Tafsir Singkat:
– Husnul Khatimah: Orang-orang yang beriman dan bertakwa akan menghadapi kematian (sakaratul maut) dengan tenang karena dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan bersih dari kesyirikan dan dosa besar.
– Sambutan Malaikat: Para malaikat menyambut mereka dengan ucapan salam dan doa keselamatan (salamun ‘alaikum).
– Balasan Amal: Surga diberikan sebagai bentuk rahmat Allah serta balasan atas amal saleh dan kebaikan yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Berita Terkait

SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-4)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung Episode 4: Sang Pecalang: Merajut Kesalehan Sosial...

DOA SUNYI DISAJADAH USANG

Oleh : Moechtar Nasution Direktur Forum Lintas Studi Tulila* Kita adalah...

JANGAN MERASA SUCI, DOSAMU CUMA TERSEMBUNYI

Oleh: Moechtar Nasution Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *   Pernahkah kita...

SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-6)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung Episode 6: Tamasya Ke Sundaland: Pintu Gerbang...

MENULIS DALAM DIAM

Oleh : Moechtar Nasution Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *   Bayangkan...

Berita Terbaru