Penulis : Rasyid Assaf Dongoran
Dalam panggung sejarah politik, terdapat sebuah pola konstan yang terus berulang tanpa mengenal batas ruang dan zaman: penguasa yang terancam oleh arus kebenaran kerap memilih jalan pintas. Mereka merancang rekayasa, membangun narasi palsu, hingga menumpuk tipu daya demi melanggengkan status quo.
Namun, sejarah selalu mencatat bahwa muslihat yang dibangun di atas kepalsuan pada akhirnya berbalik menjadi senjata makan tuan. Fenomena sosiologi-politik ini direkam secara presisi dan tajam dalam
Al-Quran, Surah Al-An’am ayat 123:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Wa kadzālika ja’alnā fī kulli qaryatin akābira mujrimīhā liyamkurū fīhā, wa mā yamkurūna illā bi-anfusihim wa mā yasy’urūn.
“Dan demikianlah Kami adakan pada setiap negeri orang-orang besar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya di negeri itu. Padahal mereka hanya menipu diri sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.”
Anatomi Penguasa Terdesak: Model ‘Akabir’
Frasa أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا (akābira mujrimīhā) menandai irisan berbahaya antara kapital kekuasaan dan tabiat kejahatan. Dalam konteks hari ini, kelompok ini mewakili sekumpulan elite, oligarki, patron politik, dan pemegang kekuasaan, yang menguasai akses modal, hukum, serta instrumen kekerasan yang sah.
Ketika kedudukan mereka terancam oleh arus koreksi rakyat, Al-Quran memotret bagaimana penguasa otoriter bekerja, bersikap, dan berpidato di tengah krisis:
– Cara Bekerja: Konsolidasi Tertutup dan Represi
Di ruang rapat rahasia, penguasa bekerja pragmatis untuk mematikan perlawanan lawan. Al-Quran merekam konsolidasi rahasia elite Quraisy di Darun Nadwah saat terancam oleh gerakan dakwah Nabi (QS. Al-Anfal: 30). Penguasa juga bekerja memotong jalur logistik serta menekan basis massa perlawanan agar timbul ketakutan kolektif, sebagaimana rekayasa Firaun terhadap Bani Israil (QS. Al-A’raf: 127).
– Cara Bersikap: Gertakan Hukum dan Proyeksi Kekuatan
Di hadapan publik, penguasa menolak terlihat panik. Ia memproyeksikan kekuatan melalui peragaan aparat keamanan dan gertakan hukum yang intimidatif demi menggetarkan mental lawan (QS. Al-A’raf: 124)
– Cara Berpidato: Framing Subversif dan Manipulasi Sentimen
Pidato penguasa di tengah krisis bertujuan merebut kendali narasi. Penguasa memosisikan oposisi sebagai perusak tatanan (disrupter) dan pengganggu stabilitas (QS. Ghafir: 26), sembari mengeksploitasi sentimen nasionalisme agar publik merasa terancam oleh gerakan perubahan itu sendiri (QS. Taha: 57).
Antitesis: Anatomi Penguasa Ideal Cara Islami
Sebagai tandingan dari tabiat buruk para akābir, Al-Quran menegaskan cetak biru kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai keadilan, kepemimpinan yang beretika, dan keterbukaan:
– Berlandaskan Keadilan Mutlak dan Amanah (‘Adl & Amanah)
Kekuasaan dalam pandangan Al-Quran bukanlah milik pribadi atau instrumen penumpukan modal, melainkan titipan yang wajib dipertanggungjawabkan. Penguasa ideal mengeksekusi hukum secara adil tanpa tebang pilih, tidak peduli apakah itu menguntungkan atau merugikan kelompoknya sendiri.
QS. An-Nisa: 58
> إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menyelesaikannya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil…”
– Mengedepankan Musyawarah dan Inklusivitas (Syura)
Berbeda dengan penguasa otokratis yang mengambil keputusan secara tertutup di lingkaran elit, kepemimpinan Islami dibangun di atas tradisi dialog terbuka, mendengarkan aspirasi publik, dan melibatkan elemen masyarakat.
QS. Asy-Syura: 38
> وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ…
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…”
– Integritas dan Kapabilitas Teknis (Hafīzh ‘Alīm)
Al-Quran mensyaratkan dua fondasi utama bagi seorang penguasa: integritas moral yang sanggup menjaga amanah (hafīzh) dan kedalaman ilmu atau kapasitas manajerial (‘alīm).
Kombinasi ini dicontohkan oleh Nabi Yusuf saat memimpin penyelesaian krisis ekonomi dan pangan di Mesir.
QS. Yusuf: 55
> قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Dia (Yusuf) berkata: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’”
– Komunikasi Politik Berbasis Empati dan Kelembutan (Līn)
Saat menghadapi gelombang kritik atau penentangan, penguasa yang Islami meredam ketegangan dengan kelapangan dada dan kelembutan, bukan menyulut permusuhan atau mengancam rakyatnya sendiri.
QS. Ali ‘Imran: 159
> فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ…
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…”
Tiga Babak Sejarah: Bumerang Muslihat
Peta sejarah dari era klasik hingga modern menjadi bukti sahih bagaimana hukum alam (sunnatullah) yang termaktub dalam kalimat وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ (wa mā yamkurūna illā bi-anfusihim), “Padahal mereka hanya menipu diri sendiri”, selalu bekerja secara presisi:
– Paranoia Firaun di Mesir Kuno: Firaun memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki Bani Israil demi memutus mata rantai ancaman terhadap takhtanya. Namun, rekayasa tersebut berbalik secara ironis: Musa, sosok yang paling ditakutinya, justru tumbuh dan dibesarkan di dalam istana Firaun sendiri. Pengepungan di Laut Merah yang dirancang Firaun untuk memusnahkan oposisi kelak menjadi skenario yang menenggelamkan dirinya dan seluruh pasukannya.
– Konsolidasi Darun Nadwah di Makkah: Skenario pemungkas oligarki Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad secara bersama-sama, agar keluarga Nabi tidak mampu menuntut balas ke banyak suku, berujung kegagalan total. Rekayasa itu justru memicu peristiwa Hijrah ke Madinah, titik awal konsolidasi kekuatan baru yang beberapa tahun kemudian menumbangkan dominasi elite Makkah secara mutlak.
– Skandal Watergate di Amerika Serikat (1972–1974): Di era modern, Presiden Richard Nixon dan lingkar kekuasaannya menyalahgunakan instrumen intelijen negara untuk memata-matai lawan politik, lalu membangun narasi bohong sistematis untuk menutupinya. Skenario yang dirancang untuk mengamankan kursi kepresidenan itu justru memicu krisis legitimasi parah, yang akhirnya memaksa Nixon mengundurkan diri secara memalukan.
Kebutaan Nurani dan Ilusi Kemenangan
Di sinilah letak ironi terbesar dari setiap bentuk rekayasa politik penguasa. Para pembuat muslihat kerap merasa paling cerdik saat berhasil meretas gerakan oposisi, mengelabui publik, dan memanipulasi hukum demi kemenangan taktis jangka pendek.
Padahal, kebohongan yang ditumpuk secara sistematis tidak pernah benar-benar menghancurkan kebenaran; ia hanya menumpuk kemarahan kolektif dan mempercepat pembusukan kekuasaan dari dalam. Ketika kepercayaan publik menguap, seluruh sarana rekayasa yang dibangun dengan cermat berbalik menjadi perangkap yang membinasakan rezim itu sendiri.
Penutup ayat yang berbunyi وَمَا يَشْعُرُونَ (wa mā yasy’urūn), sedang mereka tidak menyadarinya, menjadi vonis tajam Al-Quran: bahwa kejatuhan terbesar seorang penguasa diawali dari kebutaan nurani akibat keangkuhan.
Para elite terperangkap dalam ilusi propaganda yang mereka ciptakan sendiri, hingga lupa pada satu hukum sejarah yang abadi: kekuasaan yang tuna-etika selalu berakhir sebagai bumerang bagi tuannya.