SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-9)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 9:
Memori Air dan Daulat Masa Depan Nusantara (Tamasya Sundaland – 4)

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Sebagai sebuah jalinan esai reflektif spiritual bersambung, untaian narasi dalam Episode 9 ini sejatinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bentangan saujana spiritual pada Episode 7 dan Episode 8. Jika lembaran sebelumnya telah mengantarkan kesadaran kita pada gerbang pencarian makna tersembunyi di balik sandi Zaman, maka catatan kali ini mengalir bagai arus batin yang menggenapi pengembaraan jiwa tersebut. Getaran spiritual yang sempat terjedah pada episode terdahulu kini mewujud menjadi kesadaran kosmik yang utuh, mengikat ingatan masa lalu dengan daulat masa depan Nusantara. Di sinilah kelanjutan ziarah batin itu menemukan muaranya, di mana setiap jengkal ruang dan waktu saling bertautan tanpa sekat.

Hampir seminggu terbaring sakit di jaman masih anak-anak, kekuatan tubuh saya akhirnya pulih. Langkah kaki kembali mantap dan selera makan pun kembali lahap. Namun, ada sesuatu yang mengendap dan berubah di dalam kesadaran saya sejak momen itu. Di balik kesembuhan fisik, ada sebuah pengalaman reflektif yang membekas kuat. Saat tubuh masih lemah—setelah melihat seberkas cahaya kuning keemasan yang misterius di siang hari—saya mendadak karib dengan siaran wayang kulit di Radio PTPN Surakarta. Pada awal 1970-an, stasiun ini adalah oase budaya Jawa yang sangat dinanti masyarakat. Ketika raga ini benar-benar bugar, sebuah pengalaman tak terlupakan telah menanti: kami sekeluarga naik bemo menuju Sriwedari untuk menonton Wayang Orang. Seiring waktu, ketertarikan pada jagat pewayangan ini beresonansi erat dengan jalinan perjalanan hidup dan cara saya memandang dunia.

Dari sekian banyak kisah, lakon Arjuna Sasrabahu adalah yang cukup melekat di ingatan. Kisah ini menyoroti kesaktian Prabu Arjuna Sasrabahu yang melakukan triwikrama menjadi raksasa bertangan seribu demi membendung aliran Sungai Narmada. Semua itu dilakukan hanya agar permaisurinya, Dewi Citrawati, dapat mandi dengan kemewahan. Namun, keegoisan membendung sungai ini membuat air meluap dan membanjiri daerah hulu. Perkemahan Dasamuka, Raja Alengka yang sedang berburu di wilayah hulu, ikut terendam akibat air yang tertahan dan meninggi. Banjir mendadak itu membuat para punggawa dan prajurit raksasa pontang-panting menyelamatkan diri dari amukan air bah. Mitos ini menanamkan pengertian awal dalam diri saya: air senantiasa menuntut ruangnya, dan keegoisan kekuasaan sering kali memicu katastrofe bagi sesama.

Romansa masa kecil dan memori mitologis itu mendadak berkelindan dengan kesadaran masa kini. Saat merenung, saya teringat kembali pada mimpi berasa sangat jelas dan hidup (vivid dream) yang hadir dalam penerbangan tempo hari. Dalam bayangan mimpi tersebut, jeritan manusia dan hewan yang diterjang air bah menggema, bersahutan dengan deru pohon yang tumbang dihantam ombak. Pemandangan pilu itu begitu nyata hingga membuat siapa pun yang melihatnya bergidik. Seolah takut kehilangan momentum refleksi tersebut, muncul keinginan kuat dalam diri untuk segera mengabadikan seluruh jalinan ingatan ini ke dalam catatan digital yang sedang saya genggam.

Dari Mitos Menuju Realitas Geologis

Banjir besar ternyata tidak hanya hidup dalam mitologi Jawa. Kisah serupa dalam skala global yang diyakini sebagai sejarah iman pun melintas dalam ruang kontemplasi: kisah Nabi Nuh. Dalam narasi suci tersebut, air bah bukan sekadar dampak keegoisan seorang raja, melainkan cara sakral untuk membersihkan bumi purba dari kerusakan moral. Baik drama politik Arjuna Sasrabahu maupun riwayat profetik Nabi Nuh sama-sama menggunakan air sebagai simbol kekuatan mahabesar yang mampu mengubah arah peradaban dalam sekejap.

Baca juga:  JIHAD NALAR: WARISAN BUYA SYAFII UNTUK MELAWAN ILUSI DIGITAL

Menariknya, apa yang digambarkan oleh mitos sastra dan kisah keagamaan tersebut menemukan titik temu yang rasional dalam catatan sejarah bumi. Dalam konteks geologi riil, fenomena “tenggelamnya sebuah wilayah” bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur. Jutaan tahun setelah pembentukan bumi, wilayah subur yang kita kenal sebagai Sundaland benar-benar lenyap ditelan air. Pakar geologi kenamaan, Prof. Danny Hilman Natawidjaja, menyebutkan bahwa ada kemiripan visual hingga 95% antara karakteristik benua Atlantis yang ditulis filsuf Plato pada abad ke-4 SM dengan wilayah Sundaland di Indonesia. Hal tersebut ia ungkapkan saat menjadi bintang tamu dalam sebuah tayangan podcast.

Dhani Irwanto, seorang peneliti hidrooseanografi dan sejarah, mengemukakan hipotesis ilmiah mengenai dinamika bumi ini. Ia menjelaskan bahwa puncak kepunahan massal populasi terjadi pada akhir periode Dryas Muda, sekitar 11.600 tahun lalu. Katastrofe geologis tersebut menyapu bersih kebudayaan pesisir dan menghapus sebagian besar populasi manusia di dataran rendah Sundalandia. Kenaikan permukaan air laut sejak 19.000 hingga 5.500 tahun lalu akhirnya menenggelamkan landas kontinental Sundalandia yang rata. Peradaban maju purba yang telah membangun permukiman kini terkubur di bawah air laut, sedalam 30 meter atau lebih di sekitar perairan Pulau Jawa saat ini. Namun, berbeda dengan banjir Sungai Narmada atau air bah Nabi Nuh yang bersifat katastropik seketika, tenggelamnya Sundaland adalah fakta ilmiah yang terjadi secara bertahap akibat kenaikan permukaan air laut pascaglasial atau mencairnya es kutub secara masif.

Melalui jembatan logika ini, kita dapat melihat bahwa memori kolektif manusia tentang air—baik lewat mitos Arjuna Sasrabahu, iman petunjuk Nabi Nuh, maupun sains Sundaland—selalu berbicara tentang ketidakberdayaan manusia di hadapan daulat alam. Pada akhirnya, ingatan masa lalu ini adalah peringatan nyata bagi masa depan Nusantara. Tanda-tanda zaman lewat amukan air dan perubahan iklim global hari ini menuntut kita untuk satu hal: kembali tunduk pada Sang Maha Pencipta dan bijak bersahabat dengan alam.

Masa Lalu: Rahim Katastrofi dan Evolusi Maestro Bahari

Kembali ingatan saya menapaki perjalanan mimpi yang lalu, memasuki sebuah zona transisi semigelap. Ke arah bawah terlihat proyeksi pemetaan batimetri Laut Jawa dan Selat Malaka yang menampakkan garis pantai Sundaland yang perlahan tenggelam, menyisakan gugusan pulau Nusantara. Menengadah ke atas, terlihat rasi bintang Waluku dan Pari yang menjadi panduan arah purba. Terdengar atmosfer suara yang didominasi oleh gaung sonar bawah air yang ritmis, bersahut-sahutan dengan deru ombak samudra luas, lalu sayup mengalun petikan dawai sasando yang magis serta melankolis. Visualisasi bawah sadar ini menegaskan sebuah sintesis yang saya ketikkan di atas jemari: sebuah realitas sejarah bahwa air yang menenggelamkan Sundaland tidak pernah benar-benar menghapus peradaban kita, melainkan melahirkannya kembali dalam wujud yang baru.

Ketika daratan mahaluas Zaman Es Akhir itu runtuh dan berubah menjadi kepulauan ( _archipelago_ ), leluhur kita tidak meratap atau mengutuk takdir sebagai bangsa yang terisolasi. Di atas puing-puing tanah yang karam, mereka melakukan transformasi peradaban yang luar biasa dengan mengubah cara pandang geomaritim: laut bukan lagi pemisah, melainkan urat nadi yang mempersatukan. Dari rahim katastrofi inilah, manusia Sundaland dipaksa melakukan lompatan teknologi perkapalan dan navigasi yang adaptif hingga berevolusi menjadi maestro bahari.

Perahu cadik yang mereka rakit dari ingatan masa lalu menjadi kendaraan kosmik yang menembus batas samudra. Mereka membawa komoditas rempah, filsafat hidup, dan spirit keratuan hingga ke Madagaskar dan pulau-pulau terjauh di Pasifik. Krisis lingkungan terbesar dalam sejarah manusia ini justru menjadi pemicu lahirnya globalisasi purba lewat jalur maritim. Ini membuktikan bahwa konsep poros maritim bukan sekadar jargon politik modern, melainkan kode genetik ekonomi-politik yang sudah dipraktikkan sejak masa pra-aksara.

Baca juga:  Mengenal Barung dan Perindukan: Bukan Sekadar Membagi Anak dalam Kelompok

Kala Fajar Kerajaan Nusantara Menyingsing

Peradaban agung Nusantara—dari sistem keratuan purba hingga kemegahan Sriwijaya dan Majapahit—tidak lahir dari ruang hampa atau sekadar darah penaklukan, melainkan berdiri kokoh di atas fondasi kebudayaan adaptif Sundaland. Garis waktu sejarah mencatat bahwa kemegahan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, hingga Majapahit merupakan buah evolusi langsung dari kecerdasan membaca alam tersebut.

Sistem sosial awal kita yang berbasis kepemimpinan organik (primus inter pares atau yang utama di antara sesama), manajemen air komunal di ekosistem lahan basah, dan pasar barter yang setara tanpa eksploitasi, perlahan bermutasi menjadi sistem keratuan dan kerajaan yang inklusif. Hubungan kemitraan ini mewujud dalam sebuah kontinuitas budaya, di mana kemegahan masa sejarah ditenun dari benang-benang kearifan zaman prasejarah.

Melalui sintesis memori kolektif ini, kita dapat memahami sejarah bukan sebagai fragmen yang terpisah-pisah antara prasejarah, masa Hindu-Buddha, Islam, hingga kolonial, melainkan sebagai satu garis lurus evolusi kesadaran bangsa. Oleh karena itu, masuknya pengaruh luar seperti aksara India atau agama-agama dunia tidak serta-merta melunturkan identitas lokal. Pengaruh tersebut diserap dan dimodifikasi secara aktif melalui kecerdasan lokal ( _local genius_ ) menjadi ciri khas Nusantara yang mandiri.

Hal ini juga berlaku pada aspek spiritualitas. Memori kolektif leluhur jauh telah mengenal konsep Keesaan Tuhan (Sang Hyang Tunggal) melalui desakralisasi mitologi. Akibatnya, monoteisme fitrah ini membuat kehadiran agama-agama besar selanjutnya diterima dengan damai sebagai penyempurna nilai luhur yang telah lama berakar di tanah air.

Membuka Mata di Atas Langit Nusantara

Namun, di manakah kita hari ini ketika memori tentang air itu mulai memudar?
Kesadaran saya perlahan ditarik kembali ke realitas. Saya sepenuhnya terjaga dari simulasi mimpi prasejarah, tepat saat untaian alur mimpi itu berangsur-angsur terputar ulang. Pengumuman kabin pesawat ketika itu berbunyi, menandakan burung besi ini bersiap mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Dari balik jendela kaca saya memandang bentang daratan Jakarta dan Jawa yang terhampar di bawah sana. Sebuah kontras yang tajam menyeruak: kita menyaksikan bangsa hari ini kerap memunggungi lautnya sendiri. Kita mengemis keadilan di atas tanah yang subur, sementara kekayaan bahari dan sumber daya alam kita kerap tergerus oleh egoisme global serta regulasi yang mandul. Kita perlahan melupakan jati diri sebagai pewaris dinasti air yang mandiri.

Pameran sejarah dalam ingatan itu bukan sekadar romantisasi masa lalu yang beku di dalam etalase kaca. Ia adalah sebuah alarm visual yang bising. Jika ribuan tahun lalu leluhur kita mampu bangkit dari tenggelamnya sebuah benua dengan modal kecerdasan lokal dan solidaritas organik, maka sungguh naif jika hari ini kita karam dalam arus modernitas hanya karena kehilangan kompas moral dan rasa percaya diri sebagai bangsa yang merdeka.

Ingatan saya kembali melintas pada fragmen mimpi terakhir saat dihadapkan pada diorama Out of Sundaland Siluet pola kehidupan manusia kuno berselang-seling dengan aktivitas keseharian mereka yang tenteram. Namun mendadak, gelegar suara alam bergemuruh diikuti runtuhnya tebing. Muncul kepanikan akibat gempa besar; gemuruh terjangan air bah terulang kembali. Dalam suasana bencana menegangkan itu, saya menoleh mencari keberadaan pemandu yang biasa setia mendampingi dari jauh: Dewi Pergiwa dan Pergiwati. Dua sosok yang membawa saya melintasi gerbang studio raksasa Out of Sundaland yang saat itu dijejali manusia meringsek ke pintu gerbang itu kini tidak kudapati keberadaannya.

Baca juga:  MENULIS DALAM DIAM

Secepat suasana berubah menjadi jerit ketakutan yang membuat saya terpaku, di depan mata sebuah istana indah berlapis emas hanyut terbawa gerakan tanah, dilahap air bah, lalu tenggelam. Dalam kepanikan itu, sekelebat pemandu yang saya cari tiba-tiba berjalan mendekat ke arah saya. Mereka melangkah anggun beriringan, tetap mengenakan siger Sunda. Namun sejurus kemudian, saya terpukau sekaligus tertegun: wajah reflektif yang saya lihat pada sosok Dewi Pergiwa adalah wajah dari saudara batin saya yang intens berkomunikasi yang tinggal di Bogor, Bunda Yaspi.

Dalam ketermanguan itu, sebuah kesadaran batin melintas: kita adalah bagian langsung dari masa lalu yang karam itu. Pameran sejarah dalam ingatan ini bukan sekadar romantisasi masa lalu yang beku di dalam etalase kaca, melainkan sebuah alarm visual yang bising. Jika ribuan tahun lalu leluhur mampu bangkit dari tenggelamnya Sundaland dengan modal kecerdasan lokal, sungguh naif jika hari ini kita karam dalam arus modernitas hanya karena kehilangan kompas moral. Di sinilah relevansi Ruwatan Moral Bangsa mendesak untuk dilakukan. Ruwatan ini bukan ritual mistis kosong, melainkan sebuah purifikasi kolektif untuk memulihkan kesadaran spiritual dan karakter bangsa yang telah bergeser. Melalui ruwatan moral inilah, energi kepemimpinan masa depan yang berkarakter Ratu Adil atau konsep Jangka Notonagoro akan terpicu untuk lahir.

Meskipun dalam diskursus kontemporer porsi pembahasan eskatologi Ratu Adil dan struktur Notonagoro ini sering kali kurang tereksplorasi secara eksplisit dan kerap dianggap mitos belaka, ada garis merah yang sangat tegas antara bangkitnya memori kolektif Sundaland dengan datangnya era baru tersebut. Trauma dan kejayaan masa lalu yang tersimpan dalam memori Sundaland adalah bahan bakar spiritualnya. Ketika bangsa ini kembali “membuka mata di atas langit Nusantara” dan mengingat jati diri kebahariannya, kerangka Notonagoro akan mewujud nyata bukan sebagai ramalan pasif, melainkan sebagai tatanan kepemimpinan yang berdaulat, adil, dan sinkron dengan hukum alam Nusantara.

——

Judul Episode 9 dibelah didapati:

QS. Surat At-Taubah (9) Ayat 27: menjelaskan bahwa Allah SWT akan menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya setelah terjadinya ujian atau peristiwa sebelumnya.

“kaifa yakûnu lil-musyrikîna ‘ahdun ‘indallâhi wa ‘inda rasûlihî illalladzîna ‘âhattum ‘indal-masjidil-ḫarâm, famastaqâmû lakum fastaqîmû lahum, innallâha yuḫibbul-muttaqîn”.(QS: 9: 27)

Artinya:
Bagaimana mungkin ada perjanjian (damai) untuk orang-orang musyrik di sisi Allah dan Rasul-Nya, kecuali untuk orang-orang yang kamu telah membuat perjanjian (Hudaibiah) dengan mereka di dekat Masjidilharam? Selama mereka berlaku lurus terhadapmu, berlaku luruslah pula kamu terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.

Kandungan & Tafsir:
– Pintu Tobat Selalu Terbuka: Ayat ini turun setelah pembahasan mengenai Perang Hunain. Meskipun sebagian kaum musyrik saat itu menentang Islam dengan keras, Allah menegaskan bahwa pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali ke jalan yang benar secara tulus.
– Penghapusan Dosa: Ketika seseorang mendapatkan hidayah lalu memeluk Islam dan meninggalkan kesyirikan, maka seluruh dosa masa lalunya akan diampuni dan dihapus.

Berita Terkait

DOA SUNYI DISAJADAH USANG

Oleh : Moechtar Nasution Direktur Forum Lintas Studi Tulila* Kita adalah...

JANGAN MERASA SUCI, DOSAMU CUMA TERSEMBUNYI

Oleh: Moechtar Nasution Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *   Pernahkah kita...

SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-4)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung Episode 4: Sang Pecalang: Merajut Kesalehan Sosial...

SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-6)

Esai Reflektif Spiritual Bersambung Episode 6: Tamasya Ke Sundaland: Pintu Gerbang...

Mengenal Barung dan Perindukan: Bukan Sekadar Membagi Anak dalam Kelompok

Oleh: (Ade Azmil Azhary Nasution – Pelatih Pembina Pramuka) “Di...

Berita Terbaru