Saat “Gutgut” Lenyap dan Kerja Menjadi Ibadah: Salah Satu Resep Kemakmuran Tapanuli Selatan

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Tapanuli Selatan (Tapsel) adalah wilayah dengan hamparan sumber daya alam yang melimpah. Dari sektor pertanian, perkebunan, hingga potensi energi panas bumi, kabupaten ini memiliki modal dasar yang lebih dari cukup untuk menyejahterakan warganya. Namun, di balik potensi raksasa itu, ada rem tersembunyi yang sering kali melambatkan laju pembangunan: penyakit sosial bernama hasad, iri, dengki, atau dalam kearifan lokal kerap disebut sebagai sifat gutgut.

Dalam dinamika kemasyarakatan maupun birokrasi, gutgut bekerja bagai rayap. Jika setidaknya 75 persen rakyat dan pejabat di Tapanuli Selatan sepakat mengubur sifat ini dan merevolusi mentalitasnya, lompatan kemakmuran bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan kepastian dalam hitungan beberapa tahun saja.

Mengikis Gutgut di Hati dan Membuka Sumbatan Rezeki

Sifat gutgut atau dengki pada dasarnya mengendap secara tersembunyi di dalam hati. Namun, ia jarang berhenti di situ. Penyakit hati ini kerap tepercik dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, ketika warga di suatu wilayah menerima bantuan pembangunan atau program lainnya, masyarakat di tempat lain justru merasa sewot (gutgut). Padahal, ketidaksenangan atas nikmat yang didapat orang lain inilah yang menjadi salah satu penyebab utama tertundanya pintu rezeki dan kemajuan bagi daerah itu sendiri.

Ketika masyarakat atau pegawai birokrasi berkumpul dalam ruang-ruang informal maupun obrolan kantor, penyakit hati ini tercurah menjadi gosip, ghibah, dan pergunjingan. Tanpa disadari, perkumpulan yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi justru berubah menjadi tempat penumpukan dosa yang terjadi secara terus-menerus.

Dampak spiritual dan sosial dari penumpukan dosa ini sangat nyata: ia menjadi penghalang atau penyebab tertundanya rezeki, baik berupa kelancaran materi maupun nikmat kesehatan. Ketika energi publik dihabiskan untuk saling memdengkikan keberhasilan orang lain, berkah untuk daerah pun ikut tertahan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa terhalangnya keberkahan suatu wilayah sangat berkaitan dengan perbuatan dan dosa penghuninya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Allah SWT juga melarang keras sifat dengki yang tercurah menjadi pergunjingan saat berkumpul:

“…Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Bahaya dosa yang menahan pintu rezeki dan materi ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam hadis shahih:

“Sesungguhnya seorang hamba bisa terhalang dari rezeki disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad no. 22386 & Ibn Majah no. 4022, disahihkan oleh Al-Hakim)

Serta hadis shahih tentang hubungan antara silaturahmi yang bersih dari dengki dengan kelapangan materi dan kesehatan umur:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (diberi kesehatan dan keberkahan usia), hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 2067 & Muslim no. 2557)

Simbiosis Husnuzhan: Prasangka Rakyat dan Empati Pejabat

Perubahan paradigma ini mengharuskan hadirnya simbiosis mutualisme antara pemimpin dan publik. Di satu sisi, rakyat membiasakan diri berprasangka baik (husnuzhan) terhadap kebijakan pemerintahnya, selama tidak bertentangan dengan hukum, tanpa selalu terjebak dalam narasi kecurigaan dan sinisme.

Di sisi lain, pejabat tidak lagi memandang pengaduan, kritik, atau kegelisahan rakyat sebagai ancaman politik atau gangguan administrasi. Sebaliknya, setiap keluhan rakyat disambut hangat sebagai pintu emas untuk mengumpulkan pahala dan sarana menjalankan amanah kepemimpinan.

Allah SWT melarang prasangka buruk yang merusak hubungan sosial:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Sementara itu, bagi para pejabat, merespons dan melepaskan kesulitan warganya adalah jalan ibadah tertinggi sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Barangsiapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat…” (HR. Muslim no. 2699)

Mengelola Konflik: Mengedepankan Tawakal dan Ishlah demi Allah

Dalam dinamika sosial, gesekan maupun konflik antarwarga, baik sengketa lahan, perbedaan pilihan politik lokal, hingga perselisihan sehari-hari, adalah hal yang tak terhindarkan. Namun, pembedanya terletak pada bagaimana konflik tersebut dikelola. Jika perselisihan ditanggapi dengan amarah, ego, dan dendam, energi sosial Tapsel akan terkuras habis.

Sebaliknya, ketika konflik meletus, kedua belah pihak memilih untuk bertawakal serta mengedepankan perdamaian (ishlah) tulus semata-mata demi mencari keridaan Allah. Dengan demikian, perselisihan tidak akan berlarut-larut menjadi sengketa destruktif.

Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan penyelesaian konflik dengan jalan perdamaian dan kepasrahan kepada Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Serta perintah untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah dalam bertawakal:

“…Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS. At-Talaq: 3)

Langkah berdamai dan meredam keangkuhan saat konflik diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang perkara yang lebih utama daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Mendamaikan perselisihan di antara sesama …” (HR. Abu Dawud no. 4919 & At-Tirmidzi no. 2509, disahihkan oleh para ulama hadis)

Rasulullah SAW juga menjamin pahala besar bagi mereka yang mau meredam ego dan mengalah demi menghentikan konflik:

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan (perselisihan) meskipun dia berada di pihak yang benar…” (HR. Abu Dawud no. 4800, disahihkan oleh Al-Albani)

Etos Kerja Ibadah: Lompatan Nyata Menuju Kemakmuran

Langkah penutup dari revolusi mental ini adalah reorientasi niat kerja. Ketika aktivitas harian, mulai dari petani yang mencangkul sawah, guru yang mengajar di pelosok, hingga pejabat yang menyusun anggaran, diniatkan sekecil apa pun sebagai ibadah, etika kerja secara otomatis melonjak tajam. Budaya asal bapak senang atau kerja sekadar menggugurkan kewajiban akan habis terkikis.

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap tindakan dan pekerjaan manusia berada dalam pengawasan Ilahi:

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu…’” (QS. At-Taubah: 105)

Reorientasi niat ini diperkuat oleh hadis sahih mengenai pentingnya kesungguhan (itqan) dan ketulusan niat dalam bekerja:

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari no. 1 & Muslim no. 1907)

Serta komitmen profesionalisme yang dicintai Allah:

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (tekun, teliti, dan profesional).” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4929, disahihkan oleh para ulama hadis)

Kemakmuran sebuah daerah tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan ditentukan oleh kualitas modal sosial dan kesucian mentalitas manusianya.

Tapsel tidak pernah kekurangan orang pintar maupun tanah yang subur. Yang paling dibutuhkan hari ini adalah pembersihan hati secara kolektif. Jika 75 persen masyarakat dan pejabat Tapsel bersatu melepaskan belenggu gutgut, menghentikan kebiasaan menumpuk dosa saat berkumpul, mengedepankan husnuzhan, cepat berdamai (ishlah), dan menjadikan pelayanan publik serta kerja harian sebagai ibadah, pintu-pintu rezeki materi dan kesehatan akan terbuka lebar. Tapanuli Selatan akan berubah menjadi kabupaten yang makmur dan berkah hanya dalam hitungan beberapa tahun saja.

Wallahualam bishawab.

Pos terkait