Tano Bato 1862: Hikayat Huruf Dari Tanah Mandailing-Angkola ke Tanah Jawa

Foto: Dr Zainal E Hasibuan

Oleh: Dr Zainal E. Hasibuan

Ada tanah yang menolak dilupakan, meski namanya sudah dipotong-potong oleh pemekaran. Dari Pidoli Lombang di Mandailing Natal tahun 1840 ; dari Sipirok dan Pargarutan tahun 1885 dan 1899; dari Muara Sipongi tahun 1905 dan 1908; serta dari sebuah kampung kecil bernama Tano Bato, yang pada tahun 1862 masih bernama Mandailing-Angkola dan hari ini tercatat sebagai Desa Tano Bato, Kecamatan Panyabungan Selatan, Mandailing Natal, dimana huruf-huruf pertama itu ditulis. Di sebuah gudang kopi yang disulap menjadi sekolah guru, Willem Iskander tidak sekadar mengajar membaca; ia sedang mengajari sebuah bangsa cara mengeja dirinya sendiri.

Bacaan Lainnya

Maka lahirlah Poestaha di Padangsidimpuan dengan tiras lima ratus eksemplar, Tolbok Haleon sebagai novel Angkola pertama, Sipirok Pardomoean, Boroe Tapanoeli, hingga Belenggu yang mengguncang batin Indonesia. Semua itu tidak lahir di Batavia. Semua lahir di Tapanuli Selatan dan Mandailing, dari ayah intelektual bernama Sutan Pangurabaan Pane yang kelak melahirkan tiga zaman melalui anak-anaknya: Sanusi, Armijn, dan Lafran dari Kampung Pangurabaan.

Inilah hikayat yang dijaga oleh sebuah kios kecil bernama Pustaka Timur

bahwa sebelum Indonesia pandai mencetak, Angkola sudah pandai menulis. Di sana, sastra tidak lahir di menara gading, melainkan di bekas gudang kopi. Pers tidak lahir di ibu kota, melainkan di meja kayu percetakan kota kecil.

Kisah ini dimulai jauh sebelum Indonesia disebut Indonesia.
Maret 1840, di Pidoli Lombang, Mandailing Natal, lahir seorang anak raja bernama Sati Nasution, bergelar Sutan Iskandar

Orang Belanda memanggilnya Willem Iskander. Ia dikirim menyeberang lautan untuk belajar menjadi guru kepala, dan ketika pulang, ia tidak meminta pangkat. Ia meminta izin untuk mengajar.
Maka tahun 1862, di Tano Bato, berdirilah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijzers, sekolah guru pertama di Sumatra.

Dindingnya dari papan, atapnya bocor, tapi dari sanalah cahaya pertama menyala. Willem menulis buku bacaan pertama dengan bahasa ibunya sendiri: Si Boeloes-boeloes Si Roemboek-roemboek Sada Boekoe Basaon (1872) dan Taringot di Ragam ni Parbinotoan (1873), tiga belas puisi nasihat dan delapan prosa yang pesannya sederhana: “Laho hita marsarak, marsipaingot dope au, saat kita berpisah, ingatkan anak untuk mencari kebenaran.” Ia wafat di Amsterdam pada 8 Mei 1876 dalam usia muda, tetapi murid-muridnya meneruskan api perjuangannya, salah satunya adalah Pangulu Lubis (Ja Parlindungan), yang dijuluki orang sebagai Guru Batak. Dari didikan Guru Batak itulah, dari napas Tano Bato itulah, lahir generasi kedua

Sekitar tahun 1885, di Sipirok, lahir Sutan Pangurabaan Pane. Ia adalah murid Kweekschool yang telah pindah ke Padangsidimpuan. Menguasai bahasa Batak, Melayu, Arab, dan Belanda, ia menolak bujukan Belanda untuk menjadi juru bicara guna merayu Si Singamangaraja XII.
Ia memilih menjadi guru di Muara Sipongi, lalu berhenti karena menolak penjajahan, dan banting stir menjadi wartawan.

Sutan Pangurabaan adalah pedagang hasil bumi, pengusaha bus, wartawan, sekaligus pengarang dalam satu tubuh. Tahun 1909, di atas kereta kuda antara Muara Sipongi, Padangsidimpuan, Bukittinggi, dan Sibolga, ia menulis Tolbok Haleon.

Karya ini terbit bersambung di koran Partopaan, dibukukan dalam dua jilid (1910–1911), dan terbit kembali tahun 1916. Inilah novel Batak-Angkola pertama.
Ia juga memimpin Muhammadiyah di Sipirok (1921), mendirikan koran Sipirok Pardomoean (1927) dan koran Surya di Sibolga (1931), menulis Roekoen Iman dohot Roekoen Islam (1933) dan Nasotardago (1940), serta mendirikan Bus Sibualbuali pada 1 Januari 1937. Rumahnya di Muara Sipongi adalah rahim yang melahirkan zaman

Dari rahim perkawinannya, lahirlah anak-anak yang mengubah wajah kebudayaan Indonesia

Sanusi Pane (lahir di Muara Sipongi, 14 November 1905). Penempuh pendidikan HIS, MULO, Kweekschool, dan memperdalam kebudayaan Hindu di India (1929–1930)

Kepulangannya adalah kepulangan sajak: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), drama berbahasa Belanda Airlangga (1928) dan Eenzame Garoedavlucht (1929), Madah Kelana (1931), Kertajaya (1932), Sandhyakala Ning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), terjemahan Kakawin Arjuna Wiwaha, hingga Sedjarah Indonesia dua jilid (1952). Ia wafat 2 Januari 1968 tanpa meninggalkan harta dunia, melainkan huruf yang abadi.

Armijn Pane (lahir di Muara Sipongi, 18 Agustus 1908). Alumnus AMS A-1 Sastra Barat Solo (1931) yang bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Poedjangga Baroe (1933). Ia menulis cerpen Barang Tiada Berharga (1935) dan Lupa (1936), kumpulan sajak Jiwa Berjiwa (1939), serta novel psikologis pertama Indonesia, Belenggu (1940), karya yang sempat ditolak Balai Pustaka karena terlalu berani menyelam ke dalam batin manusia, namun sukses mengguncang zamannya. Ia juga menerjemahkan surat-surat Kartini menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Lafran Pane (lahir di Kampung Pangurabaan, Sipirok, 5 Februari 1922). Di banyak buku lama tertulis 12 April 1923 di Padangsidimpuan, sebuah “luka arsip” administratif karena status kampungnya di kaki Gunung Sibualbuali saat itu berada di bawah keresidenan Padangsidimpuan

Melalui Keputusan Presiden No. 115/TK/2017, negara menetapkan tanggal lahir resminya. Dari kampung kecil itu ia berangkat ke Yogyakarta, dan pada 5 Februari 1947 mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hari ini, ia dikenang sebagai Pahlawan Nasional.
Sementara keluarga Pane merawat sastra di Muara Sipongi, di sudut lain Sipirok, pers nasional sedang disiapkan kelahirannya.

Pada 15 Desember 1899, di Pargarutan, lahir Parada Harahap. Belajar menulis di Padangsidimpuan, ia kemudian merantau ke Batavia dan dijuluki sebagai Si Raja Pers Jawa

Karyanya membentang dari Roos van Batavia (1924), buku jurnalistik pertama berbahasa Melayu Journalistiek (1924), hingga Pers dan Journalistiek (1941) dan Ilmu Jurnalistik (1952). Ia adalah satu-satunya tokoh berdarah Batak yang duduk di BPUPKI, menjadi Dekan Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik, serta guru bagi para begawan pers seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, dan Adam Malik

Perempuan Tapanuli pun tidak ketinggalan mengambil peran. Pada 10 Oktober 1940, di Padangsidimpuan, terbit Boroe Tapanoeli, koran perempuan pertama yang membuktikan bahwa aksara di Tapanuli bukan monopoli kaum lelaki.

Titik-Titik Nyala Sejarah

Pidoli Lombang (1840): Melahirkan Willem Iskander.

Tano Bato (1862): Menyalakan sekolah guru pertama di Sumatra.

Sipirok (1885): Melahirkan Sutan Pangurabaan Pane.

Pargarutan (1899): Melahirkan Parada Harahap.

Muara Sipongi (1905 & 1908): Melahirkan Sanusi dan Armijn Pane.

Kampung Pangurabaan (1922): Melahirkan Lafran Pane.

Padangsidimpuan: Pusat percetakan peradaban (Poestaha 1914, Tolbok Haleon 1916, Sipirok Pardomoean 1927, Boroe Tapanoeli 1940)

Penutup
Kini, setelah semua nama besar itu berpencar ke Jakarta dan Yogyakarta, setelah Tano Bato berubah status administratif menjadi Mandailing Natal dan Padangsidimpuan menjadi kota otonom, yang tertinggal di tanah asal hanyalah sisa lembaran di kios kecil berukuran 2×3 meter di Jalan Sisingamangaraja.

Pustaka Timur tidak mewarisi kemegahan material, melainkan debu sejarah dari Si Boeloes-boeloes (1872), Poestaha (1914), Tolbok Haleon (1916), hingga Belenggu (1940).

Namun, di situlah keajaiban itu terjaga: ketika seorang anak muda Angkola membuka kembali halaman-halaman usang tersebut, ia sadar bahwa ia bukan anak pinggiran yang baru belajar membaca, melainkan cucu kandung dari orang-orang yang pernah mengajari Indonesia cara menulis

Pos terkait