MEDAN – China mencatat tonggak baru dalam industri hiburan setelah menayangkan Beyond Wukong, serial drama berdurasi penuh yang disebut sebagai produksi pertama di negara tersebut yang sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Drama tersebut bahkan mendapatkan slot penayangan utama dan langsung menarik perhatian publik. Kehadiran Beyond Wukong menjadi sorotan karena penggunaan AI dalam industri drama China selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, seperti mengganti wajah aktor yang terlibat kontroversi agar produksi yang telah selesai tetap dapat ditayangkan.
Dikutip dari Global Times, Rabu (2/9), Beyond Wukong merupakan adaptasi yang mengambil inspirasi dari kisah klasik China dan menghadirkan babak baru dalam semesta Journey to the West.
Serial tersebut juga dilaporkan berhasil mencatat rating puncak di slot penayangannya.
Kisah Beyond Wukong
Beyond Wukong mengambil latar waktu sekitar 1.000 tahun setelah era Sun Wukong atau Kera Sakti.
Cerita berpusat pada seekor kera batu muda bernama Sun Xiaosheng yang memulai perjalanan baru untuk memulihkan tatanan kosmik.
Dari sisi visual, drama ini memadukan estetika lukisan tradisional China dengan teknologi digital modern. Pendekatan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Beyond Wukong sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi AI mulai digunakan dalam produksi drama televisi berskala besar.
Menjadi Proyek Percontohan Regulasi Baru China
Beyond Wukong juga menjadi salah satu proyek percontohan dalam penerapan kebijakan baru regulator penyiaran China yang dikenal sebagai 21 Broadcasting Guidelines.
Kebijakan tersebut mendorong proses produksi dan evaluasi konten drama televisi dilakukan secara lebih bertahap dan fleksibel melalui skema yang memungkinkan peninjauan berlangsung seiring proses penayangan.
Kehadiran drama berbasis AI ini pun memicu perdebatan di media sosial China.
Sebagian penonton memberikan apresiasi terhadap visual digital yang dinilai mampu menghadirkan kembali unsur-unsur budaya klasik China dengan pendekatan modern.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan kemampuan AI dalam menghadirkan emosi yang mendalam serta karakter yang terasa hidup.
Kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap tenaga kerja kreatif di industri film dan televisi juga ikut mencuat.
Sutradara Tegaskan Kreativitas Tetap Dikendalikan Manusia
Sutradara utama Beyond Wukong, Li Dongshen, berusaha menjawab kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa meskipun visual drama dibuat dengan bantuan AI, kendali kreatif tetap berada di tangan manusia.
Tim penulis manusia tetap bertanggung jawab dalam menentukan alur cerita, perkembangan karakter, hingga dinamika emosi dalam setiap adegan. Sementara AI digunakan terutama untuk membantu proses visual dan penataan adegan.
“Belum ada model AI untuk film yang bisa menulis naskah sendiri secara mandiri. Seluruh penciptaan tetap digerakkan dan dikendalikan oleh pemikiran serta pertimbangan estetika manusia,” ujar Li.
Menurut Li, penggunaan AI memang dapat memangkas biaya dan waktu dalam sejumlah proses produksi, termasuk perbaikan naskah yang biasanya membutuhkan anggaran besar dalam produksi film konvensional.
Meski demikian, ia menilai teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan. AI belum mampu menggantikan intuisi dan pertimbangan estetika manusia, termasuk keputusan spontan seorang juru kamera dalam menentukan apakah suatu adegan layak dipertahankan atau diubah.
Untuk menghindari persoalan hak cipta sekaligus menjaga kualitas artistik, tim produksi Beyond Wukong tetap melibatkan pengisi suara manusia dan mempertahankan tim artistik utama.
AI Mulai Masuk Industri Televisi Arus Utama
Pengamat media dari Universitas Normal Nanjing, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menunjukkan perkembangan teknologi AIGC (AI-generated content) yang mulai bergerak dari sekadar produksi video pendek di internet menuju industri televisi arus utama.
Namun, Zhang tetap melihat sejumlah kelemahan dalam produksi berbasis AI.
Menurutnya, ekspresi mikro pada karakter yang dihasilkan AI masih terlihat kaku. Perkembangan emosi para karakter juga dinilai cenderung mengikuti pola yang formulais.
AI, kata Zhang, memang mampu menciptakan dunia visual yang megah. Namun, teknologi tersebut belum sepenuhnya mampu memahami nilai-nilai mendalam seperti iman, pengorbanan, dan kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari karya sastra klasik China.
Kemunculan Beyond Wukong pada akhirnya menjadi gambaran mengenai babak baru industri hiburan China. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemampuan visual yang semakin maju. Di sisi lain, perkembangan tersebut kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai batas antara kreativitas manusia dan kemampuan mesin dalam menghasilkan sebuah karya seni.





