SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal — Angka 1.374 anak putus sekolah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang sempat mencuat pada Agustus 2026 hingga kini belum terlihat jelas solusi konkretnya.
Hingga memasuki akhir Oktober 2026, masyarakat masih menantikan penjelasan pemerintah daerah mengenai langkah nyata untuk mengembalikan akses pendidikan ribuan anak tersebut.
Saat dikonfirmasi awak media, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Kabupaten Madina menyatakan pendataan masih berjalan dan akan disinkronkan dengan Satuan Tugas Anak Tidak Sekolah (Satgas ATS) di Bapperida.
“Sampai saat ini kami masih melakukan pendataan dan akan disinkronkan data dengan Satgas ATS,” demikian jawaban Kabid Dikdas yang menyarankan konfirmasi langsung kepada Kepala Dinas atau Sekretaris Dinas.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan hanya menjawab singkat melalui pesan singkat, Senin (26/10/2026), “Masih dalam proses.”
Jawaban tersebut belum menjelaskan target waktu penyelesaian, berapa anak yang telah ditangani, maupun program konkret yang disiapkan. Upaya menghubungi Kepala Dinas Pendidikan belum berhasil.
Dua bulan berlalu sejak data tersebut dipublikasikan, masyarakat berharap tidak berhenti pada proses pendataan. Sinkronisasi data memang penting, namun yang lebih dibutuhkan adalah penjelasan, yaitu penyebab anak-anak putus sekolah, berapa yang telah kembali bersekolah, serta program yang disiapkan, baik jalur formal maupun kesetaraan.
“Setiap anak yang putus sekolah bukan sekadar angka dalam laporan administrasi, melainkan bagian dari generasi bangsa yang membutuhkan perhatian,” tegas redaksi.
Publik kini menantikan jawaban konkret: sampai kapan pendataan berlangsung, berapa banyak yang telah ditangani, dan kapan solusi nyata mulai direalisasikan? (SN11)